PojokTIM – Laki-laki itu asyik mengisap rokok di bangku kantin dalam kompleks Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Jakarta Pusat, seolah-olah tidak terganggu aktivitas sekitar. PojokTIM menyambangi dan berbincang cukup lama – saat dingin Februari menuju akhir.
“Sedang menunggu istri,” kata Uyung Mahagenta, pemusik low profile itu yang namanya terpatri kuat di blantika world music. Mengutip kamus Merriam-Webster definisi world music atau musik dunia adalah musik populer yang berasal dari atau dipengaruhi oleh tradisi musik non-Barat dan sering kali memiliki ritme yang dapat ditarikan.
Uyung, bersama Padepokan Mahagenta yang didirikan, tetap mencipta dan mengaransemen serta mementaskan karya-karya musiknya, dalam kondisi apa pun termasuk saat pandemi Covid-19. Saat ini Padepokan Mahagenta sedang bersiap untuk menggelar pagelaran di Graha Bakti Budaya (GBB) TIM.
“Tadi sudah berkoordinasi dengan Dewan Kesenian Jakarta agar bisa konser tunggal di GBB tanggal 8 November 2025, sekalian perayaan ulang tahun Padepokan Mahagenta,” ujar Uyung.
Kolaborasi musik tradisional dan konvensional yang diusung Mahagenta memberikan warna tersendiri bagi kekayaan musik di Indonesia. Uyung cukup percaya diri mencipta musik dengan sentuhan etnik nusantara di tengah pengaruh budaya Barat yang menggerus nilai-nilai budaya ketimuran, dan menolak stagnan pada bentuk musik yang sudah ada. Uyung terus mengeksplorasi segala bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik tradisional dari berbagai daerah.
Pengalaman, dedikasi dan kecintaannya pada musik dibahas tuntas oleh Uyung Mahagenta pada Rabu (20/2/2025) sore. Berikut petikannya:
Bisa dijelaskan lebih jauh tentang genre world music yang diusung Mahagenta?
Saya menggabungkan beberapa alat musik tradisional dan konvensional dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Ada sitar India, kecapi China. Kalau dari musik tradisional Indonesia ada sasando, talempong, bonang, macam-macamlah. Inilah yang disebut world music, sebuah aliran atau genre musik yang sudah dikembangkan sejak tahun 1960-an. Di Indonesia juga sudah banyak musisi beraliran world music seperti Mas Djaduk (Ferianto), Irwansyah Harahap, Rafly Kande. Untuk grup musik ada Krakatau Band, dan lain-lain.
Apakah mahagenta memainkan lagu yang sudah ada, atau menciptakan lagu dan mengaransemen musik sendiri?
Mahagenta menciptakan musik sendiri. Kadang disesuaikan dengan kebutuhan pentas. Misalnya kami akan pentas dengan tema Tera Katulistiwa, maka lirik-liriknya kita dekatkan dengan kekayaan seni budaya Indonesia.
Di mana kekuatan musik Mahagenta?
Aransemennya selalu inovatif, berangkat dari kekayaan yang ada di sekitar kita, kekayaan lokal, tidak mengutip dari luar. Karena di seputar kita banyak hal-hal menarik yang belum dieksplorasi oleh pemusik lain.
Musik Mahagenta juga selalui inovatif, kekinian, dan penuh dengan gagasan-gagasan brilian yang merupakan hasil dari kontemplasi. Banyak yang menggarap musik bertele-tele, lama, usang dan membosankan. Sementara musik Mahagenta, singkat, padat dan jelas.
Pernah kolaborasi dengan grup musik lain?
Sudah sering Mahagenta melakukan kolaborasi dengan hampir semua grup musik selebritis, grup band anak-anak sekarang, seperti Ungu, Nidji. Pernah juga bersama penyanyi Agnez Monica.
Sudah berapa album yang dibuat Mahagenta?
Sejak berdiri tanggal 11 November 1996, Mahagenta sudah merilis 2 album. Saat ini sedang prepare untuk 3 album sekaligus karena kami punya utang album. Kebetulan sudah ada 30 lagu, jadi rencananya 1 album berisi 10 lagu.
Bagaimana proses penciptaan lagu-lagu Mahagenta? Apakah sudah ada liriknya dulu baru diciptakan musiknya?
Prosesnya macem-macem. Ada yang terinspirasi dari alat musik, misal kecapi. Maka musik dari kecapi yang saya ciptakan dulu sebagai latar belakang. Kemudian tema dan liriknya menyusul. Kalau berdasarkan kebutuhan pementasan, maka liriknya dulu yang digarap agar sesuai dengan tema.
Berapa anggota Mahagenta?
Kalau yang menginap di sanggar ada 6 orang. Sementara tim intinya ada 16 orang. Saat pementasan biasanya melibatkan 100-an orang, berikut penari, penata lampu dan lainnya.
Pernah menggelar pentas di mana saja?
Seringnya pentas di TIM dan kantor kedutaan-kedutaan besar yang ada di Jakarta. Mahagenta juga sering diundang untuk pentas di even-even nasional seperti PON (Pekan Olahraga Nasiona). Kalau pentas di luar negeri, terakhir di Tokyo, Jepang.
Kapan terakhir pentas di TIM?
Tahun lalu Mahagenta pentas di Teater Besar. Temanya The Beat of Batavia. Tahun ini akan pentas lagi di TIM, untuk merayakan ulang tahun Padepokan Mahagenta dan kebetulan berdekatan dengan ulang tahun TIM. Prinsipnya, setiap tahun Mahagenta selalu menggelar konser, tidak pernah absen selama 28 tahun.
Bagaimana perkembangan kualitas musik saat ini?
Sekarang kualitas diterjemahkan berbeda. Kalau dulu kualitas ditentukan oleh originalitas, kompelksitas, dan lain-lain. Sekarang saya lihat, ada penilaian bahwa yang berkualitas adalah yang banyak like di media sosial. Padahal yang banyak mendapat like di medsos belum tentu baik secara kualitas.
Apa sisi positif dan negatifnya kehadiran medsos bagi perkembangan musik?
Saya belum melihat sisi positifnya. Justru berdampak pada menurunnya value. Memang semua jadi mudah dijangkau, namun value-nya makin menurun, baik secara nominal maupun kualitas sehingga tukar-tambahnya tidak sepadan.
Bagaimana dengan animo penonton?
Ada penurunan yang signifikan. Meski penonton Mahagenta sudah terbangun, namun jumlahnya terus menurun. Salah satu penyebabnya karena tidak ada regenerasi penonton akibat ekosistem kesenian tanah air yang hanya fokus pada entertain.
Ada cara pandang dan pemahaman yang salah di tengah masyarakat, dan juga pemerintah, bahwa kebudayaan dan seni merupakan produk entertain, sebagai hiburan semata. Padahal kebudayaan dan seni merupakan produk ilmu pengetahuan. Karena telah salah dalam memahami esensinya, maka kebijakan yang dibuat pemerintah pun selalu keliru.
Apa yang dilakukan Mahagenta untuk mempertahankan penonton, atau bahkan menarik penonton baru?
Melalui karya-karya yang inovatif tanpa terjebak pada selera pasar. Mahagenta terus memperkuat jati dirinya sebagai world music yang menawarkan ilmu pengetahuan, bukan sekedar hiburan.
Bagaimana dengan perhatian pemerintah bagi perkembangan world musik yang mengangkat kekayaan budaya tanah air?
Tidak ada peran sama sekali. Nol besar. Pemerintah berperan sebagai pemerintah saja tidak bisa, apalagi berperan sebagai seniman, pekerja seni. Jika pun ada dukungan, nilainya sangat kecil, 0 koma.
Apa harapan pada pemerintah?
Tidak ada yang diharapkan dari pemerintah. Kita bukan pengemis yang minta duit pemerintah. Ibaratnya, kita mau ikan, bukan lo ngasih kail, bukan lo ngasih perahu, tapi ciptakanlah lautannya. Pemerintah harus bisa menciptakan lautannya agar kita bisa mencari ikan.
Jujur, belum lama ini saya dibantu Rp 2 miliar oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) untuk sarana ruang kreatif. Namun saya justru mengimbau agar pemerintah menghentikan hal-hal semacam itu karena tidak mendidik. Kalau model seperti itu diteruskan, pertanyaannya sampai kapan pemerintah sanggup memberikan bantuan, dan berapa banyak (grup) yang bisa dibantu? Beda hal jika pemerintah menciptakan lautannya. Semua orang, semua grup musik, akan berkreasi untuk mendapatkan ikannya.
Bagaimana perkembangan world music di Indonesia?
Kurang begitu menggembirakan. Saya mengamati di Jogya, gairahnya tidak seperti dulu. Oke, teman-teman di Malaang ada kegairahan, tapi pencapaian wilayah aransemen masih agak minim. Jakarta sendiri, masih senin-kamis. Bertahan hanya untuk mencari nominal, cari job.
Kehadiran anak-anak muda di world music baru sebatas ngramein. Belum ada ketertarikan yang serius, apalagi menjadi kebutuhan. Namun ini bukan sepenuhnya salah mereka. Kita, pelaku seni, jangan hanya menyalahkan masyarakat ketika penonton sepi. Mestinya justru menjadi momentum bagi pelaku seni untuk introspeksi diri dengan menciptakan karya-karya yang lebih bagus.