DISKUSI MEJA PANJANG: Berkumpul, Berpikir, Berwawasan

Oleh Ewith Bahar 

PojokTIM – Taman Ismail Marzuki selalu penuh dengan acara. Berbagai komunitas seni dan sastra silih berganti menggelar perhelatan disana. Mulai dari diskusi buku yang berdurasi dua jam sampai pameran yang memakan waktu semingguan. Seniman dan para penikmat seni serta siapa pun yang terkait dengan perihal seni budaya senantiasa terlihat hilir mudik dari pagi sampai malam di kompleks kegiatan seni yang genap berusia 57 tahun pada November 2025 ini.

Di antara sejumlah ragam acara di TIM, forum Diskusi Meja Panjang (DMJ) bisa disebut sedikit berbeda. Acara yang telah memasuki tahun keempat ini, bukan sekadar ajang pertemuan. Adalah Remmy Novaris DM, penyair pendiri Dapur Sastra Jakarta, sebuah komunitas seni budaya yang telah berdiri sejak 5 November 2011, yang menggagas acara ini sebagai alternatif kegiatan yang lebih menekankan pada segi edukatif dengan format diskusi. Kehadiran para narasumber untuk berbagi itulah yang menjadi elemen penting, DMJ menjadi salah satu acara sastra di TIM yang efeknya diharapkan seperti kursus atau sekolah informal.

Tanggal 22 November 2025, pada momen akhir pekan, DMJ mengundang tiga cerpenis perempuan untuk bicara di forum tersebut, mengambil tempat di lantai 4 gedung Ali Sadikin di TIM, yakni ruang Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Ketiga cerpenis itu adalah Helvy Tiana Rosa, Rayni Massardi dan Marina Novianti. Ketiganya punya gaya penulisan berbeda, punya fokus spesifik yang juga tak sama.

Menarik mengetahui bagaimana ketiganya mengolah gagasan cerita. Helvy Tiana Rosa, yang dijuluki sebagai Pelopor Sastra Islam Kontemporer Indonesia oleh majalah Straits Times, tidak melulu menulis dengan sudut pandang Islam secara spesifik. Tema-tema cerpennya sangat kaya. Sejumlah karya fiksinya telah difilmkan. Tentu ada formula tersendiri bagaimana meramu cerita yang tidak saja enak dibaca, tapi juga cocok untuk media film, yang tentu memiliki karakteristik berbeda sebagai media audiovisual. Setiap penulis punya cara sendiri-sendiri, mirip koki barangkali. Belanjaannya bisa jadi sama, tapi hasil akhir masing-masing bisa jauh berbeda. Tiga cerpenis menulis tentang sebotol kecap misalnya, hampir bisa dipastikan muncul tiga cerita yang variatif dari tema tunggal tadi.

Rayni Massardi yang lulusan Sinematografi dari Universitas Sorbonne, Prancis  kebanyakan mengangkat tema seputar kehidupan sosial. Ia cenderung memulai proses penulisannya dari membuat judul. Berbekal judul itulah ia akan nongkrong di depan laptop lalu membiarkan imajinasinya berjalan dan meluncur sedemikian rupa. Konflik sampai ending muncul seperti letupan-letupan dari kawah pikiran.  Sementara penulis lain, mungkin memulainya dengan lebih dulu membuat plot-plot sebagai acuan. Apapun itu, sah saja. Pasti juga berbeda dengan gaya Marina Novianti. Ia senang ide-ide yang tak biasa, dan membuat judul yang menurutnya bisa menggoda rasa penasaran pembaca.

Apapun alasannya, forum diskusi sastra itu perlu. Diskusi sangat bermanfaat untuk mengembangkan soft skills. Audiens dirangsang untuk berpartisipasi aktif, dan ini adalah sebuah kembara intelektualitas yang bernutrisi. Kepala UPT PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim  yang visioner, tak salah mempertahankan program ini selama 4 tahun, karena acara semacam DMJ ini adalah media pengembang wawasan. Tersebab sastra memang bersentuhan dengan sektor-sektor lain seperti sosiologi, psikologi, film, dan lain-lain, maka forum ini menjadi ruang terbuka yang luas untuk menampung kehadiran beraneka pakar keilmuan.

 

*Ewith Bahar adalah penulis dan sastrawan dengan sejumlah karya menumental dalam bentuk cerita pendek dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait