PPI Luncurkan Buku Susur Sisir Tengger, Sastri: Istimewa

PojokTIM – Travelogue sastra telah ada sejak zaman Yunani kuno dan tetap menjadi genre sastra non-fiksi yang popular. Ciri dari genre ini menggabungkan unsur-unsur penulisan, perjalanan dan narasi pribadi yang umumnya menceritakan pengalaman, pengamatan, dan refleksi penulisnya.

“Susur Sisir Tengger karya Penyair Perempuan Indonesia memiliki keistimewaan sebagai puisi sastra perjalanan,” ujar Periset Arbastra BRIN, Sastri Sunarti pada acara Festival Perempuan Penyair Indonesia (PPI) di Ruang Serbaguna Lantai 4 Perpustakaan Nasional Jakarta, Sabtu, (15/11/2025).

Selain diskusi dan peluncuran buku antologi puisi Susur Sisir Tengger, Festival PPI juga dimeriahkan dengan pameran karya anggota PPI, dan pertunjukan baca puisi.

Menurut Sastri, Impresi yang muncul terhadap suasana, budaya, dan alam Tengger, Malang, Jawa Timur, memiliki ekpresi yang berbeda pada masing-masing penyair. Setiap penyair memiliki otentisitasnya sendiri. Puisi-puisi dalam antologi ini memiliki informasi yang berlimpah tentang budaya, mitologi, sejarah, adat, dan tatacara hidup masyarakatnya. Keberlimpahan informasi tersebut dapat diekspresikan melalui pilihan kata yang tepat, hemat, dan cermat.

“Perjalanan bersama pada sebuah tempta, masyarakat, budaya, dan alam Tengger oleh sejumlah penyair perempuan melahirkan sebuah puisi perjalanan yang indah, informatif, dan puitis,” terang Sastri.

Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri juga memuji aktifitas yang dilakukan oleh PPI. Menurut nya, imajinasi adalah hal yang paling dicari oleh penyair. Perjalanan ke tempat-tempat berbeda bisa menjadi sumber inspirasi baru.

“Imajinasi sangat penting bagi penyair,bukan kepanggungan yang terutama untuk teater. Bukan berarti mengekspresikan karya di atas panggung tidak penting, namun produksi karya jauh lebih penting bagi seorang penyair,” tegas Tardji.

Sebab produksi puisi tidak beda dengan produksi di bidang lain, seperti mesin atau kontruksi bangunan. Meningkatkan makna terhadap kata-kata, demikian Tardji, adalah meningkatkan makna hidup, yang berguna bukan hanya bagi diri penyair, namun juga masyarakat dan bangsa.

Menurut Ketua PPI, Kunni Masrohanti, peluncuran buku tersebut menegaskan komitmen PPI untuk terus berkarya dalam bentuk puisi sebagai ruang kejujuran dan keberanian dalam menuturkan batin manusia. Melalui puisi, perempuan menorehkan kisahnya: tentang cinta, luka, perjuangan, dan kebijaksanaan.

“Festival PPI hadir sebagai ruang perjumpaan penyair, perayaan karya, dan apresiasi sastra Indonesia. Momentum kolaboratif antara seniman, pelajar, pembaca, dan masyarakat untuk terus menumbuhkan apresiasi terhadap puisi dan peran perempuan di dalamnya. Festival ini merupakan event baru yang akan digelar PPI setiap tahun,” kata Kunni.

Khusus terkait buku, PPI meluncurkannya sebagai sebuah dokumentasi perjalanan kreatif yang bertanggung jawab karena karya yang dihasilkan berbasis riset. Apa yang dikerjakan oleh peserta Pulang ke Kampung Tradisi (PKT), program rutin yang diadakan PPI, harus menjadi dasar untuk berkarya. Buku tersebut juga membuktikan bahwa upaya PPI untuk merawat tradisi adalah langkah yang harus dipertahankan sebagai ciri khas PPI yang ingin merawat Indonesia.

Ditambahkan Ketua Panitia Devie Matahari, festival tersebut bertujuan menumbuhkan apresiasi publik terhadap karya sastra, khususnya karya PPI. Memberikan ruang bagi para penyair perempuan untuk menampilkan karya dan gagasannya. “Mendorong dialog lintas generasi antara penyair, akademisi, dan pegiat budaya, serta menjalin jejaring komunitas sastra perempuan di tingkat nasional,” terang Devie.

Selain dihadiri anggota PPI sendiri dari berbagai daerah, acara diramaikan oleh beberapa komunitas sastra dan budaya, akademisi, mahasiswa, pelajar, serta masyarakat umum pemerhati seni-budaya.

Seperti diketahui, buku antologi puisi Susur Sisir Tengger, merupakan judul yang sama dengan PKT ke-5 yang digelar PPI pada 11-13 Juli 2025 di Ngadas, sebuah desa di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ngadas adalah desa adalah sebuah desa yang merupakan salah satu dari 36 desa Suku Tengger yang tersebat dalam empat kabupaten/kota.

Dari situlah, 25 peserta PKT yang merupakan anggota PPI menuliskan puisi-puisi yang merupakan hasil pulang kampung untuk terjun lebih dekat dan melakukan riset tentang tradisi yang berkembang di masyarakat Ngadas, utamanya. Selain di Ngadas, puisi-puisi itu dihasilkan dari pulang kampung ke wilayah Malang Raya yakni kota dan kabupaten.

Dimulai di kota di Rumah Cengger Ayam, workshop Menulis Puisi Berbasis Tradisi dan Riset bersama penyair dan pendiri Rini Intama di Rumah Budaya Ratna, menyaksikan Padhang Bulan di Mesem Cafe and Art Gallery di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, menginap di Padepokan Seni Mangun Dharmo di Dusun Kemulan. Esok harinya atau hari kedua PPI menghelat Pergelaran Seni Budaya untuk memadukan unsur tradisi di tempat yang didirikan oleh Ki Soleh Adi Pramono, seorang pelestari wayang topeng.

Pada hari ketiga, PKT diisi dengan mengunjungi Candi Jago setelah melihat Candi Kidal dan Candi Singosari pada hari sebelumnya. Lalu ditutup manis dalam teras Sastra Perempuan Indonesia di Rendezvous Kalimetro. Dalam PKT itu pula PPI membedah karya buku puisi Nyulam Kata di Tanah Lada atau relaunching setelah dilakukan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, 10 Juli 2025.

Sampai saat ini PPI telah meluncurkan 5 buku puisi hasil PKT yakni Palung Tradisi (2019), Temanten (2021), Umbul Pasiraman (2023), Ajari Aku Baduy (2024), dan terbaru Susur Sisir Tengger.

“Dari tema-tema itu, membuktikan PPI sangat concern pada penggalian potensi tradisi yang sangat kaya untuk dijadikan bahan berkarya,” tegas Kunni.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait