PojokTIM – Semangat para seniman dan budayawan yang tergabung dalam Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat untuk memperjuangkan kembalinya Taman Budaya Sumatera Barat (TBSB) di Kota Padang, patut diacungi jempol. Mereka terus mengadakan kegiatan untuk merawat ingatan publik dan menyeru kepada pemerintah daerah setempat agar segera membangun kembali TBSB.
Salah satunya melalui orasi budaya yang dibawakan oleh penyair Riri Satria, Sabtu (27/9/2025) di kompleks TBSB yang kini terbengkalai. Riri mengapresiasi perjuangan para seniman yang membentuk sebuah forum untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Sebab meski bisa bekerja secara mandiri, untuk menjadi seniman yang handal dibutuhkan orang lain, termasuk dalam perjuangan mengembalikan TBSB.
“Kita membutuhkan pihak lain untuk membuat sebuah iklim berkesenian atau kebudayaan yang kondusif, yang disebut dengan ekosistem, yang dibangun melalui sebuah tata Kelola yang baik dan benar,” ujar Riri yang malam itu membawakan makalah berjudul “Model Pentahelix untuk Tata Kelola Organisasi Kesenian/Kebudayaan di Era Masyarakat 5.0”.
Diterangkan Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) itu, model pentahelix adalah model tata kelola yang melibatkan secara aktif lima (penta) pilar, yaitu pemerintah sebagai pembuat regulasi, masyarakat akademik, penelitian, serta professional sebagai think tank, sektor bisnis sebagai sponsor atau pendanaan, media sebagai saluran komunikasi, serta masyarakat pelaku seni budaya dan umum sebagai pemanfaatnya.
“Model pentahelix ini membutuhkan motor peggerak supaya semuanya senergis dan harmonis, yaitu adanya lembaga otoritas kesenian atau kebudayaan seperti dewan kesenian,” tegasnya.
Oleh karenanya, menurut Riri, keberadaan dewan kesenian atau dewan kebudayaan sangat penting, karena berfungsi sebagai motor penggerak ekosistem kesenian dan kebudayaan di sebuah wilayah. Tanpa dewan kesenian atau dewan kebudayaan, maka semua stakeholders dalam model pentahelix akan berjalan sendiri-sendiri, tidak ada tujuan besar yang mengikat, dan akhirnya ekosiste kesenian atau kebudayaan yang terbentuk tanpa arah, atau malahan tidak terbentuk sama sekali
Berbicarta di depan puluhan budayawan, seniman dan mahasiswa yang duduk di atas tilam, Riri yang juga Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi, menyebut model pentahelix ini sebenarnya juga sejalan dengan semangat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, di mana perlu keterlibatan banyak pihak dalam membentuk ekosistem kesenian atau kebudayaan.
Ada beberapa syarat untuk menjalan model pentahelix seperti menyatukann seniman dan budayawan dalam satu visi misi yang sama, membentuk kelompok penekan atau pressure group melalui aliasi untuk mendapatkan atensi pemerintah, kampanye melalui media, baik mainstream maupun media sosial.
“Dan yang tidak kalah [penting adalah aktif melakukan audiensi dengan berbagai pihak, membangun akses ke berbagai dewan kesenian di wilayah Indonesia lainya dan membangun pendanaan mandiri melalui berbagai aliansi,” terang Riri.
Tanpa adanya model pemikiran dan tata kelola yang jelas seperti pentahelix ini, serta tanpa agenda strategis yang jelas, maka sulit utuk mewujudkan ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tangguh sebagai salah satu bagian dari ketahanan nasioal, yaitu ketahanan budaya.
“Faktor kunci sukses utama model pentahelix adalah bagaimana menyatukan seniman dan budayawan dalam satu visi misi yang sama. Hal yang kedegarannya mudah dan klise, namun sulit untuk diwujudkan,” tutup penulis buku Winter in Paris itu.





