Obskuritas Perangsang Kuriositas Dalam Lisensia-Puitika

Oleh Wardjito Soeharso

Apa sih obskuritas? Secara semantik ontologik, obskuritas lengket melekat dalam tubuh puisi. Puisi diaphan mapun prismatik tetap perlu obskuritas dalam tampilan diksi, meskipun dalam kadar tingkat (level) yang berbeda.

Puisi diaphan tingkat obskuritasnya tidak perlu terlalu pekat. Cukup samar-samar atau remang-remang saja. Seperti siluet berbayang di balik kaca buram tersiram air mengalir. Meskipun bentuk dan warna tidak jelas, tetapi gambaran ketidak jelasan bentuk masih bisa memberi identifikasi siluet apa sesungguhnya yang terbayang dari balik kaca buram basah itu.

Berbeda dengan obskuritas yang terkandung dalam puisi prismatik. Dia harus betul-betul menjadi sesuatu yang simbolik, metaforik, bahkan analogik, dari apa yang sesungguhnya menjadi imajinasi penyiarnya.

Obskuritas dalam puisi prismatik bisa menjebak  bahkan menyesatkan pembaca dari yang sesungguhnya dimaknai oleh penyiarnya. Obskuritas dalam puisi prismatik memberi nuansa unik, beda, absurd, insanitas, enigmatik, yang kadang sangat kabur, di luar kapasitas pembaca (penikmat) untuk memberi respon (reaksi) dalam bentuk eksegetika (interpretasi kritikal) sebagai penghormatan dan penghargaan.

Ya, obskuritas dibutuhkan seadanya, secara sederhana, norma tika, dalam puisi diaphan, tetapi menjadi nilai estetika, signifikansi simbolistik, metaforik, analogik, memberi warna unik, absurd, bahkan imajinatik, saat tampil memperkuat puisi prismatik.

Lalu apa itu Kuriositas? Secara semantik ontologik, Kuriositas adalah energi pemberi kekuatan makna dalam puisi. Energi yang merangsang pembaca (penikmat) untuk lebih tajam, lebih menukik dalam, berpikir mengorek mencungkil makna dan nilai moral yang menjadi jiwa pencerah dari puisi.

Kuriositas lebih menunjuk pada semangat pembaca (penikmat) menangkap rangsangan puisi untuk mengembangkan interpretasi secara unik, beda, yang memiliki warna personl. Warna subyektif yang mesti di luar kewajaran dan kenormalan orang biasa bereaksi terhadap rangsangan.

Kuriositas memang sering berbeda, karena munculnya sangat dipengaruhi sensitivitas pikiran, perasaan, bahkan naluri, yang setiap orang pasti membentuk selera keingin tahuan berbeda.

Kuriositas sangat dipengaruhi naluri ingin tahu. Semakin banyak ingin tahu, semakin tinggi talenta kuriositas. Semakin tinggi kuriositas, semakin menanjak tinggi dialektika menuju puncak capaian sesuai harapan. Semakin rendah keingin tahuan, semakin malas otak berpikir. Semakin dangkal dialektika. Yang ada sekedar omong kosong tanpa makna.

Obskuritas Perangsang Kuriositas dalam Puisi

Obskuritas selalu ada, bahkan menempel ketat dalam puisi, sebagai pembentuk keindahan dan keunikan (estetika). Obskuritas muncul dalam bayangan diksi, pilihan kata-kata simbolistik, metaforis, serta frasa analogik, yang membungkus nilai moralitas sebagai jiwa pengisi puisi.

Obskuritas yang tepat, tajam, dan menggiring interpretasi pembaca atau penikmat dalam menyerap warna dan aroma nilai kualitas puisi, tentu menjadi kekuatan tersembunyi yang mampu merangsang berpikir lebih dalam sebagai kuriositas yang muncul dari proses menikmati puisi.

Boleh dikata, puisi yang mampu menyodorkan obskuritas yang menantang kuriositas pembaca atau penikmatnya, menjadi puisi yang meninggalkan impresi, memori, “sesuatu” yang indah bermakna, yang terus melekat dalam ingatan sebagai bayangan pencerah yang bisa muncul di bawah sadar. Kapan saja. Di mana saja.

Obskuritas menjadi unsur utama kekuatan puisi. Saking absurdnya obskuritas, masih banyak penyair yang memaknai secara salah. Bukan kuriositas yang ditantang obskuritas, tetapi malah kebingungan yang lebih tendensius kepada lunatika atau insanitas – kegilaan – dalam kebebasan  berekspresi tanpa algoritma deteksi.

Obskuritas kosong kuriositas berbayang kegelapan! Aliran arus bawah sadar lisensia puitika?

 

#kontemplasilisensiapuitika
10.01.2025 – 10:40.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait