Oleh Riri Satria
Jujur saja, sebelumnya saya tidak mengenal nama Annisa Resmana Akhmad dalam belantika kepenyairan Indonesia. Ini bisa jadi karena saya yang kurang gaul, atau bisa juga Nisa adalah seorang emerging writer yang sedang naik daun sehingga belum sempat masuk ke dalam “radar” saya. Saya menyaksikan penampilan pertamanya pada acara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII 2025 sebulan lalu di Perpustakaan Nasional RI. Nisa tampil membaca puisi dengan eksentrik memanfaatkan situasi ruangan, panggung, bahkan sempat sedikit menunjukkan kepandaiannya memainkan piano walau hanya sebentar. Menarik! Beberapa sahabat penyair berbisik kepada saya bahwa beliau ini adalah pendatang baru yang saat ini juga mulai jadi pembicaraan banyak pihak dalam dunia kepenyairan. Bah! Ternyata saya yang kurang gaul kan?
Seminggu sebelum penyelenggaraan PPN XIII, Nisa meluncurkan buku kumpulan puisinya berjudul “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham” di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sebuah judul yang tidak biasa untuk sebuah buku kumpulan puisi. Apalagi ada kata-kata “pasar saham’ yang langsung menyita perhatian saya, karena saya lumayan dekat dengan pasar saham. Tetapi apa yang akan disampaikan Nisa dengan diksi “pasar saham”? Ini semakin menarik dan membuat penasaran.
Nah berselang dua minggu kemudian, buku “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham” sampai ke tangan saya ditambah dengan pesan singkat dari Nisa agar saya membahasnya dari perspektif saya. Inilah tulisan untuk membahas buku tersebut.
Seperti biasa ketika membahas sebuah tulisan, saya tidak akan memisahkan antara teks atau tulisan dengan penulisnya. Saya menganut paham yang mengatakan bahwa sebua teks atau tulisan tidak akan bisa dipisahkan dengan latar belakang si penulisnya. Menurut saya, kita akan sulit menganalisis makna sebuah teks, jika kita memisahkan antara nilai intrinsik yang terdapat pada teks atau tulisan dengan nilai ekstrinsik yang terdapat pada penulisnya. Nilai intrinsik adalah unsur-unsur fundamental yang membangun tulisan dari dalam dalam bentuk tema, tokoh, alur, dan latar. Sementara itu nilai ekstrinsik adalah faktor-faktor dari luar teks yang memengaruhi dan memperkaya interpretasi karya, meliputi latar belakang penulis, kondisi sosial-budaya masyarakat, hingga nilai-nilai yang ingin disampaikan penulis lewat tulisannya. Kedua jenis nilai ini bekerja sama untuk memberikan pemahaman serta pemaknaan yang lebih lengkap kepada si pembaca tentang sebuah tulisan, termasuk karya sastra.
Dalam pendekatan analisis hermeneutika, kaitan antara teks dan penulis adalah semacam hubungan dialektis di mana penulis membuat teks melalui pengalaman, pemikiran, dan niatnya. Sementara itu teks kemudian membuka jalan bagi pembaca untuk memahami penulisnya. Hermeneutika menekankan bahwa teks tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa mempertimbangkan konteks historis dan budaya tempat teks itu diproduksi, yang turut dipengaruhi oleh penulisnya.
Lalu pertanyannya apakah latar belakang Nisa sehingga dia menggunakan diksi “pasar saham”? Bukan pasar tradisional, atau pasar malam, atau pasar gelap, atau yang lainnya. Jelas Nisa tentu tidak akan asal-asalan menggunakan diksi “pasar saham”, lalu dikaitkan pula dengan “telinga”. Ini adalah kunci untuk mulai memahami buku kumpulan puisi Nisa ini.
Ternyata latar belakang Nisa jauh dari dunia sastra, dan Nisa pernah berkiprah di CSIS atau Center for Strategic and International Studies, sebuah lembaga think tank strategis mengkaji isu nasional maupun global. Nisa pun alumni program S2 Kajian Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Strategis dan Global (SKSG) Universitas Indonesia. Saya tahu persis apa itu CSIS, punya banyak teman di sana, serta pernah terlibat dalam beberapa aktivitas bertahun yang lalu. Ini agak mengagetkan saya. Saya pikir latar belakang Nisa tadinya adalah manajemen keuangan atau akuntansi, serta pernah menjadi pelaku di pasar saham seperti Bursa Efek Indonesia. Ternyata bukan! Namun saya yakin, pasti ada suatu kaitan antara Nisa dan pasar saham sehingga demikian percaya diri menggunakan istilah ini ke dalam dunia puisi. Pasti ada metafora di sini.
Baiklah, mari kita lihat sejenak bagaimana pasar saham bekerja. Pasar saham adalah tempat perusahaan mencari modal dengan menjual kepemilikan perusahaan berbentuk saham kepada investor. Ketika mulai memasuki pasar saham pertama kali, perusahaan melakukan aktivitas yang dikenal dengan IPO atau Initial Public Offering. Investor yang membeli saham pada IPO menjadi pemilik sebagian dari perusahaan. Investor dapat membeli saham tersebut melalui bursa efek untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga yang dikenal dengan istilah capital gain, atau pembagian laba perusahaan berbentuk dividen.
Perusahaan yang sudah masuk ke pasar saham disebut dengan perusahaan terbuka atau tbk. Harga saham tetap ditentukan oleh penawaran dan permintaan, dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, dan sentimen pasar, serta diperjualbelikan oleh investor melalui pialang atau aplikasi jual beli saham. Namun demikian, jual-beli saham ini ada risikonya, yaitu kehilangan sebagian atau seluruh modal akibat penurunan harga saham. Harga saham dapat sangat fluktuatif karena sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dibahas sebelumnnya.
Nah, bagaimana dengan diksi “telinga”? Beberapa penyair terkenal menggunakan diksi “telinga” dalam puisinya, seperti Sapardi Djoko Damono dalam satu puisinya berjudul “Telinga” yang terdapat dalam kumpulan puisinya berjudul “Perahu Kertas” (1983). Juga ada penggunaan diksi “telinga” pada puisi karya penyair lainnya. Namun kalau dibaca, makna hampir sama, yaitu terkait aktivitas mendengar, menyimak, memahami, merasakan, kepekaan, dan sejenisnya.
Lalu bagaimana dengan “Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham”? Saya memahami makna pasar saham di sini adalah simbol dari ekonomi yang kapilatistik, yang semuanya diukur dari laba dan rugi secara material bahkan finansial. Tidak ada yang namanya voluntary, semua memiliki return on investment. Semua serba transaksional. Bahkan pasar saham juga tidak steril dari kejahatan seperti menggoreng saham serta insider trading. Semua motifnya transaksional, mendapatkan keuntungan atau capital gain, profit and loss, dan tidak menyisakan ruang untuk yang namanya rasa empati, kemanusiaan, welas asih, dan sejenisnya. Semua mekanisme yang terjadi tunduk kepada algoritma ekonomi dan bisnis. Bahkan kejahatan di sana pun dilakukan dengan merekayasa algoritma ekonomi dan bisnis itu tadi. Naik turunnya harga saham juga dianggap hal wajar sebagai bagian dari risiko atau permainan ekonomi atau economic game. Pasar saham runtuh, ekonomi terperanjat, banyak yang bangkrut dan muncul pegangguran, dianggap hanyalah bagian dari permainan dan dikontrol algoritma ekonomi.
Nah, rupanya Nisa tidak rela “telinga” yang menjadi simbol atas kemampuan manusia untuk mendengar jeritan kemanusiaan, mengembangkan rasa empati, kepakaan atas persoalan sesama manusia, lalu dijual di “pasar saham” yang bekerja atas motif transaksional, mendapatkan keuntungan atau capital gain, profit and loss, serta tunduk kepada algoritma ekonomi dan bisnis, bukan kemanusiaan. Nisa beteriak dan mengingatkan kepada kita bahwa kepekaan kita sebagai manusia terhadap isu kemanusiaan tidak dapat digadaikan (atau dijual) sehingga hanya tunduk kepada kepentingan traksaksional material semata. Terlalu mahal jika kemanusiaan itu dijalakan dengan model trasaksional apalagi paradigma permainan ekonomi semata, apalagi berlandaskan paradigma apa untungnya buat saya seperti semacam retun on investment.
Kembali ke latar belakang Nisa yang pernah berkiprah di CSIS dan berlatar belakang pendidikan alumni program S2 Kajian Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Strategis dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, tentu Nisa sangat paham berbagai isu strategis yang banyak teradi di Indonesia maupun di luar negeri. Saya yakin Nisa sudah banyak melihat bahwa banyak tragedi kemanusiaan, termasuk kemiskinan atau ketimpangan ekonomi, terjadi karena kepekaan dan rasa empati yang menurun kepada berbagai persoalan kemanusiaan dan lebih mementingkan kepentingan ekonomi semata. Itu karena telinganya dijual di pasar saham.
Lalu datanglah Annisa Resmana Akhmad yang dengan lantang dalam puisinya yang mengatakan bahwa telinga itu jangan dijual di pasar saham! Ketika itu terjadi, maka kemanusiaan kita pun mati, dan kita hanya menjadi robot ekonomi, bahkan serigala ekonomi.
— Riri Satria aktif bergiat di dunia kesusatraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta. Puisinya sudah diterbitkan dalam 4 buku puisi tunggal, serta menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku. Sehari-hari Riri Satria adalah Komisaris Utama BUMN ILCS Pelindo Solusi Digital (PSD), dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Anggota Dewan Pertibangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia serta anggota Dewan Juri atau Kurator untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award. Riri Satria adalah Sarjana Ilmu Komputer luluan Universitas Indonesia serta menempuh program S3 DBA pada Paris School of Business, Paris, Prancis.





