Oleh Riri Satria
Catatan Awal atas Puisi Lima Perempuan Penyair Indonesia, Yoevita Soekotjo, Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Emi Suy, serta Shantined.
Sebagai pengajar Metodologi Penelitian, saya sangat menyadari bahwa menilai gaya berpuisi seorang penyair hanya dari masing-masing satu buku adalah kerja yang rapuh. Satu buku selalu lahir dari satu fase hidup, satu cuaca batin, satu simpul sejarah personal dan sosial. Ia bukan keseluruhan, melainkan potret. Namun justru karena itu, untuk sebuah studi awal berupa sebuah pembacaan pendahuluan, pendekatan ini masih bisa dipertanggungjawabkan, dengan catatan kritis bahwa kesimpulan yang ditarik harus selalu siap diuji ulang.
Tulisan ini juga tidak berangkat dari jarak aman. Saya mengenal secara dekat kelima perempuan penyair yang saya ulas di sini yaitu Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Emi Suy, Shantined, serta Yoevita Soekotjo. Dalam beberapa proses, saya bahkan terlibat dalam penyusunan buku-buku mereka. Maka unsur subyektivitas tidak mungkin dihindari. Namun alih-alih menafikannya, saya memilih mengakuinya sejak awal bahwa tulisan ini adalah pembacaan yang jujur, personal, dan sadar posisi. Kelima perempuan penyair ini sudah sangat dikenal dan punya nama dalam dunia perpuisian dan kepenyairan di Indonesia.
Meskipun kelimanya datang dari latar, wilayah, dan pengalaman yang berbeda, ada benang merah yang terasa kuat ketika puisi-puisi mereka diletakkan berdampingan. Puisi mereka tidak berteriak, malahan berbisik, menjahit, menimba, menari, dan pada akhirnya berserah. Ada kesadaran bahwa menjadi perempuan bukan sekadar identitas biologis, melainkan pengalaman eksistensial yang panjang, berhadapan dengan tubuh, waktu, ingatan, rumah, Tuhan, dan kematian. Kesamaan lain yang mencolok adalah kedekatan dengan yang konkret. Tak satu pun dari mereka terjebak pada abstraksi kosong. Puisi mereka lahir dari benda-benda nyata: karet rambut, dupa, kukusan, kopi, sumur, kursi roda. Dari sanalah makna tumbuh pelan, namun menghunjam.
Analisis terhadap kelima sosok perempuan penyair melalui masing-masing satu buku puisi karya mereka ini dilakukan dengan pendekaan analisis kombiasi anara kuatitatif dan kualitatif melalui pendekatan data science. Melalui pendekatan ini saya dapat menghitung frekuensi pemunculan kata, prasa, sera membagun pola dan model. Melalui pendekakaan kualitatif yaitu bersifat deskriptif-interpretatif yang strukural, saya dapat membaca, menandai, mengelompokkan, menafsirkan, lalu menyusun makna berdasarkan pola-pola yang muncul dalam teks. Namun saya akui bahwa analisis ini belum mendalam, dan unsur subyektifitas karena mengenal mereka dengan baik bisa jadi sangat berpengaruh.

Baiklah, membaca lima perempuan penyair ini secara bersamaan selalu menghadirkan perasaan yang sama pada saya seolah sedang duduk di sebuah ruang yang sunyi namun hangat. Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Emi Suy, Shantined, serta Yoevita Soekotjo memang memiliki latar, usia, dan lanskap pengalaman yang berbeda, tetapi dalam puisi mereka ada kesadaran yang sama bahwa bahasa bukan alat untuk menaklukkan dunia, melainkan sarana untuk memahami diri sendiri dan kenyataan yang tak selalu ramah. Dari kesamaan itulah kekhasan masing-masing justru menjadi semakin jelas, seperti warna-warna yang berbeda ketika ditempatkan di satu kanvas yang sama.
Nunung Noor El Niel melalui “Sumur Umur” (2021) menawarkan kekhasan yang sangat khas dalam kesederhanaannya. Puisinya pendek, padat, dan jernih, seperti air yang ditimba perlahan dari sumur yang dalam. Dalam puisi-puisi seperti “Alpa”, “Sumur Umur”, “Jarak Semesta”, “Setelah Hujan”, dan “Melanjutkan Kisah”, Nunung menunjukkan kematangan emosional yang jarang ditemui. Ia tidak tergoda untuk menjelaskan terlalu banyak. Ia percaya pada kekuatan jeda dan keheningan.
Kekhasannya tampak pada permainan bunyi yang halus, pada kecenderungan memilih diksi yang akrab, dan pada cara ia memandang usia bukan sebagai kemunduran, melainkan sebagai pendalaman. Perspektif perempuannya hadir tanpa slogan, tanpa perlawanan yang demonstrative (berbeda dengan puisi Nunung terdahulu), tetapi justru terasa kuat dalam sikap menerima dan melanjutkan hidup dengan kesadaran penuh. Puisinya seperti percakapan dengan diri sendiri di sore hari, tenang, jujur, dan tanpa topeng. Nunung sedang berkonteplasi dengan perjalanan umur.
Rissa Churria dalam “Bisikan Tanah Penari” (2021) bergerak melalui tubuh budaya dan religi. Kekhasan Rissa terletak pada kemampuannya menjadikan tradisi, mitologi, dan ritual sebagai pengalaman puitik yang hidup. Ia menulis dari tanah Banyuwangi dengan kesadaran penuh bahwa lokalitas bukan batas, melainkan pintu masuk menuju universalitas. Dalam puisi-puisi seperti “Tanah Penari”, “Darah Setia Sritanjung”, “Seblang Olehsari”, “Orang-Orang Jaranan”, dan “Meraba Wajah Ijen”, Rissa menghadirkan budaya Osing bukan sebagai latar eksotis, melainkan sebagai tubuh yang bernapas, yang menyimpan luka, kesetiaan, dan spiritualitas.
Kekhasannya tampak pada cara ia merajut bahasa ritual dengan bahasa liris. Dupa, mantra, gending, dan legenda tidak kehilangan daya magisnya, tetapi juga tidak jatuh menjadi romantisasi. Rissa menulis mitologi dengan kesadaran zaman, seolah ingin mengatakan bahwa kisah-kisah lama itu masih terus bekerja dalam kehidupan hari ini. Puisinya sinematik, kaya visual dan bunyi, tetapi tetap intim, seakan pembaca diajak masuk ke lingkaran ritual, bukan sekadar menontonnya dari jauh.
Emi Suy menghadirkan kekhasan yang berbeda lagi. Dalam buku “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri” (2025), puisinya bergerak pelan, nyaris berbisik, sesuai dengan julukannya, puisinya bergerak sunyi. Kekuatan Emi bukan pada ledakan metafora (walau tetap dominan), melainkan pada ketepatan dan kesederhanaan. Ia memiliki kemampuan langka untuk menulis tentang hal-hal besar dengan bahasa yang sangat membumi, seperti puisi-puisi “Ayat-Ayat Perih”, “Kampung Halaman”, “Kota Renta”, “Waktu Putih”, dan “Kisah Seorang Bocah”, Emi menunjukkan bahwa spiritualitas tidak selalu hadir dalam bentuk ekstase, melainkan dalam kesediaan mendengarkan sunyi.
Kekhasan Emi terletak pada konsistensinya menjadikan keseharian sebagai buku terbuka. Jalanan macet, tembok kota tua, tubuh ibu, dan luka buruh semuanya dibaca sebagai ayat-ayat kehidupan. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai guru spiritual, tetapi sebagai peziarah yang terus belajar memahami tanda-tanda. Puisinya mengandung ketenangan yang tidak dibuat-buat, sebuah ketenangan yang lahir dari penerimaan, bukan dari pelarian. Dalam konteks kepenyairan perempuan, Emi menghadirkan suara yang lembut tetapi tegas, seolah mengatakan bahwa kekuatan tidak selalu harus keras.
Shantined dalam “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca” (2025), menunjukkan kekhasan bergerak lincah dari ruang domestik menuju ruang sosial, dari pengalaman personal menuju kegelisahan kolektif. Namun yang membuatnya khas adalah caranya menjadikan detail keseharian sebagai pintu masuk ke persoalan yang lebih luas. Dalam puisi seperti “Kecambah”, “Karet Rambut”, “Ramadhan di Pesisir Ingatan”, “Badut-Badut Agustusan”, dan “Kepak Enggang”, saya melihat Shantined percaya bahwa benda-benda kecil menyimpan sejarah besar. Kue-kue tradisional, karet rambut, toples lebaran, hingga simbol-simbol kebangsaan tidak berdiri sendiri; semuanya saling terhubung melalui pengalaman batin .
Kekhasan Shantined juga terletak pada keberaniannya memadukan puisi cinta yang lembut dengan kritik sosial yang telanjang. Shantined sangatt kua dalam soal kritik sosial ini. Ia tidak takut menggunakan diksi keras ketika berbicara tentang kebobrokan, tetapi tetap menjaga agar puisinya tidak jatuh menjadi pamflet. Dalam puisinya, kemarahan selalu berangkat dari rasa peduli, bukan dari hasrat menghakimi.
Terakhir, Yoevita Soekotjo menempati posisi yang sangat menarik dalam pembacaan ini. “Sampailah pada Bait Terakhir” (2021) bukan sekadar buku puisi, melainkan catatan transformasi spiritual di ujung hayat. Dalam puisi-puisi seperti “Doa”, “Perjalanan”, “Covid-19”, “Perempuan”, dan puisi pamungkas tanpa judul yang ditulis menjelang wafatnya, Yoevita berbicara dengan kejernihan yang menyentuh. Metafora yang ia gunakan sangat dekat dengan tubuh seperti kursi roda, sakit, cahaya, napas. Tidak ada lagi keinginan untuk melawan dunia; yang ada adalah dialog intim dengan Tuhan.
Kekhasan Yoevita terletak pada kejujurannya menghadapi kematian tanpa sentimentalisme berlebihan. Puisinya tidak memohon iba, tetapi menawarkan pelajaran tentang bagaimana manusia bisa berdamai dengan batas terakhirnya. Kata-katanya jujur, transparan, dan penuh penyerahan. Metafora fisik seperti kursi roda, sakit, cahaya, menjadi jembatan menuju percakapan dengan Tuhan. Jika karya-karya sebelumnya penuh pemberontakan, buku ini adalah muara. Tidak ada lagi teriak, hanya syukur. Tidak ada lagi perlawanan, hanya kepulangan.
Ketika kekhasan-kekhasan ini diletakkan berdampingan, saya semakin yakin bahwa puisi para perempuan penyair ini, setidaknya dalam lima buku ini, bergerak dalam wilayah yang sama, yaitu wilayah perawatan. Mereka merawat ingatan, merawat tubuh, merawat budaya, merawat iman, dan merawat luka. Puisi tidak mereka gunakan untuk membangun menara gading, melainkan untuk membuat hidup tetap mungkin dijalani, meski perlahan dan tertatih.
Sebagai pembaca yang sekaligus terlibat dekat, saya tidak bisa menutup mata dari fakta bahwa kedekatan ini memengaruhi cara saya membaca. Namun barangkali justru di sanalah kejujuran tulisan ini berada. Saya membaca mereka bukan sebagai objek kajian, melainkan sebagai sesama peziarah bahasa. Membaca lima perempuan penyair ini serasa membaca lima cara bertahan hidup. Puisi mereka bukan pelarian, melainkan arsip batin tempat luka disimpan, dirawat, dan diberi makna. Mereka mengajarkan bahwa puisi tidak harus lantang untuk kuat, tidak harus rumit untuk dalam, melainkan jujur serta setia pada pengalaman, dan berani menghadapi diri sendiri. Menurut saya, mungkin di sanalah kekuatan puisi perempuan hari ini, bukan pada klaim, melainkan pada ketekunan merawat hidup, bait demi bait, hingga suau hari seperti Yoevita, kita semua kelak sampai pada bait terakhir.
Januari 2026
Riri Satria adalah seorang seorang penyair, esais, aktivis sastra dan kebudayaan; Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM); pengamat ekonomi, bisnis, dan teknologi; dosen Fakultas Ilmu Kompuer Universsias Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN.





