Warih: Shantined Berhasil Ubah Aku menjadi Kita

PojokTIM —Shantined berhasil mentransformasi suara “aku” menjadi “kita”, sehingga puisinya bukan hanya ungkapan personal, tetapi juga dialektika kolektif yang merayakan cinta, luka, pengorbanan, dan harapan.

Demikian dikatakan Warih Wisatsana saat membahas buku kumpulan puisi “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca” dan kumpulan cerpen “Saga Serigala dan Sebilah Mandau” karya Shantined yang terbit tahun 2025. Diskusi yang berlangsung di pusat kegiatan Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) di kawasan Renon, Denpasar, Bali berlangsung hangat dan mendalam.

“Puisi Shantined tidak berhenti pada suara pribadi. Ia adalah perayaan kita bersama—bagaimana bahasa, pengalaman, dan kehidupan saling menjelma,” ungkap Warih seraya menambahkan,  karya-karya Shantined merupakan hasil perjalanan panjang lebih dari dua dekade, sejak 2003 hingga 2024.

Acara dibuka meriah oleh duo pewara dari Teater Tahta Denpasar, Indah dan Franilia, yang menghadirkan suasana cair namun khidmat. Sambutan pertama disampaikan oleh Mas Ruscita Dewi atas nama JKP, dilanjutkan sambutan kedua oleh Riri Satria dari Jagat Sastra Milenia (JSM).

Dalam kesempatan itu Riri mengulas singkat perjalanan kreatif Shantined sekaligus menegaskan eratnya silaturahmi dan hubungan kekeluargaan yang telah lama terjalin antara JSM dan JKP.

Sementara Wayan Jengki Sunarta, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi yang dipandu oleh pengelola JKP Ngurah Arya Dimas Hendratno, memberikan telaah kritis atas buku Saga Serigala dan Sebilah Mandau yang berisi 16 cerpen ditulis dalam kurun 2004–2024. Ia menyoroti tema besar buku ini, yaitu perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tokoh-tokoh perempuan dalam cerpen Shantined bayak ditempatkan sebagai korban, namun tidak hanya berhenti di situ, melainkan banyak pula yang melawan bahkan dengan cara ekstrem.

“Shantined menghadirkan perempuan yang tidak pasif. Mereka berani melawan, bahkan dengan pilihan ekstrem. Itulah yang membuat cerpennya relevan sekaligus mengguncang,” ujar Jengki.

Tan Lioe Ie sebagai penanggap menyoroti dimensi kreatif dalam karya Shantined. Ia menekankan bahwa sastra tidak perlu takut pada kerasnya tema, sebab kekerasan sudah lama hidup dalam khazanah sastra klasik, seperti epos Mahabharata. Seni, menurutnya, justru memberi makna baru.

“Kalau memukul dengan kepala, itu namanya preman. Tapi kalau memukul dengan puisi, lahirlah aliran makna. Jangan takut menulis keras, selama ia sudah menjadi karya seni,” kata Tan.

Ruang Bersama

Diskusi ini memperlihatkan bagaimana karya Shantined—baik puisi maupun cerpen—membuka ruang refleksi tentang kehidupan perempuan, kekerasan, trauma, sekaligus keberanian untuk melawan. Sastra, menurut para narasumber, hadir bukan hanya sebagai cermin kenyataan, tetapi juga sebagai medan perlawanan, ruang tafsir, dan pengingat akan pentingnya kebersamaan.

Pada kesempatan itu Shantined juga menjelaskan proses kreatifnya ang selalu didahului ole riset sederhana. Biasanya dia mengunjungi Lembaga Perlindukan Perempuan dan Anak, Lembaga Permasyarakatan Perempuan, mewawancarai berbagai perempuan dengan pengalaman KDRT, bahkan ke area lokalisasi prostitusi. Semua itu menjadi bahan baku untuk Shantined yang dengan penulisan kreatif diolah menjadi cerpen atau puisi. Shantined juga mengaku sedang menyiapkan novel pertamanya.

Acara berlangsung hangat, penuh dialektika, dan dihadiri oleh pegiat sastra, mahasiswa, akademisi, serta komunitas literasi. Kehadiran JKP dan JSM dalam satu panggung memperlihatkan energi kolaborasi yang terus terjaga, menjadi bukti bahwa sastra tetap hidup karena dirawat bersama dalam kebersamaan. (Rissa Churria)

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait