Pengisi acara dan peserta diskusi. Foto: Udi Utama
PojokTIM – Aceh terus melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan hebat yang tidak hanya berhasil membangun infrastruktur (fisik), tetapi juga ilmu pengetahuan, sebagaimana diwariskan Sultanah Safiatuddin. Kini, Kota Banda Aceh pun dipimpin oleh perempuan, Illiza Sa’aduddin Djamal. Penyair LK Ara berhasil menyandingkan keduanya dalam sebuah puisi yang apik, yang kemudian dijadikan judul buku.
Demikian terungkap dalam acara peluncuran dan diskusi dua buku antologi puisi karya LK Ara, yakni Syair Riwaayat Sultanah Safiatuddin dan Restu (Catatan Perjalanan/Travel Notes) di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (28/3/2026).
“Sultanah Safiatuddin bukan hanya membangun bandar dan pelabuhan, tetapi juga menanamkan ilmu pengetahuan. Istananya menjadi madrasah besar yang melahirkan pemikir-pemikir besar. Setiap keputusan politiknya terasa sebagai ijtihad yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tetapi juga kepada Tuhan,” ujar LK Ara dalam diskusi yang dipandu Mustafa Ismail.
Sosok LK Ara memang uni. di usianya yang ke-88, ia masih terus berkarya. “Saya sengaja menyampaikan materi sambil berdiri untuk menguji apakah saya masih sanggup berdiri lama di depan mikrofon tanpa gemetar,” candanya.
Hal itu pula yang mendorong Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Octavianus Masheka, tergugah menyelenggarakan acara peluncuran dan diskusi buku karya LK Ara.
“Saat ini tinggal beberapa sastrawan dan penyair yang di usia senjanya masih berkarya. LK Ara mungkin tidak menghasilkan karya puncak (masterpiece) sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri atau Taufiq Ismail. Namun dibanding keduanya, LK Ara sangat istimewa karena masih berkarya,” ujar Octa.
Kegiatan kali ini merupakan yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh TISI. “Mudah-mudahan masih akan lahir buku-buku karya LK Ara, dan TISI siap memperkenalkannya kepada publik secara luas dalam bentuk peluncuran dan diskusi,” tegas Octa.
Narudin Pituan yang tampil sebagai pembahas utama dalam diskusi tersebut menyebut, secara estetika dan diksi, LK Ara berhasil melampaui kecerdasan buatan (AI) karena kemampuannya memilih kata dan meramunya menjadi sesuatu yang indah dan sarat makna. LK Ara dinilai telah mencapai risiko bahasa sehingga berani bermain-main dengan makna.
“Saya menyebut buku Restu sebagai puisi nostalgik, sebutan untuk puisi perjalanan,” kata Narudin yang dikenal luas sebagai kritikus sastra.
Secara keseluruhan, lanjut Narudin, ikhtiar LK Ara melalui puisi-puisi catatan perjalanan sangat menarik dikaji secara semiotik karena banyak isyarat yang saling menjelaskan secara indeksikal (sebab-akibat). Satu hal yang tak dapat dimungkiri, puisi-puisi LK Ara selalu menampilkan kompetensi puitis yang terlatih selama puluhan tahun hingga usianya kini.
“LK Ara ternyata tidak hanya mahir menulis puisi-puisi sufistik, tetapi juga terampil menulis puisi-puisi catatan perjalanan,” terang Narudin.

LK Ara
Acara yang dipandu Rissa Churria dan diisi dengan pentas Didong dan Macapat serta pembacaan puisi oleh sejumlah penyair seperti Imam Ma’arif, Ical Vrigar, Jose Rizal Manua, Willy Ana, dan Fanny J. Poyk itu juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, yang membacakan sambutan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin.
“Beliau sangat ingin hadir dan sudah di Bandara Jakarta. Namun mendadak ada panggilan tugas dari salah satu kementerian sehingga menugaskan saya untuk membacakan sambutannya,” ujar Sulaiman.
Dalam sambutan tertulisnya, Illiza mengapresiasi Syair Riwaayat Sultanah Safiatuddin. Menurutnya, Safiatuddin merupakan simbol kebijaksanaan dan keteguhan dalam menjaga martabat negeri.
“Syair Sultanah Safiatuddin dapat menjadi penguatan nilai-nilai sejarah, sejalan dengan komitmen saya untuk tidak hanya memajukan Banda Aceh secara fisik, tetapi juga ilmu pengetahuan, serta melanjutkan nilai-nilai keadilan dan keberpihakan kepada rakyat,” ujar Wali Kota.





