PojokTIM – Deru kereta bukan hanya bunyi besi bertemu besi. Ia juga bisa menjadi bahasa—jika kata-kata bersedia berjalan bersamanya. Itulah yang dipersoalkan dalam acara bedah buku antologi puisi Stasiun Rupa Aksara karya Erna Winarsih Wiyono, yang digelar di Toko Buku Patjar Merah, Pos Bloc, Jakarta Pusat, Jumat (5/2/2026).
Acara yang dihadiri penyair, akademisi, dan pengunjung toko buku itu berubah menjadi perbincangan tentang puisi, tubuh, trauma, dan perjalanan. Ketua Sastra Jagat Milenia (JSM), Riri Satria, membuka diskusi dengan nada kritis sekaligus reflektif. Menurutnya, buku ini terasa minim bahasa estetik dan puitik, terlalu gamblang, seperti pembacaan lurus atas kereta yang melintas.
“Seperti kita membaca kereta yang lewat. Bahasanya lugas, nyaris tanpa kabut metafora,” ujar Riri mengawali diskusi yang dipandu Rissa Churria, penyair yang juga pendidik.
Namun justru dari kegamblangan itulah diskusi berkembang ke wilayah yang lebih dalam: puisi sebagai terapi, bukan sekadar ornamen bahasa.
Riri juga membedah buku ini melalui pendekatan sains data, Berdasar analisis kuantitatif berbasis AI, ditemukan bahwa kata “perempuan” muncul 35 kali, sedangkan “hujan” 11 kali. Secara kualitatif, teks ini bergerak dalam ruang dan waktu—dua medan yang tidak hanya geografis, tetapi juga batiniah.
“Di tangan Erna, alam tidak lagi sekadar pemandangan. Ia tampil sebagai tubuh yang ikut menderita. Sebagai luka,” lanjut dosen Universitas Indonesia itu.
Panelis lain, Magdalena P. Rotua dari Galeri Cinta Damai, mengajak hadirin melihat perbedaan sastra dan visual. Hal itu karena Erna juga dikenal sebagai perupa. Menurutnya, visual justru berhenti pada rupa, sementara sastra mengajak pembaca berputar-putar dalam imajinasi.
“Visual mengajak kita diam, memberhentikan imajinasi. Tapi sastra mengajak kita muter-muter. Nah, Erna berada di dunia posisi itu. Ini agak mengejutkan bagi saya,” terangnya seraya menyebut kehadiran tokoh laki-laki dalam buku ini (Teddy Arte) sebagai penguat persimpangan Hawa dalam perjalanan batin. Tempat di mana ia harus pulang.
“Kita harus mengosongkan pikiran dulu untuk bisa mengikuti perjalanan Erna,” lanjutnya.

Sementara Yeffa Afnita Apriliyani, dosen bahasa dari Universitas Indraprastha, lebih menyoroti banyaknya informasi yang sengaja dilesapkan dalam puisi-puisi Erna. Ia menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar catatan perjalanan Commuter Line.
“Ini bukan soal stasiun mana yang dilewati, atau kursi mana yang dipesan. “Tapi memilih kursi paling nyaman di dalam diri.” Setiap penumpang, menurut Yeffa, memiliki stasiun akhirnya sendiri.
Ia juga mengingatkan bahwa secara ilmiah, karya sastra yang sudah dipublikasikan bukan lagi milik penulis, melainkan milik pembaca. “Terserah pembaca, apa yang ingin mereka temukan.”
Dalam tafsirnya, Stasiun Rupa Aksara berisi trauma dan luka, namun dipanggul sebagai upaya penyembuhan. Tidak semua perjalanan berakhir dengan fatal. Sebagian lainnya diserahkan kepada Tuhan.
“Sara sudah melakukan semua, sekarang semua terserah Tuhan,” ucap Yeffa, merujuk pada salah satu figur dalam puisi.
Erna Winarsih Wiyono mengakui, puisi-puisi dalam Stasiun Rupa Aksara memang lahir dari praktik menulis sebagai mental healing. Catatan perjalanan itu ditulis secara mencicil, di dalam kereta, dari stasiun ke stasiun, seolah setiap perhentian adalah jeda untuk menyusun luka menjadi baris.
Menurutnya, buku itu adalah catatan perjalanan yang lahir dari waktu tunggu: di dalam kereta, dari stasiun ke stasiun. Edisi kedua buku ini mengalami penambahan ilustrasi penari; sebelumnya hanya ada figur perempuan yang menatap kereta.
Adapun Toko Buku Patjar Merah, tempat acara berlangsung, dikenal sebagai ruang yang merawat buku-buku langka. Di sana, pengunjung bahkan bisa saling bertukar buku—seolah kata-kata juga diajak berpindah tangan, berpindah makna.
Acara degan MC Nurhayati semakin semarak dengan adanya tanya jawab. Bukan sekadar membedah puisi, namun berkembang menjadi perbincangan tentang bagaimana perjalanan bisa ditulis sebagai luka, dan luka bisa dibaca sebagai perjalanan. Di antara rel kata dan stasiun imajinasi, Stasiun Rupa Aksara mengajak pembaca menunggu—bukan hanya kereta, tetapi juga diri sendiri.





