Mengupas Seni Membaca Makna di Balik Fakta Bareng JSM

 

PojokTIM – Menjelang waktu berbuka puasa, Jagat Sastra Milenia (JSM) menggelar kegiatan ngabuburit yang berbeda. Bertempat di Resto Minang Eethuis, Jakarta, Sabtu (14/3/2026), JSM mengajak para pegiat literasi berdiskusi santai namun berbobot mengenai teknik menulis yang melampaui sekadar catatan fakta.

Diskusi yang dimulai pukul 16.30 WIB ini menghadirkan Ketua JSM Riri Satria sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, Riri membedah esensi menulis interpretatif—sebuah pendekatan yang berangkat dari fakta namun tidak berhenti di permukaan saja.

Proses Berpikir

Dalam pemaparannya, Riri menekankan bahwa menulis pada hakikatnya adalah proses berpikir yang panjang dan mendalam.

“Kita menulis untuk memahami dunia, untuk menjelaskan sesuatu yang sering kali terasa terlalu kompleks jika hanya dibiarkan sebagai peristiwa yang lewat begitu saja,” ujar Riri di hadapan para peserta.

Menurutnya, menulis interpretatif menuntut penulis untuk:

  1. Mengenali fakta secara utuh.
  2. Membandingkannya dengan pengetahuan lain.
  3. Menghubungkan fakta tersebut dengan konteks sejarah dan pengalaman manusia.

“Interpretasi lahir dari posisi tertentu. Setiap penulis memiliki sudut pandang unik terhadap dunia. Karena itu, menentukan point of view menjadi krusial dalam tulisan interpretatif,” tambahnya.

Interpretatif vs Kreatif

Diskusi ini juga menyoroti perbedaan antara tulisan interpretatif dan kreatif. Jika menulis kreatif memberikan ruang luas bagi imajinasi untuk membangun realitas baru, maka menulis interpretatif tetap berpijak pada fakta yang ada, namun berusaha membedah realitas tersebut secara lebih mendalam.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan teknis, mulai dari cara membedakan fakta dan opini hingga kiat mengasah kepekaan terhadap makna tersembunyi dalam keseharian.

Suasana Resto Minang Eethuis yang hangat menjadikan momen ngabuburit ini tidak hanya sekadar ajang silaturahmi Ramadan, tetapi juga ruang belajar yang inspiratif bagi para penulis di ibu kota.

“Menulis tidak pernah selesai dipelajari. Ia hanya berkembang melalui cara sederhana: terus membaca, menulis, dan berlatih. Dalam setiap latihan menulis, sebenarnya kita sedang berlatih membaca kembali kehidupan,” tutup Riri.

Jagat Sastra Milenia berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan literasi serupa di masa mendatang guna memperkuat budaya baca dan tulis yang bermakna di masyarakat.(RC)

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait