PojokTIM – Jagat Sastra Milenia (JSM) adalah rumah belajar dan berkarya bersama. Dengan semangat itu, JSM telah menggelar berbagai kuliah umum, membahas karya-karya sastra dunia dengan menghadirkan panelis dari dalam dan luar negeri, serta menerbitkan 28 buku karya anggotanya.
“Visi JSM adalah menjadi rumah belajar dan berkarya bersama dalam upaya memajukan kesusastraan Indonesia,” ujar Wakil Ketua JSM Nunung Noor El Niel ketika memberikan sambutan pada rangkaian perayaan HUT JSM ke-5 di aula PDS HB Jassin, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), Kamis (23/10/2025).
Acara tersebut juga diisi dengan kegiatan pra-peluncuran 6 buku karya sahabat JSM, yakni Ibu Tali Pusat Kami” (kumpulan puisi Udi Utama), Heraldik Berwajah Seribu (kumpulan puisi Romy Sastra), Rindu di Ruang Tungku (kumpulan puisi Nurhayati), Seduh Sedih yag Bertasbih (kumpulan puisi Khairani Piliang), Setabah Waktu Sepatah Cemburu (kumpulan puisi Hanna Sania), dan Stasiun Rupa Aksara (kumpulan puisi Erna Winarsih Wiyono yang merupakan cetakan kedua).
Lebih lanjut Nunung menjelaskan terkait logo JSM yang terdiri dari 3 komponen yaitu pena bulu ayam berwarna merah, buku dan teknologi cloud (awan) di internet berwarna biru. Pena bulu ayam berwarna merah melambangkan aktivitas menulis yang lentur, namun penuh keberanian. Buku melambangkan keabadian karya, ilmu pengetahuan dan pembelajaran.
“Sedangkan teknologi cloud di internet berwarna biru melambangkan kemajuan teknologi digital yang menghubungkan pelosok dunia, yang saat ini juga sudah memasuki dunia sastra,” terang Nunung.
JSM merespons kondisi sosial masyarakat dan lingkungan hidup dengan penuh keberanian dan tanggung jawab berdasarkan ilmu pengetahuan, terus menerus belajar dan mengabadikan karya.
“Kami tidak takut menghadapi disrupsi teknologi bahkan memanfaatkan teknologi dalam aktivitas sastra,” tegas Nunung

Nunung Noor El Niel
Hadir dalam acara itu Ketua JSM Riri Satria, Wakil Ketua 2 Dewan Kesenian Jakarta Felencia Hutabarat, Simpul Seni DKJ Aquino Hayunta dan Imam Ma’arif, serta para seniman, sastrawan dan kritikus sastra seperti Maman S Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Nurhadi Saibin, Fanny J Poyk, dan lainnya.
Menariknya, acara yang dipandu Rissa Churria, juga diisi dengan kuliah umum oleh Riri Satria dan psikolog Ririen Fina. Riri mengangkat tema Kepemimpinan untuk Pengelola Organisasi Komunitas Kesenian. Sedang Ririen menyampaikan topik Persoalan Psikologi pada Individu dan Masyarakat untuk Ditulis dalam Karya Sastra.
Seperti diketahui JSM didirikan pada 10 Oktober 2020 oleh Riri Satria, Nunung Noor El Niel, Rissa Churria serta beberapa seniman dan penggiat seni. Pada HUT ke-4, Riri yang juga dosen di Universitas Indonesia dan komisaris utama salah satu BUMN, meneguhkan kembali sikapnya melalui tagline Setia pada Visi & Mempertegas Misi. Kini pada usia ke-5, JSM tidak hanya akan “berbicara” tentang teknologi tinggi (high tech) seperti komputasi, algoritma hingga Artificial Intelligence (AI) yang selama ini menjadi concern utamanya, ke depan juga akan membahas tentang “isi” pikiran dan batin manusia.
Mars JSM
Aquino Hayunta memuji lirik mars JSM yang dinilainya memiliki kekuatan dan semangat komunitas sesuai visinya.
“Kita bersama dan berbeda. Ini sangat menarik karena JSM mengakui perbedaan. Sebab untuk bersama, tidak harus seragam. Jika dilandasi ketulusan, adanya perbedaaan justru saling menguatkan, saling sinergi,” ujar Aquino ketika memberikan sambutan.
Lirik lain yakni Mari berdaya untuk karya, Mari berjabat untuk sahabat, Mari bersama untuk kelola juga mencerminkan realita bahwa seni bergerak di ranah individualis sekaligus komunal. Sebagai individu, saat berkarya seniman akan mencari ruang perspektifnya sendiri.
“Tetapi ketika ingin mengekspresikan karya, seniman membutuhkan teman sehingga membentuk komunitas dan menjadi komunal,” terangnya.
Aquino meyakini, dasar dari sektor seni adalah komunitas. Oleh akrenanya, ia mengajak komunitas seni tidak hanya bersaing dalam karya, namun juga meyakinkan pihak lain bahwa seni itu penting. Sama pentingnya denghan sektor-sektor lain. Sudah terbukti, seni bisa menjadi jembatan, melepas sekat-sekat lintas kelompok, dan bisa menjadi terapi kesehatan mental menjadi lebih baik.
“Jika pejabat menganggap penting, maka alokasi anggaran akan lebih banyak mengalir ke sektor seni daripada makan bergizi gratis,” tegas Aquino.

Aquino Hayunta
Geliat seni diawali dari komunitas. Sayangnya, demikian Aquino, komunitas seni dikondisikan untuk rebutan proyek. Mau launching karya atau membuat pertunjukan, susah karena tidak ada sistem yang membuat seniman fokus berkarya
“Aneh rasanya ketika seniman selain fokus pada karya, juga harus fokus cari dana, mengelola administrasi, bahkan sampai memikirkan split anggaran karena dana bantuan untuk kegiatan tidak mencakup semua pengisi acara.
“Kita membutuhkan sistem di mana seniman fokus berkarya, tidak harus mengemis ke kanan-ke kiri. Semoga JSM bisa menjadi pelopor untuk mewujudkan hal itu,” tutup Aquino yang rajin berkunjung ke acara-acara komunitas seni.





