Oleh: Rissa Churria

Pada 21 Februari 2025, Aula PDS HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, menjadi tempat berlangsungnya peluncuran dan diskusi buku Cerita Anak Indonesia yang diterbitkan oleh Komunitas Taman Inspirasi Indonesia (TISI). Acara ini menghadirkan berbagai tokoh sastra anak, di antaranya Kurnia Effendi, Fanny Jonathan Poyk, dan Octavianus Masheka sebagai pembicara, dengan Swary Utami Dewi sebagai moderator. Sejumlah pembaca juga turut membacakan cerita dari buku tersebut. Diskusi yang berlangsung mengungkap berbagai tantangan dalam penulisan sastra anak, terutama terkait kurangnya empati dalam memahami dunia anak yang tercermin dalam banyak karya sastra saat ini.
Perjalanan Komunitas Taman Inspirasi Indonesia dalam Sastra Anak
Dalam sesi diskusi, Octavianus Masheka menjelaskan bahwa Cerita Anak Indonesia merupakan buku keempat yang diterbitkan oleh TISI. Komunitas ini terus berupaya menghadirkan sastra anak berkualitas meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam dunia literasi anak. Buku ini hadir sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah sastra anak Indonesia di tengah perubahan zaman dan dinamika literasi.
Namun, meskipun jumlah buku cerita anak semakin bertambah, tantangan dalam memastikan kualitasnya tetap tinggi masih menjadi persoalan. Kualitas cerita anak tidak hanya diukur dari penggunaan bahasa yang sederhana atau tema yang menarik, tetapi juga dari sejauh mana cerita tersebut dapat mencerminkan dunia anak dengan autentik.

Tantangan Kurasi: Bahasa Dewasa dalam Cerita Anak

Fanny Jonathan Poyk, sebagai kurator buku, menyoroti tantangan utama dalam proses seleksi naskah, yaitu kecenderungan penulis menggunakan bahasa dan perspektif orang dewasa dalam cerita anak. Akibatnya, banyak cerita yang lebih mencerminkan sudut pandang penulis daripada pengalaman anak-anak itu sendiri.
Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia sastra anak. Perry Nodelman, pakar sastra anak, dalam teorinya tentang child-oriented storytelling, menekankan bahwa penulis harus memahami bagaimana anak berpikir, berbicara, dan memproses dunia sekitarnya. Ketidaksesuaian dalam penceritaan menyebabkan cerita anak cenderung menjadi alat pengajaran moral yang bersifat didaktik, daripada menjadi cerminan dunia anak yang penuh keajaiban dan imajinasi.

Pentingnya Workshop Sebelum Menulis Cerita Anak

Kurnia Effendi menekankan perlunya pembekalan bagi penulis sebelum mereka mulai menulis cerita anak. Ia menyarankan agar para penulis mengikuti workshop yang membantu mereka memahami dunia anak-anak secara lebih mendalam. Menurutnya, menulis cerita anak bukan hanya soal menyederhanakan bahasa, tetapi juga tentang masuk ke dalam imajinasi dan emosi anak-anak.

Pandangan ini sejalan dengan teori Vivian Gussin Paley dalam bukunya The Boy Who Would Be a Helicopter, yang menekankan bahwa anak-anak memiliki cara berpikir dan mendongeng yang berbeda dari orang dewasa. Oleh karena itu, seorang penulis cerita anak harus mampu menangkap esensi dunia anak agar cerita yang dihasilkan benar-benar menggugah dan relevan.

Mati Surinya Empati terhadap Cerita Anak

Tema diskusi “Mati Surinya Empati terhadap Cerita Anak” menjadi sangat relevan ketika melihat bagaimana banyak cerita anak yang masih ditulis dari sudut pandang yang kurang memahami dunia anak. Dalam sastra anak, empati bukan hanya berarti memahami perasaan anak, tetapi juga masuk ke dalam pola pikir dan imajinasi mereka. Jika penulis tidak mampu melakukan hal ini, maka cerita anak akan kehilangan daya tarik dan hanya menjadi alat penyampaian pesan moral tanpa menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan.

Jean Piaget, dalam teori perkembangan kognitifnya, menjelaskan bahwa anak-anak berada dalam tahap berpikir konkret dan imajinatif. Oleh karena itu, cerita anak seharusnya mampu mengakomodasi dunia mereka yang penuh warna dan keajaiban, bukan sekadar menyampaikan pesan moral dalam gaya komunikasi orang dewasa. Jika empati terhadap dunia anak tidak ditanamkan dalam proses penulisan, maka sastra anak akan kehilangan fungsinya sebagai media yang membangun imajinasi dan karakter anak-anak.

Membangun Sastra Anak yang Lebih Baik

Diskusi ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam dunia sastra anak di Indonesia. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas cerita anak di masa depan meliputi:

1. Pelatihan bagi penulis – Mengadakan workshop yang dirancang khusus agar penulis dapat memahami dunia anak-anak secara lebih mendalam.

2. Pendekatan psikologi perkembangan anak – Menggunakan teori perkembangan anak untuk menciptakan cerita yang sesuai dengan cara berpikir dan daya imajinasi anak-anak.

3. Pemberdayaan kurator sastra anak – Kurator tidak hanya menilai naskah, tetapi juga memberikan masukan yang lebih komprehensif agar cerita benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.

Peluncuran Cerita Anak Indonesia menjadi momen refleksi penting bagi dunia sastra anak di Indonesia. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia anak-anak serta empati yang lebih besar dalam proses menulis, diharapkan sastra anak di Indonesia dapat terus berkembang dan semakin relevan bagi generasi muda.

Bagikan ke Media Sosial
<p>Hubungi Admin Jika Ingin Meng-copy Konten Website ini</p>