PojokTIM – Nuansa etnik tergambar jelas sejak memasuki aula Graha Bakti Budaya (GBB) di Kompleks Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PJK TIM), Sabtu (15/11/2025) malam. Puluhan alat musik tradisional seperti kendang, bonang, kendang Sunda, saron, saluang, rebab, saung gauk, gender hingga sitar India dan lain-lain, memenuhi panggung pementasan world music Mahagenta bertajuk Lentera Katulistiwa. Alat-alat musik tradisi tersebut dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar elektrik, keyboard, dan piano.
Penyanyi Ita Permata, Desya, Anda, Sizu, Anton Leily Aspari tampil kompak membawakan lagu-lagu yang memuja keindahan alam Indonesia dan ragam budayanya. Atraksi Uyung Mahagenta dan pemusik lainnya menabuh guci benar-benar menghibur. Kecepatan tangan dan harmoni suara yang dihasilkan, begitu ritmis. Demikian juga penampilan puluhan penari dengan gerakan yang sangat cepat baik sambil duduk maupun berdiri yang mengingatkan penonton pada tarian Saman dari Aceh.
Selain pementasan tradisi, juga dihadirkan pembacaan puisi oleh anggota Dewan Kesenian Jakarta, Imam Ma’arif, serta atraksi melukis di sebelah panggung oleh Ungki Teumenteu. Selama 2 jam lebh pendengaran dan mata penonton diajak menjelajah ke ruang-ruang musik yang mungkin masih asing namun menghanyutkan.

Mahagenta adalah kelompok musik yang beridri sejak 11 September 1996 dan terus berkembang baik dari keanggotaan maupun penciptaan karya. Sebagai kelompok musik yang hidup di masa kini di mana nilai-nilai budaya yang bersifat tradisional nyaris tersingkir, Mahagenta tetap berupaya untuk menghasilkan karya-karya bernuansa nusantara.
“Mahagenta mencari jalan bagi kekreatifan bermusik dengan mengeksplorasi berbagai alat musik tradisional maupun konvensional sehingga elemen musiknya kaya dan bercampur-baur,” demikian keterangan dalam leaflet yang dibagikan.
Dalam kesempatan sebelumnya, Uyung menyebut, Mahagenta menciptakan musik sendiri yang kadang disesuaikan dengan kebutuhan pentas. Misalnya dalam pementasan tema Lentera Katulistiwa, maka lirik-liriknya dekatkan dengan kekayaan seni budaya Indonesia.
“Aransemen Mahagenta berangkat dari kekayaan yang ada di sekitar kita, kekayaan lokal, tidak mengutip dari luar. Karena di seputar kita banyak hal-hal menarik yang belum dieksplorasi oleh pemusik lain. Musik Mahagenta juga selalui inovatif, kekinian, dan penuh dengan gagasan-gagasan brilian yang merupakan hasil dari kontemplasi. Banyak yang menggarap musik bertele-tele, lama, usang dan membosankan. Sementara musik Mahagenta, singkat, padat dan jelas,” terang Uyung.
Setiap tahun, Mahagenta selalu mengadakan pementasan rutin, terutama perayaan hari jadinya. Sejak berdiri, Mahagenta sudah merilis 2 album. Saat ini sedang prepare untuk 3 album sekaligus
“Kami punya utang album. Kebetulan sudah ada 30 lagu, jadi rencananya 1 album berisi 10 lagu,” kata Uyung.





