Sastra Islam Hadir untuk Menyembuhkan Peradaban

PojokTIM – Setiap nabi dianugerahi mukjizat yang selaras dengan tantangan zamannya. Ketika praktik sihir dan kemampuan para dukun begitu berpengaruh di tengah masyarakat Mesir kuno, Nabi Musa diutus dengan mukjizat tongkat yang mampu mengalahkan sihir para pesihir istana. Pada masa Nabi Isa, ketika ilmu pengobatan berkembang dan para tabib menjadi rujukan masyarakat, beliau diberi mukjizat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan menghidupkan orang yang telah meninggal, sebagai tanda kekuasaan Tuhan yang melampaui kemampuan manusia.

Sementara itu, Nabi Muhammad hadir di tengah masyarakat Arab yang sedang berada pada puncak kejayaan sastra. Syair-syair diperlombakan, dihafalkan, dan diagungkan sebagai puncak keindahan bahasa.

“Karena itu Nabi Muhammad mendapat mukjizat berupa Al-Qur’an. Pada masa itu sastra, khususnya syair di Jazirah Arab, sedang mencapai puncaknya. Namun banyak di antara syair itu yang digunakan untuk mengundang setan. Maka turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu indah, yang sekaligus melampaui keindahan sastra mereka,” ujar Habiburrahman El-Shirazy dalam diskusi bertajuk Tadarus Puisi yang diselenggarakan Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Lembaga Seni Budaya Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Balai Sastra PDS HB Jassin, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Diskusi yang dipandu Ayu Puspa Nanda itu juga menghadirkan Ketua HSBI Helvy Tiana Rosa serta penyair Fikar W. Eda sebagai panelis.

Menurut Habiburrahman yang akrab disapa Kang Abik, Islam tidak dapat dipisahkan dari sastra. Namun karya sastra yang lahir dari para penyair Muslim tetap harus menjunjung nilai-nilai keimanan serta bersandar pada Al-Qur’an, hadits, dan sunnah Rasul.

“Sastra Islam hadir untuk menyembuhkan peradaban, bukan sebaliknya” tegas penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kang Abik juga membacakan puisi Catatan Pinggir atas Buku Kekalahan (Hawamisy ‘ala Daftar an-Naksa) karya Nizar Qabbani, yang dikenal sebagai penyair romantis.

Sebelumnya Helvy Tiana Rosa telah mengupas tentang sastra Islam. Ia menyoroti masih adanya stereotipe yang memandang sastra Islam sebagai sesuatu yang kaku, penuh batasan, dan hanya berkisar pada tema-tema religius semata.

Menurut Helvy, pandangan tersebut keliru. Baginya, sastra Islam bukan sekadar kategori tema, melainkan cara memandang dunia melalui cahaya tauhid.

“Sastra Islam bukan sekadar tema religi. Ia adalah cara melihat dunia melalui cahaya tauhid,” ujarnya.

Dengan perspektif tersebut, karya sastra Islam tetap dapat berbicara tentang berbagai persoalan kehidupan manusia—cinta, kemiskinan, penderitaan, hingga berbagai persoalan kemanusiaan—tanpa kehilangan pijakan nilai spiritualnya.

Helvy juga menegaskan bahwa sastra Islam memiliki fungsi yang luas dalam kehidupan masyarakat. Selain menghidupkan kesadaran spiritual manusia, sastra juga dapat menjadi sarana kritik terhadap kezaliman, membela nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus berperan dalam membangun peradaban.

“Ketika bahasa, iman, dan kemanusiaan bertemu, lahirlah sastra yang tidak hanya indah, tetapi juga menyelamatkan makna hidup manusia,” katanya.

Sementara itu, Fikar W. Eda mengulas kekayaan tradisi sastra lisan masyarakat Gayo di Aceh yang telah hidup jauh sebelum tradisi baca tulis berkembang di daerah tersebut.

Menurutnya, sastra lisan Gayo sejak lama berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral, petuah adat, serta ajaran agama kepada masyarakat.

“Sastra lisan Gayo berfungsi sebagai penyampai pesan moral, petuah adat, juga kalam Ilahi dan hadits. Banyak syairnya bersumber dari Al-Qur’an,” terang Fikar.

Acara yang dihadiri sejumlah sastrawan dan pegiat seni itu juga dimeriahkan oleh penampilan musikalisasi puisi dari grup Jejak Aksara SMA Muhammadiyah 4 Jakarta, penampilan Teater Kosong Satu dari SDN 1 Pulogadung, serta kelompok Gen-Z dari Sanggar Matahari.

Apresiasi

Ketika membuka acara yang dipandu Devie Matahari, Ketua Bidang Seni Budaya MUI Drs H Pasni Rusli menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan sastra seperti Tadarus Puisi penting untuk terus dihidupkan, terlebih di tengah berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di dunia.

Ia menyinggung berbagai tragedi kemanusiaan, termasuk yang masih berlangsung di Gaza, yang menuntut hadirnya suara nurani dari para seniman dan sastrawan.

“Sastra bisa menjadi cara untuk menyambungkan empati manusia dengan keadaan dunia hari ini,” ujarnya.

Pasni berharap kegiatan Tadarus Puisi dapat terus dipopulerkan sehingga mampu menghidupkan kembali tradisi sastra Islam sebagaimana pernah berjaya pada masa lalu.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait