Oleh Riri Satria
Analisis terhadap Dua Buku Khairani Piliang: Kumpulan Puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” dan Kumpulan Cerpen “Satu Pagi di Dermaga”
Tulisan ini merupakan hasil pembacaan dan analisis terhadap dua buku karya Khairani Piliang, yakni kumpulan puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” dan kumpulan cerpen “Satu Pagi di Dermaga”. Kedua buku tersebut didekati secara berdampingan untuk melihat kesamaan watak kepengarangan, kecenderungan tema, corak gaya bahasa, serta perbedaan cara masing-masing genre menyalurkan pengalaman batin. Dari pembacaan itu tampak bahwa meskipun bentuknya berbeda, yang satu liris, yang lain naratif, dan keduanya berangkat dari mata air yang sama yaitu pengalaman batin manusia yang diolah dengan keheningan, empati, dan kelembutan.
Membaca karya-karya Khairani seperti memasuki rumah yang sama lewat dua pintu berbeda. Tata ruangnya bisa berubah, tetapi udara yang dihirup tetap serupa: kesedihan yang tidak gaduh, tidak meledak menjadi jeritan, melainkan mengendap perlahan, mengajak pembaca duduk diam, dan merasakan. Kesedihan dalam karya-karya ini bukan luka yang dipamerkan, melainkan ruang perenungan. Ia hadir sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai tragedi yang harus diratapi berlebihan.
Latar kehidupan penulis ikut memberi jejak pada dunia karyanya. Khairani Piliang, penulis berdarah Minang yang lahir di Medan, tumbuh di Rantau Prapat, dan kemudian bermukim di Bekasi, akrab dengan dinamika kehidupan keluarga, nilai budaya, serta pengalaman manusia sehari-hari. Profesinya di bidang kesehatan mempertemukannya dengan sisi rapuh manusia, sakit, kehilangan, dan ketabahan, yang kemudian menjelma menjadi denyut batin dalam puisi dan cerpennya. Pengalaman tersebut tidak hadir sebagai laporan realis, tetapi sebagai getaran batin yang telah melewati proses pengendapan.
Dalam puisinya, kesedihan diperlakukan seperti sesuatu yang diseduh. Rasa pahit tidak ditolak, tetapi dibiarkan larut perlahan hingga menjadi kesadaran. Puisi-puisi itu bergerak dalam wilayah liris, menghadirkan momen batin yang padat, simbolik, dan personal. Metafora-metafora sederhana seperti “krikil menyandung” dalam puisi tentang nasihat ibu menunjukkan bagaimana pengalaman hidup yang kecil dapat memantulkan makna batin yang luas. Pengulangan panggilan “Nak” menghadirkan irama yang mirip doa—lirih, intim, dan menyentuh ruang terdalam pembaca. Dalam bentuk seperti ini, puisi bekerja sebagai bisikan batin yang langsung menyentuh perasaan.
Namun dunia batin yang sama bergerak dengan cara berbeda dalam cerpen. Di sana, kesedihan, kehilangan, dan ketabahan tidak berdiri sebagai perasaan semata, melainkan dijalani oleh tokoh-tokoh dalam peristiwa konkret. Anak yang kehilangan, perempuan yang menanggung beban rumah tangga, keluarga yang berhadapan dengan sakit dan semuanya hadir dalam alur kehidupan yang bergerak. Cerpen memberi tubuh pada pengalaman batin itu, memberinya ruang, waktu, dan sebab-akibat. Jika puisi adalah denyut jantung, maka cerpen adalah langkah kaki yang menempuh jalan panjang dengan denyut itu tetap terasa di dalam dada.
Pembacaan kualitatif ini diperkuat oleh analisis kuantitatif menggunakan text analytics software terhadap teks kedua buku tersebut. Setelah teks dinormalisasi dan kata-kata umum disaring, tampak bahwa kata-kata yang paling sering muncul adalah “wanita”, “ibu”, “rumah”, “anak”, “orang”, dan “rasa”. Angka kemunculan kelompok kata yang berkaitan dengan keluarga dan relasi manusia jauh melampaui kelompok kata lainnya. Ini menunjukkan bahwa dunia naratif dan liris Khairani berpusat kuat pada relasi personal, terutama figur perempuan dan ibu, serta ruang domestik sebagai pusat makna. Kata-kata emosi seperti “rasa”, “hati”, “rindu”, dan “luka” juga muncul signifikan, sementara kata “sedih” sendiri justru tidak terlalu sering disebut. Kesedihan dalam karya-karya ini lebih sering hadir sebagai suasana dan metafora ketimbang pernyataan langsung.
Pada cerpen, kata-kata yang berkaitan dengan waktu dan perubahan seperti “hari”, “lama”, “kembali”, dan “tiba”, muncul menonjol. Ini menandakan gerak naratif yang kuat, kehidupan yang berjalan, situasi yang berubah. Puisi sebaliknya lebih padat dengan diksi batin dan simbol, serta lebih sedikit pengulangan literal. Dari sini terlihat bahwa puisi menyentuh batin secara langsung, sementara cerpen membawa batin itu berjalan dalam kehidupan tokoh.
Baik puisi maupun cerpen Khairani memiliki kecenderungan ekspresi yang lembut dan empatik. Kritik sosial, bila muncul, disampaikan lewat rasa, bukan lewat teriakan. Kekuatan tidak lahir dari benturan, melainkan dari empati. Dalam kerangka ini, karya-karya Khairani memperlihatkan ekspresi yang bisa disebut reflektif-feminin: berpusat pada relasi, ingatan, tubuh, dan perasaan, bukan pada konflik ideologis yang keras.
Pada akhirnya, puisi dan cerpen dalam karya Khairani Piliang bukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua cara bernapas dari jiwa kepengarangan yang sama. Puisi adalah napas pendek yang dalam, seperti bisikan doa. Cerpen adalah napas panjang, seperti perjalanan hidup yang membawa doa itu di dalamnya. Dalam keduanya, kesedihan tidak dibiarkan menjadi gelap yang mematikan, tetapi diolah menjadi cahaya redup yang menenangkan, luka yang tidak mematahkan, melainkan mematangkan jiwa manusia yang menjalaninya.
Riri Satria adalah seorang praktisi dan akademisi teknologi digital di Indonesia, aktif bergiat di dunia kesusatraan Indonesia, pendiri serta Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta. Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), ” Algoritma Kesunyian” (kolaborasi dengn Emi Suy, 2023), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 80 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya. Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku.





