Suasana diskusi Kick Off Wajah Baru Passer Baroe. Foto: Herman Syahara
PojokTIM – Revitalisasi kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebagai destinasi wisata harus tetap menjaga keaslian nilai sejarah, sekaligus mengembangkan unsur kekinian yang berdampak ekonomi. Modernisasi bangunan, penataan pertokoan, penambahan tenant, serta penguatan UMKM dinilai perlu dilakukan tanpa menghilangkan identitas kawasan yang telah hidup sejak masa kolonial.
Hal itu mengemuka dalam acara Kick Off Wajah Baru Passer Baroe yang digelar di Antara Heritage Center (AHC), Jakarta, Sabtu (7/2). Acara kolaborasi AHC, Komunitas Wisata Kreatif Jakarta, unsur media, dan Pemda DKI Jakarta tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang didominasi generasi muda.
Program Director acara, Toton Hutomi, mengatakan kegiatan ini didedikasikan untuk menyambut program revitalisasi kawasan cagar budaya Pasar Baru yang akan dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia membayangkan Pasar Baru dapat kembali ramai dan viral seperti kawasan Blok M di Jakarta Selatan.
Menanggapi hal itu, Founder Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief, menilai Pasar Baru berpotensi menjadi “Blok M kedua” atau menyerupai kawasan Myeongdong di Seoul, Korea Selatan. Menurutnya, revitalisasi harus mampu mengubah citra Pasar Baru dari kawasan sepi menjadi ruang kreatif yang hidup, tanpa memutus keterhubungan dengan sejarahnya sebagai pusat perdagangan lama Batavia.
“Pasar Baru perlu menarik kafe, kuliner viral, tenant baru, serta menciptakan spot ikonis yang instagramable agar diminati Gen Z,” ujar Ira. Ia juga mendorong hadirnya kegiatan kreatif jalanan, termasuk peragaan busana terbuka ala Citayam Fashion Week, sebagai daya tarik wisata.
Ira menegaskan, kekuatan Pasar Baru terletak pada keberagaman dan multikulturalisme yang terpelihara sejak ratusan tahun lalu. Kawasan ini sejak awal menjadi ruang perjumpaan masyarakat lokal dengan komunitas Eropa, India, Tionghoa, dan Arab yang hidup berdampingan di jalur niaga tua Jakarta.
Sementara itu, perwakilan AHC Sofie Prameswari menjelaskan bahwa Gedung Kantor Berita ANTARA di Pasar Baru merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang dahulu menjadi kantor berita Aneta dan Domei. Dari gedung inilah Proklamasi Kemerdekaan RI pertama kali disiarkan ke dunia.
AHC juga merawat ruang kerja Adam Malik, salah satu pendiri ANTARA yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI. Keaslian lantai, kaca patri, dan perlengkapan kerja tetap dijaga sebagai bagian dari wisata sejarah dan jurnalistik.
Dari sisi kebijakan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan revitalisasi Pasar Baru ditargetkan mulai dilaksanakan pada 2026. Menurutnya, Pasar Baru bukan sekadar pusat perdagangan, melainkan ikon budaya dan sejarah Jakarta yang harus dirawat sebagai bagian dari identitas kota.
Revitalisasi akan diintegrasikan dengan kawasan Lapangan Banteng, Gedung Kesenian Jakarta, dan Kantor Pos Besar. Pemprov DKI Jakarta juga berencana menggandeng sektor perhotelan untuk membuat paket wisata serta membuka kawasan bagi aktivitas malam hari, termasuk street food.
“Pasar Baru pernah ramai dan kemudian sepi pascapandemi. Setelah revitalisasi, minimal keramaian bisa kembali 50 persen,” ujar Rano Karno.
Revitalisasi Pasar Baru diharapkan mampu memadukan pelestarian sejarah, penguatan keberagaman, dan kreativitas generasi muda agar kawasan niaga tua ini kembali menjadi ruang hidup—bukan sekadar ruang dagang. HS





