Tantangan dan Strategi Memperluas Jangkauan Sastra Indonesia di Panggung Global

PojokTIM – Ekosistem sastra Indonesia kembali melangkah maju dalam meretas jalan menuju gelanggang internasional. Dalam diskusi bertajuk “Sastra Menuju Panggung Global” yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) sore di Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated Taman Ismail Marzuki (TIM), para pelaku industri literasi membedah secara mendalam tantangan, strategi, hingga realitas komersialisasi karya sastra Indonesia di ranah global.

Diskusi yang berlangsung sejak pukul 15.00 hingga 18.00 WIB ini dipandu oleh Prihandini Nur Rahmah sebagai moderator. Forum tersebut menghadirkan empat narasumber kunci dari ragam perspektif ekosistem perbukuan: Ratih Kumala (penulis novel Gadis Kretek), Zen Hae (sastrawan dan kritikus), Yani Kurniawan (agen sastra), serta Suhindrati Shinta (perwakilan penerbit).

Sastrawan ternama Ratih Kumala menekankan pentingnya pergeseran paradigma para penulis lokal saat memosisikan karyanya di pasar luar negeri. Menurut Ratih, keterbatasan pengetahuan publik internasional terhadap bahasa Indonesia kerap menuntut hadirnya bahasa Inggris sebagai jembatan penerjemahan pertama.

Selain hambatan bahasa, terdapat perbedaan selera pembaca yang signifikan antar-wilayah. Jika pasar Amerika Serikat saat ini sangat menggandrungi genre fantasi, pasar penerbitan dunia secara umum masih sangat didominasi oleh dua tema utama: kisah percintaan (love story) dan dinamika keluarga (family story).

“Ketika sebuah karya sastra akhirnya diterbitkan dan siap dilempar ke pasar, konteksnya bukan lagi sekadar karya adiluhung yang tabu untuk dijual. Karya tersebut telah bertransformasi menjadi produk. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus menggunakan bahasa pemasaran (marketing),” ujar Ratih.

Ratih mencontohkan pengalaman internasional novel hits miliknya, Gadis Kretek. Meski berlatar belakang sejarah kelam 1965 dan industri kretek Indonesia, sudut pandang (angle) yang berhasil memikat pembaca luar negeri justru adalah jalinan roman dan konflik manusianya. Menurutnya, isu sejarah spesifik kerap kurang dipedulikan oleh publik global jika tidak dibungkus dengan sudut pandang naratif yang universal. Ia menambahkan bahwa penulis tidak bisa bergerak sendiri; dibutuhkan narasi yang matang, agen sastra, serta riset pasar yang presisi mengenai selera pembaca di negara tujuan.

Posisi Sastra Indonesia di Mata Dunia

Meninjau dari sudut pandang sejarah dan kritis, Zen Hae memaparkan bahwa penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa asing sebetulnya memiliki rekam jejak yang relatif muda. Sejarah mencatat penerjemahan karya sastra Indonesia secara formal baru dimulai sekitar tahun 1963 melalui puisi-puisi Chairil Anwar—hampir dua dekade setelah Indonesia merdeka.

Zen Hae menggambarkan posisi sastra Indonesia di peta dunia kerap dianggap sebagai terra incognita atau wilayah tak dikenal yang belum banyak terpetakan, meskipun di tingkat regional telah menjadi bagian dari percakapan sastra Asia Tenggara. Ragam penceritaan seperti realisme magis khas Nusantara sebenarnya memiliki daya tarik estetis yang luar biasa, namun proses penentuan karya mana yang benar-benar layak dan siap diterjemahkan masih memerlukan kurasi yang selektif serta matang.

Dari sudut pandang distribusi dan diplomasi buku, agen sastra Yani Kurniawan membagikan realitas berharga mengenai dinamika di pameran-pameran buku internasional. Yani mengungkapkan, pertanyaan pertama yang kerap diajukan oleh penerbit asing saat melihat karya dari Indonesia adalah mengenai ketersediaan agen resmi.

“Di pameran internasional, kami biasanya hanya memiliki waktu sekitar 30 menit untuk melakukan pitching di hadapan calon penerbit asing. Dalam waktu yang sangat singkat itu, kami tidak menyampaikan sinopsis biasa, melainkan key selling points dan presentasi mendalam yang membedah keunggulan naskah,” jelas Yani.

Yani menggarisbawahi pentingnya kesadaran kolektif di kalangan penulis untuk memanfaatkan jasa agen sastra ketimbang mencoba menembus penerbit asing secara mandiri. Penulis-penulis Indonesia yang telah berhasil menembus pasar internasional seperti Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, dan Ratih Kumala terbukti didampingi oleh agen profesional. Namun, Yani tidak menampik bahwa operasional keagensian dan proses penerjemahan membutuhkan investasi biaya yang tidak sedikit. Hal ini menjadi tantangan utama yang memerlukan perhatian serta dukungan berkelanjutan (sustainability) dari pemerintah.

Melengkapi perspektif ekosistem tersebut, Suhindrati Shinta selaku perwakilan penerbit menegaskan bahwa penembusan pasar global sangat bergantung pada kekuatan jaringan (networking) dan peran kurator.

“Penulis atau penerbit lokal sering kali tidak bisa langsung mengetuk pintu penerbit luar negeri tanpa adanya koneksi yang kuat. Peran figur kurator atau institusi akademik, seperti komunitas dan akademisi di Bloomington, sering kali menjadi faktor penentu masuknya sastra kita ke ranah global,” ungkap Shinta.

Shinta juga mengingatkan bahwa predikat best seller di dalam negeri tidak serta-merta menjamin sebuah buku akan dilirik oleh penerbit internasional. Faktor utama yang paling dicari adalah nilai universalitas cerita yang sanggup melintasi batas budaya. Selain karya fiksi dewasa, Shinta mencatat bahwa sektor buku anak (children’s literature) asal Indonesia saat ini memiliki peluang serta minat yang sangat tinggi di pasar global.

Diskusi semakin hangat dengan masukan dan pertanyaan peserta. Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Esha Tegar Putra yang hadri dalam kesempatan itu menggarisbawahi pentingnya membawa sastra Indonesia ke panggung dunia.

“Namun seperti dipaparkan para panelis, dibutuhkan kolaborasi strategis antara kreativitas penulis, profesionalisme agen sastra, kejelian penerbit, serta dukungan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan,” ujar Esha.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait