PojokTIM – Kepedulian seniman terhadap korban bencana ekologis di Sumatera diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari penggalangan dana hingga aksi teatrikal. Namun, langkah yang diambil oleh Marandang Institute tergolong unik. Berkolaborasi dengan Cikini Art Stage, mereka mengolah ratusan kilogram daging menjadi rendang kering untuk dikirimkan langsung ke pengungsian.
Rendang tersebut ditujukan bagi para penyintas di 231 titik tenda pengungsian yang tersebar di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara. Aksi ini direncanakan terus berlanjut hingga total tujuh ton daging sapi selesai diolah.
“Saat ini kami mengolah 500 kilogram daging. Nantinya rendang akan dikemas dan dikirim langsung ke Aceh serta beberapa titik pengungsian korban bencana lainnya di Sumatera,” ujar Ketua Pelaksana Rendang Untuk Sumatera Muhammad Aidil Usman. Senin (16/2/2026) di Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Pemilihan rendang bukan tanpa alasan. Menurut founder Marandang Institute sekaligus anggota Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta itu rendang memiliki filosofi mendalam dan daya tahan yang luar biasa, sehingga sangat cocok bagi korban bencana yang kehilangan peralatan masak.
“Rendang adalah makanan yang lahir dari spiritualitas orang sufi di Sumatera Barat. Ia bisa bertahan hingga enam bulan jika dimasak dengan perapian maksimal selama 10 jam,” tambah Aidil yang juga bertindak sebagai koki dalam kegiatan tersebut.

Aidil Usman tengah meracik bumbu rendang. Foto: pojokTIM
Melibatkan Lintas Komunitas
Dalam prosesnya, Aidil menyiapkan bumbu khusus dan mengajarkan teknik peminyakan santan agar daging tetap utuh dan tidak hancur. Mengingat proses memasak yang memakan waktu lama, sistem pengerjaan dibagi ke dalam beberapa shift untuk menjaga stamina para relawan. Menariknya, kegiatan ini tidak hanya melibatkan seniman, tetapi juga ibu-ibu PKK dan kader Posyandu di sekitar kawasan TIM.
Suasana di Plaza Teater Jakarta pun berubah menjadi dapur raksasa. Aroma rempah yang tajam menyeruak dari kancah (wajan besar) yang mengepul, di mana potongan daging diaduk perlahan bersama santan dan bumbu selama berjam-jam.
Acara memasak dipadukan dengan pertunjukan seni selama delapan jam penuh. Panggung diramaikan oleh tarian tradisional, musik saluang, musik kontemporer khas Aceh dan Sumatera Utara, melukis mural, serta pembacaan puisi tentang duka Sumatera.
Aksi kemanusiaan ini dipastikan akan terus bergulir. Pada 15 Maret mendatang, tim berencana melanjutkan kegiatan serupa di Universitas Indonesia dan langsung menuju lokasi bencana, terutama di Aceh.
Di lokasi bencana nanti, Aidil berencana menciptakan sebuah karya instalasi dari kayu-kayu bekas banjir bandang. Kayu tersebut akan difungsikan sebagai panggung sekaligus bahan bakar untuk memasak rendang dan berbagai kuliner khas Aceh lainnya bagi para pengungsi.





