Ketika Anak-anak dan Remaja di Bawah Bayang-bayang Algoritma

Riri Satria

Oleh Riri Satria

Beberapa hari yang lalu saya membaca pernyataan dari Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid yang mengusulkan agar anak-anak di bawah usia enam belas tahun tidak memiliki akun media sosial. Alasannya cukup jelas, yaitu melindungi mereka dari berbagai risiko digital seperti cyberbullying, manipulasi informasi, hingga penyalahgunaan identitas. Ketika pertama kali membaca usulan itu, saya tidak langsung merasa harus setuju atau menolak. Saya justru merasa perlu merenung sejenak, sebab persoalan ini tidak sesederhana kelihatannya. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam, yaitu bagaimana sebenarnya masa remaja berlangsung di zaman yang seluruh ruang sosialnya telah disusupi oleh teknologi digital, serta berada di bawah bayang-bayang algoritma.

Dalam psikologi perkembangan, masa remaja selalu dipahami sebagai masa pencarian jati diri. Erik Erikson menyebutnya sebagai tahap ketika seseorang bergulat dengan pertanyaan tentang identitas, siapa dirinya, dan bagaimana ia ingin hadir di dunia. Pada generasi sebelumnya, pergulatan itu biasanya terjadi dalam ruang yang relatif nyata, yaitu keluarga, sekolah, sahabat sebaya, lingkungan sosial yang bisa disentuh secara langsung. Identitas dibangun melalui percakapan, konflik kecil, kegagalan, dan keberhasilan sederhana yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Namun generasi muda hari ini tumbuh dalam ruang yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan manusia lain, tetapi juga dengan sistem digital yang terus-menerus mempelajari perilaku mereka. Ketika seorang remaja membuka TikTok, menjelajahi foto-foto di Instagram, atau tenggelam dalam video di YouTube, ia sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah mesin algoritmik yang bekerja tanpa henti membaca preferensi, emosi, dan perhatian manusia.

Di sinilah para peneliti mulai menggunakan istilah yang cukup menggugah, yaiu algorithmic adolescence, yaitu ebuah konsep yang menjelaskan bahwa masa remaja generasi sekarang berlangsung di bawah pengaruh algoritma. Setiap klik, setiap jeda beberapa detik pada sebuah video, setiap tanda suka, semuanya menjadi data yang dipelajari oleh sistem. Dari situ algoritma menyusun pola minat seseorang dan kemudian menyajikan konten yang semakin sesuai dengan pola tersebut. Tanpa terasa, remaja tidak hanya memilih konten, tetapi juga secara perlahan dipilihkan konten oleh sistem yang ingin mempertahankan perhatian mereka selama mungkin.

Saya sering membayangkan bagaimana proses ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari seorang remaja. Hari ini ia menonton beberapa video tentang kebugaran tubuh. Besok algoritma menyajikan lebih banyak konten tentang standar tubuh ideal. Lusa ia mulai membandingkan dirinya dengan gambaran tubuh yang terus-menerus muncul di layar ponselnya. Dalam lingkaran kecil yang tak terlihat itu, identitas perlahan dibentuk bukan hanya oleh pengalaman nyata, tetapi juga oleh arus rekomendasi digital yang tidak pernah berhenti.

Psikologi perkembangan sebenarnya memberi kita alasan kuat untuk berhati-hati terhadap situasi seperti ini. Jean Piaget menunjukkan bahwa kemampuan berpikir reflektif dan kritis manusia berkembang secara bertahap. Pada awal masa remaja, kemampuan itu belum sepenuhnya matang. Bahkan dari sudut pandang neurosains, bagian otak yang bertanggung jawab terhadap kontrol impuls dan pengambilan keputusan jangka panjang baru berkembang sepenuhnya pada usia yang jauh lebih dewasa. Artinya, para remaja sedang berada dalam fase ketika mereka belajar mengendalikan diri, tetapi pada saat yang sama mereka hidup di dalam sistem digital yang dirancang untuk terus memancing perhatian dan emosi mereka.

Ketika saya mencoba melihat persoalan ini lebih luas, ternyata Indonesia bukan satu-satunya negara yang memikirkan hal serupa. Pemerinah Australia pernah mengusulkan pembatasan usia akses media sosial yang lebih ketat sebagai respons terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi pada remaja. Di Pancis, pemerintahnya mengeluarkan regulasi yang mendorong pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia tertentu tanpa persetujuan orang tua. Sementara itu di Amerika Serikat, diskusi mengenai regulasi teknologi untuk melindungi kesehatan mental remaja juga semakin intensif, terutama setelah banyak penelitian menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial yang sangat intensif dengan meningkatnya gangguan psikologis pada remaja.

Menariknya, banyak kebijakan tersebut tidak selalu berupa larangan total. Sebagian besar negara mencoba mencari jalan tengah, antara lain pembatasan usia, verifikasi orang tua, atau pengaturan desain platform agar tidak terlalu eksploitatif terhadap psikologi anak. Ini menunjukkan bahwa dunia internasional juga sedang mencari jawaban yang belum sepenuhnya jelas. Kita semua sedang belajar memahami fenomena baru ini.

Di titik ini saya mulai melihat usulan pembatasan usia media sosial dengan cara yang sedikit berbeda. Ia bukan semata-mata persoalan teknis tentang boleh atau tidak boleh. Ia lebih menyerupai sebuah kegelisahan kolektif masyarakat yang mulai menyadari bahwa generasi muda kita sedang tumbuh dalam lingkungan yang sama sekali baru, yaitu lingkungan yang tidak hanya dipenuhi manusia, tetapi juga algoritma yang mengelola perhatian dan emosi.

Namun saya juga merasa bahwa larangan semata tidak akan pernah cukup. Dunia digital terlalu luas untuk ditutup dengan regulasi sederhana. Anak-anak selalu menemukan jalan untuk menembus batas yang dibuat oleh orang dewasa. Justu jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah ekosistem ekonomi perhatian yang sangat canggih, yang dirancang untuk membuat manusia terus kembali ke layar.

Karena itu, jika saya harus mengambil posisi, saya cenderung melihat gagasan pembatasan usia ini sebagai langkah yang dapat dipahami, bahkan mungkin perlu, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Ia harus disertai pendidikan literasi digital yang serius, baik bagi anak-anak, orang tua, maupun masyarakat secara luas. Tanpa itu, larangan hanya akan menjadi pagar yang mudah dilompati.

Ketika saya memikirkan generasi muda hari ini, saya sering merasa bahwa mereka sedang menjalani sebuah masa remaja yang berbeda dari semua generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi pertama dalam sejarah manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang algoritma. Jika dulu keluarga, sekolah, dan komunitas menjadi aktor utama dalam pembentukan identitas, sekarang ada kekuatan baru yang diam-diam ikut membentuk cara mereka melihat dunia.

Dan di situlah kegelisahan kita sebenarnya bermula. Kita mulai menyadari bahwa masa remaja yang seharusnya menjadi ruang bagi manusia muda untuk mengenal dirinya sendiri, kini juga menjadi ruang di mana algoritma ikut berbisik, ikut mengarahkan, bahkan mungkin ikut menentukan arah perjalanan identitas mereka. Dalam situasi seperti itu, keinginan untuk memberi jarak sejenak antara anak-anak dan dunia algoritmik mungkin bukanlah bentuk ketakutan terhadap teknologi, melainkan sebuah usaha sederhana untuk menjaga agar masa remaja tetap memiliki ruang bagi manusia untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.

Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait