Literary Networking Afternoon Buka Jalan bagi Sastra Indonesia ke Panggung Dunia

Sesi diskusi Literary Networking Afternoon yang menghadirkan 4 panelis. Foto: PojokTIM

PojokTIM– Upaya membawa sastra Indonesia ke panggung internasional tidak cukup dilakukan dengan mempromosikan karya penulis. Dibutuhkan jejaring yang mempertemukan penulis, penerjemah, penerbit, dan pelaku industri kreatif agar karya sastra Indonesia memiliki peluang lebih luas untuk diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Literary Networking Afternoon yang berlangsung di Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated, lantai 8 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan Direktorat Promosi, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, melalui platform Read Indonesia, bekerja sama dengan Jakarta International Literary Festival (JILF) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Direktur Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Wawan Yogaswara, saat membuka acara menegaskan, penguatan jejaring menjadi bagian penting dari upaya memperluas jangkauan sastra Indonesia. Menurut dia, selama ini penerjemahan buku dari luar negeri untuk diterbitkan di Indonesia lebih banyak dilakukan dibandingkan upaya membawa karya penulis Indonesia ke pasar internasional.

“Ekosistem sastra tidak bisa berdiri sendiri. Selama ini kita harus mengakui bahwa kita lebih rajin menerjemahkan buku-buku dari luar untuk diterbitkan di Indonesia. Nah, mimpi besar yang ingin kita wujudkan bersama melalui pertemuan semacam ini adalah sebaliknya: bagaimana buku-buku karya penulis kita dapat diterjemahkan dan diterbitkan di kancah internasional,” ujar Wawan.

Melalui Literary Networking Afternoon, para penulis, komunitas sastra, penerbit, penerjemah, lembaga kebudayaan, serta pemangku kepentingan sastra dari dalam dan luar negeri dipertemukan dalam ruang interaksi yang terbuka. Forum ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor yang dapat mendukung penerjemahan dan penerbitan karya sastra Indonesia secara berkelanjutan.

Bagi Kementerian Kebudayaan, sastra tidak semata-mata berkaitan dengan penerbitan buku, tetapi juga merupakan bagian dari kekayaan ekspresi dan identitas bangsa. Melalui karya sastra, dinamika sosial dapat direkam, gagasan dikembangkan, dan pengalaman manusia diperkenalkan kepada pembaca dari latar budaya yang berbeda.

Atas dasar itu, penguatan sastra Indonesia di tingkat internasional memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan proses penciptaan karya dengan penerjemahan, penerbitan, dan promosi. Wawan menegaskan komitmen Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan untuk terus memperluas ruang promosi sastra Indonesia di panggung global.

Wawan menjelaskan, suasana pertemuan yang santai sengaja dibangun agar para pelaku sastra dapat berinteraksi tanpa dibatasi formalitas acara. Percakapan yang berlangsung secara terbuka, menurut dia, dapat menjadi awal bagi tumbuhnya gagasan dan kerja sama baru.

“Pengalaman penyelenggaraan networking semacam ini sebenarnya sudah beberapa kali kita lakukan, seperti yang dikolaborasikan dalam agenda Ubud Writers and Readers Festival serta Makassar International Writers Festival. Namun, jika sebelumnya kita menyelenggarakan networking night di malam hari, kali ini kita buat di sore hari dengan setting yang lebih cair. Tanpa sekat dan protokoler yang kaku, para pelaku sastra bisa saling mengobrol dan berdiskusi dengan nyaman,” jelas Wawan.

Wawan juga menyampaikan apresiasi kepada Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan JILF 2026. Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada 23–25 Oktober 2026. Ia berharap JILF menjadi ruang produktif bagi pertukaran gagasan sekaligus mempertemukan penulis dan pelaku sastra dari berbagai latar budaya.

Komitmen Jakarta

Dukungan penuh terhadap penguatan ekosistem sastra ini turut disuarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Arista Nurbaya, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif kolaboratif yang dihadirkan oleh Kementerian Kebudayaan.

“Kami menyambut baik inisiatif Kementerian Kebudayaan yang telah menghadirkan ruang pertemuan ini. Literary Networking Afternoon menjadi forum yang sangat berarti untuk menghubungkan para pelaku sastra, lembaga kebudayaan, komunitas, serta mitra dari berbagai negara untuk saling mengenal, bertukar gagasan, dan membangun jejaring,” ungkap Arista.

Arista menilai bahwa momentum acara ini sangat pas, mengingat pelaksanaannya digelar bertepatan di kawasan Taman Ismail Marzuki menjelang pembukaan JILF yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Menurutnya, pengembangan kebudayaan dan kesenian di ibu kota maupun secara nasional tidak akan berhasil jika hanya ditanggung oleh satu lembaga saja.

“Sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang sangat berarti. Pengembangan sastra dan kesenian tentu tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan keterlibatan aktif pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, komunitas, para seniman, sastrawan, hingga berbagai mitra yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan,” jelas Arista.

Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk selalu membuka pintu kerja sama seluas-luasnya dengan Kementerian Kebudayaan dan seluruh pemangku kepentingan kebudayaan. Arista menegaskan bahwa kolaborasi pemerintah daerah dan pusat ini tidak boleh berhenti sekadar pada penyelenggaraan acara seremonial atau festival tahunan semata.

“Kami berharap kerja sama ini dapat berkembang tidak hanya dalam hal penyelenggaraan event atau festival, tetapi juga melalui berbagai program sastra dan kesenian lainnya yang berkelanjutan. Kami percaya, semakin luas jejaring dan semakin kuat kolaborasi yang dibangun, maka semakin besar pula peluang bagi para pelaku seni dan sastra untuk berkembang, menjangkau publik yang lebih luas, serta berinteraksi secara aktif dengan ekosistem kebudayaan di tingkat nasional maupun internasional,” tegas Arista.

Arista menutup sambutannya dengan menggarisbawahi bahwa Dinas Kebudayaan DKI Jakarta siap memfasilitasi program-program tindak lanjut agar dinamika sastra di Jakarta terus berdenyut dan menjadi pusat gravitasi literasi Nusantara.

Arista Nurbaya

Peran PDS HB Jassin

Memasuki sesi diskusi panel, Kepala Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Diki Lukman Hakim, memaparkan gambaran mendalam mengenai perjalanan restorasi dan transformasi salah satu lembaga dokumentasi sastra paling bersejarah di Asia Tenggara tersebut. Diki mengisahkan titik awal peralihan pengelolaan PDS HB Jassin dari pihak yayasan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada tahun 2018.

“Saat pertama kali diserahterimakan pada tahun 2018, kami langsung dihadapkan pada pekerjaan rumah yang sangat besar. Koleksi-koleksi yang diwariskan oleh almarhum HB Jassin sungguh luar biasa berharga, namun sebagian besar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bayangkan, naskah-naskah kuno dan manuskrip asli seperti puisi tulisan tangan Chairil Anwar hingga naskah-naskah awal sastrawan besar Nusantara disimpan di tempat yang sangat tidak layak, rapuh, dan gedungnya saat itu hanya satu lantai dengan luas kurang lebih 900 meter persegi,” ungkap Diki.

Diki merinci bahwa berdasarkan pendataan awal, PDS HB Jassin menampung setidaknya 158 ribu koleksi yang terdiri dari buku, majalah, kliping koran, korespondensi pribadi para penulis, foto dokumentasi, hingga manuskrip tulisan tangan asli. Fokus utama timnya sejak 2018 adalah menyelamatkan fisik naskah serta mempreservasi informasi di dalamnya.

“Saat ini saja, dari data 1.600 naskah berharga yang membutuhkan penanganan khusus, perbaikannya terbagi dalam kategori kerusakan ringan, sedang, hingga kerusakan berat di mana kertasnya sudah sangat rapuh dan hampir hancur. Untuk menangani naskah yang rapuh ini, kami tidak bekerja sendiri. Kami menggandeng para ahli dari Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), serta berkolaborasi dengan komunitas Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara),” jelas Diki.

Di samping preservasi fisik, PDS HB Jassin juga melakukan akselerasi digitalisasi. Hingga saat ini, sebanyak 59.697 koleksi telah berhasil didigitalisasi. Menurut Diki, proses digitalisasi relatif bisa dilakukan lebih cepat dibanding preservasi fisik yang membutuhkan kompetensi teknis SDM yang sangat tinggi dan ketelitian ekstra.

Perubahan paling mencolok juga terlihat dari fasilitas fisik dan keterbukaan akses publik. Dari gedung lama yang sempit dan hanya dikunjungi kalangan terbatas, PDS HB Jassin kini menempati gedung baru yang megah setinggi lima lantai dengan luas mencapai 8.000 meter persegi di kawasan revitalisasi Taman Ismail Marzuki.

“Alhamdulillah, cita-cita Pak HB Jassin yang dulu mengimpikan PDS bertingkat-tingkat kini terwujud. Di gedung baru ini, anggota yang terdaftar telah mencapai lebih dari 1 juta anggota melalui aplikasi Jak Literal. Seluruh koleksi yang telah didigitalisasi dapat diakses oleh anggota kapan saja dan di mana saja langsung dari ponsel pintar mereka. Jika ingin melakukan penelitian lebih mendalam, kami menyediakan ruang baca khusus, ruang galeri, ruang diskusi, hingga Balai Sastra—aula yang sering difungsikan untuk peluncuran buku dan diskusi komunitas,” paparnya.

Diki juga membagikan kabar membanggakan mengenai pengakuan internasional terhadap PDS HB Jassin. Setelah tahun lalu dianugerahi status sebagai salah satu kekayaan hasanah oleh Kementerian PAN-RB, tahun ini koleksi PDS HB Jassin resmi didaftarkan ke UNESCO untuk masuk dalam registrasi Memory of the World tingkat Asia Pasifik. Jika lolos tahun ini, PDS HB Jassin ditargetkan melangkah ke Memory of the World tingkat global pada tahun berikutnya.

Tak kalah penting, Diki menekankan pendekatan Open Collaboration dalam mengelola PDS HB Jassin. Perpustakaan tidak lagi diposisikan secara pasif sebagai tempat pinjam-meminjam buku, melainkan sebagai wadah kolaborasi aktif di tingkat akar rumput. Melalui program-program seperti Karya Raya, PDS HB Jassin menggandeng komunitas untuk turun langsung ke rumah-rumah susun (rusun), mengajari anak-anak menulis puisi, komik, dan cerita pendek. Program Mengenal Sastra juga menerjunkan sastrawan-sastrawan senior hingga ke wilayah terpencil seperti Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara.

“PDS HB Jassin menyimpan hasil dari seluruh proses kreatif para sastrawan. Kami ingin setiap festival, diskusi, dan proses kreatif ada produk karyanya yang tercatat dan tersimpan dengan baik di PDS. Dengan begitu, hasil karya para penulis tidak habis begitu saja setelah festival usai, tetapi terus hidup, terpelihara, dan dapat dipelajari oleh seluruh masyarakat luas,” tutur Diki menutup pemaparannya.

Penguatan Jejaring

Selain pemaparan komprehensif dari Diki Lukman Hakim, diskusi panel Literary Networking Afternoon juga diperkaya oleh pandangan tiga narasumber lainnya yang menyoroti integrasi digital dan penguatan jejaring dari hulu ke hilir.

Yani Kurniawan dari Tim Promosi Sastra memperkenalkan platform digital Read Indonesia yang dapat diakses melalui readindonesia.id. Platform ini difungsikan sebagai hub terpadu yang memuat direktori buku, direktori penulis, portal artikel, buletin, sekaligus basis data resmi kegiatan sastra Indonesia. Di dalamnya terdapat Translation Funding Program (TFP)—sebuah skema hibah penerjemahan yang menanggung pembiayaan penerjemahan guna memitigasi risiko bisnis bagi penerbit internasional yang bermaksud menerbitkan buku-buku Indonesia.

Yani menyinggung tantangan visibilitas yang sempat mengendur pasca-pandemi, serta pentingnya memantau performa buku-buku Indonesia di luar negeri setelah kontrak penerbitan usai. Ia mengungkapkan bahwa timnya menindaklanjuti 80 karya dan penulis hasil kurasi internal (70 karya utama ditambah 10 karya pendukung) untuk dipetakan kesesuaian pasarnya di berbagai negara target, seperti dalam keikutsertaan pameran buku di Istanbul dan Abu Dhabi. Ke depan, pemerintah juga menjajaki skema dukungan baru yang mencakup biaya produksi melalui kemitraan lintas lembaga dan swasta.

Sementara itu, pembicara kedua, Farid Al Faruki dari Tim Penguatan Ekosistem Sastra Kementerian Kebudayaan, menekankan bahwa diplomasi internasional yang kuat harus ditopang oleh ekosistem lokal yang sehat (top-to-bottom). Farid memaparkan bahwa kementeriannya gencar melakukan pemetaan terhadap jejaring festival sastra daerah, kegiatan penulisan, dan kantong-kantong komunitas sastra di seluruh Nusantara. Pemetaan ini bertujuan menjaring karya dan penulis berbakat di tingkat tapak agar terhubung dengan sirkuit nasional maupun internasional. Seluruh data kegiatan dan festival daerah yang didukung pemerintah nantinya diintegrasikan ke platform Read Indonesia.

Melengkapi diskusi, perwakilan JILF, Ibe S. Palogai, menekankan bahwa penyelenggaraan festival sastra internasional harus berorientasi pada keberlanjutan (sustainability) dan mampu membuka akses pengetahuan secara merata. Menilik rekam jejak JILF sejak 2019 yang berhasil menarik lebih dari 10.000 pengunjung, Ibe mengingatkan pentingnya evaluasi dampaknya bagi penulis serta keterlibatannya dalam menjembatani komunitas-komunitas sastra di daerah agar dapat berkembang secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada pusat.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait