Ngabuburit Roadshow Hadirkan Spirit Ramadan dan Puisi

Penampilan grup musikalisasi puisi Anak Matahari membawakan Intifada karya Helvy Tiana Rosa. Foto: PojokTIM

Pojoktim – Suasana senja di pelataran plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, tampak berbeda pada Jumat (13/3/2026). Deretan kursi, panggung sederhana, serta wajah-wajah penyair dan penikmat sastra yang berdatangan menjadi penanda digelarnya kembali agenda tahunan Ngabuburit Roadshow oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI).

Mengusung tema Aku Berlari-lari Kecil MenujuMu, kegiatan ini menghadirkan pertemuan antara ruang spiritual Ramadan dan ekspresi estetik sastra. Setelah rangkaian pembacaan puisi dan dialog budaya, acara ditutup dengan buka puasa bersama, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat di tengah denyut kota metropolitan.

Menurut Ketua TISI, Octavianus Masheka, Ngabuburit Roadshow merupakan program rutin tahunan yang kini memasuki pelaksanaan ke-6. Sejak pertama kali digelar, kegiatan ini dirancang sebagai ruang silaturahmi sekaligus medium penguatan jejaring komunitas sastra.

“Setiap Ramadan kami berupaya menghadirkan sastra di ruang publik. Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini dilaksanakan secara roadshow di lima wilayah DKI Jakarta. Namun tahun ini dipusatkan di satu lokasi saja, yakni Taman Ismail Marzuki,” ujar Octa.

Menurutnya, keputusan pemusatan kegiatan merupakan bagian dari koordinasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Pihak dinas mengusulkan agar pelaksanaan Ngabuburit Roadshow tahun ini diselenggarakan dalam satu momentum yang terfokus.

“Ibu Sekretaris Dinas meminta agar kegiatan dilaksanakan sekali saja dan dijadikan satu tempat. Kami memandang ini sebagai kesempatan untuk menghadirkan energi kolektif komunitas sastra dalam satu panggung,” tambahnya.

Tema Aku Berlari-lari Kecil MenujuMu dipilih sebagai metafora perjalanan spiritual manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam suasana Ramadan yang sarat nilai religius, puisi menjadi medium refleksi batin sekaligus ruang dialog kemanusiaan.

Ngabuburit Roadshow tahun ini menghadirkan sejumlah penyair dan seniman lintas generasi, di antaranya Helvy Tiana Rosa, Jose Rizal Manua, Ical Vrigar, Rissa Churria, Exan Zen, Imam Ma’arif, Kurnia Effendi, Fikar W Eda, Devi Malahari, Eva Yenita Syam, Iyas Jayadibumi, dan lain-lain, dengan pembaca acara Dewi Arfiani.

Kehadiran para penyair tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya ruang ekspresi kreatif, tetapi juga ruang perjumpaan ide, pengalaman, dan visi kebudayaan yang beragam.

Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, Andri Ferdian memberikan sambutan pada acara Ngabuburit Roadshow di TIM. Foto: PojokTIM

Kegiatan Ngabuburit Roadshow mendapat sambutan positif dari Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, Andri Ferdian.  Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan, ia menilai, kegiatan sastra di bulan Ramadan memiliki peran penting dalam membangun suasana kebersamaan sekaligus menyejukkan ruang publik.

“Dalam Ramadan, silaturahmi harus diutamakan agar situasi Jakarta semakin adem, sebagaimana harapan Bapak Gubernur (Pramono Anung),” ujarnya.

Terkait kebijakan pelaksanaan yang hanya dipusatkan di satu lokasi, Andri Ferdian menegaskan bahwa hal tersebut bukan bentuk pembatasan, melainkan penyesuaian jadwal karena banyaknya agenda kebudayaan lain yang berlangsung bersamaan.

“Mungkin ke depan pembacaan puisi dapat dikolaborasikan dengan kegiatan lain agar lebih membumi dan menjangkau masyarakat luas,” katanya.

Ngabuburit Roadshow di TIM menunjukkan bahwa sastra masih memiliki daya hidup di ruang publik perkotaan. Kegiatan ini menjadi titik temu antara komunitas sastra, pemerintah, dan masyarakat umum dalam satu momentum kultural yang sarat makna.

Dengan memanfaatkan momentum Ramadan, TISI berharap sastra dapat semakin dekat dengan masyarakat luas dan menjadi medium refleksi bersama. “Kami ingin sastra tetap hidup, tidak hanya di ruang komunitas, tetapi juga di ruang publik,” ujar Octavianus.

Ngabuburit Roadshow tahun ini menjadi bukti bahwa di tengah hiruk-pikuk kota, puisi masih mampu menghadirkan ruang hening—tempat manusia berlari-lari kecil menuju makna, menuju sesama, dan menuju Yang Maha Kuasa.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait