Dari Luka ke Kata: Puisi sebagai Ruang Pulang

Sebuah Catatan untuk Buku Kumpulan Puisi Terbaru karya Emi Suy,
“Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri”

Oleh Riri Satria

Selamat untuk sahabat saya, penyair  Emi Suy atas terbitnya buku kumpulan puisi terbaru berjudul “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri”. Buku ini merangkum puisi-puisi karya Emi Suy dalam kurun waktu tahun 2022- 2025 yang pernah dimuat di berbagai media.

Berangkat dari sebuah kalimat yang sederhana namun menggetarkan, “Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri”, kita seakan diajak berhenti sejenak, menarik napas, lalu menoleh ke dalam diri. Kalimat itu bukan slogan, bukan pula metafora yang dibuat untuk sekadar indah didengar. Ia adalah kesaksian hidup. Ia lahir dari tubuh yang pernah sobek oleh diam, retak oleh pengabaian, dan nyaris runtuh oleh ketidakadilan yang lama disenyapkan. Dari sanalah buku kumpulan puisi terbaru Emi Suy menemukan napasnya.

Buku ini, yang merangkum puisi-puisi Emi dalam rentang waktu 2022–2025, bukanlah sekadar arsip karya yang pernah dimuat di berbagai media nasional dan digital. Menurut Emi, buku ini adalah rumah. Sebuah tempat pulang bagi puisi-puisi yang sebelumnya bertebaran di koran pagi dan linimasa media sosial, dibaca, disentuh sebentar, lalu sering kali dilupakan.  Baginya, puisi-puisi tertentu tidak boleh lenyap begitu saja. Mereka telah melewati dua kurasi yaitu kurasi redaktur yang ketat, dan kurasi yang jauh lebih sunyi berupa pengakuan dari banyak hati manussia yang pernah hampir kehilangan arah.

Dalam teori sastra, kita mengenal gagasan “writing as healing” atau menulis sebagai praktik penyembuhan. Puisi, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan kerja eksistensial. Ia mendekati apa yang oleh Paul Ricoeur (filsuf asal Prancis, 1913-2005) disebut sebagai testimony atau kesaksian personal yang sekaligus memiliki daya etis.

Menurut saya, puisi Emi Suy bekerja di wilayah itu. Ia tidak menawarkan solusi, tidak memberi khotbah tentang ketegaran, apalagi memaksa perempuan untuk selalu tampak kuat. Justru sebaliknya, buku ini menyediakan ruang di mana perempuan boleh rapuh, boleh hancur, dan perlahan dengan tangannya sendiri menjahit serpihan yang tersisa.

Saya teringat ketika pertama kali menyimak proses kreatif buku ini dibicarakan secara terbuka. Saat itu, dalam Diskusi Kosakata: Komunitas Sastra Jakarta Barat bertajuk “Proses Kreatif Emi Suy, Perempuan Penjahit Luka”, yang didukung oleh Komisi Simpul Seni Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan berlangsung di Gedung PPSB Jakarta Barat pada 8 September 2025, dan pada ssaat itu saya menjadi salah seorang narasumber. Buku ini masih dalam tahap persiapan.

Saat itu perbincangan bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang keberanian untuk jujur pada luka. Saya ikut memberi masukan, namun yang lebih kuat saya rasakan justru keheningan yang menyertai setiap cerita di balik puisi-puisi itu.

Saya mengamati bahwa keheningan itulah yang terasa sangat dominan dalam buku ini. Sebagaimana pengantar penyairnya, Emi menulis tentang luka-luka yang tak dapat diserahkan kepada dunia untuk diobati. Ada nyeri yang tidak bisa dititipkan di punggung siapa pun. Maka “menjahit” dari dalam diri sendiri menjadi satu-satunya jalan.

Dalam psikologi trauma, ini mirip dengan konsep “self-agency” yang dikembangkan oleh Dorothea E. Orem, seorang ahli kesehatan asal AS dalam pemikirannya “Self-Care Deficit Nursing Theory” (1914-2007),  yaitu kemampuan individu untuk mengambil alih kembali narasi hidupnya setelah pengalaman traumatik. Puisi-puisi Emi adalah benang-benang kecil yang memungkinkan proses itu terjadi, pelan, tidak selalu rapi, tetapi jujur.

Daya puisi seperti yang disadari Emi, kadang bekerja secara nyaris tak terduga. Ia pernah menyaksikan bagaimana satu larik menjelma tali hidup seseorang. Seseorang yang nyaris mengakhiri hidupnya, lalu memilih bertahan karena membaca sebuah puisi.  Mungkin puisi itu bukan penawar. Tetapi ia menjadi benih kecil cukup untuk menggugah niat bertahan. Di titik inilah sastra menunjukkan kekuatannya yang paling sunyi dan paling radikal, yaitu menyelamatkan tanpa mengklaim apa pun.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah puisi pada Emi tidak pernah benar-benar lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari keseharian, dari percakapan yang terputus, dari keheningan yang terlalu lama dibiarkan, dari pengalaman sebagai perempuan yang berulang kali harus merawat luka tanpa banyak saksi. Proses kreatif Emi bukan proses yang tergesa. Ia lebih menyerupai endapan. Kata-kata mengendap lama di dalam diri, lalu suatu saat muncul dengan tenang, nyaris tanpa teriak, tetapi tepat di tempat yang paling nyeri.

Sebagai perempuan penyair, Emi memiliki suara yang khas. Bukan karena ia berteriak tentang identitas, melainkan karena ia setia pada pengalaman perempuan yang sering kali dipaksa diam. Dalam puisinya luka tidak dipertontonkan, tetapi dihadirkan apa adanya. Tidak dilebihkan, tidak pula disembunyikan. Ini mengingatkan saya pada gagasan Audre Lorde, seorang perempuan penyair, akademisi, serta filsuf (asal AS, 1934-1992), tentang “the transformation of silence into language and action” atau bagaimana pengalaman sunyi, ketika diberi bahasa, dapat menjadi kekuatan yang membebaskan. Puisi Emi bergerak di jalur itu yaitu mengubah diam menjadi kata, tanpa kehilangan kerendahan hatinya.

Kedekatan saya dengan Emi tidak berhenti pada percakapan atau diskusi membahas karya. Kami beberapa kali tampil membaca puisi duet dalam berbagai kesempatan, dan dari situlah saya semakin memahami bagaimana puisinya hidup di luar halaman buku. Kami pernah membaca puisi duet bersama di “Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2023” di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, juga di “Temu Penyair Asia Tenggara ke-2” tahun 2023 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Kami juga beberapa kali berbagi panggung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. sebuah ruang yang selalu menyimpan gema sejarah sastra Indonesia.

Namun, ada satu momen yang paling membekas bagi saya yaitu ketika membaca puisi duet bersama Emi di pelataran Jam Gadang, Bukittinggi, di kampung halaman saya sendiri. Saat itu, puisi terasa menemukan konteksnya yang paling jujur. Kata-kata Emi bertemu dengan ruang yang sarat ingatan personal bagi saya, yaitu angin dingin malam di Bukittinggi, suara langkah orang-orang, dan bayangan masa kecil seolah ikut menjadi bagian dari pembacaan. Di sana saya merasakan bahwa puisi bukan lagi teks, melainkan peristiwa. Ia hidup, bernapas, dan beresonansi dengan tempat serta kenangan.

Buku Algoritma Kesunyian (2023) menjadi semacam simpul yang mempertemukan dua dunia kami yang pada awalnya, tampak berjauhan. Saya dan Emi Suy menuliskannya bersama bukan sekadar sebagai proyek duet, melainkan sebagai dialog yang jujur antara dua cara memandang hidup dan puisi. Jika Emi kerap disebut sebagai “penyair sunyi”, maka saya datang dari wilayah yang sangat berlawanan yaitu dunia teknologi digital, algoritma, dan ilmu komputer, sebuah dunia yang bekerja dengan logika, struktur, dan presisi. Kontradiktif yang saling melngkapi. Begitulah.

Buku Emi yang terbaru ini “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri” dievaluasi oleh kurator Sofyan RH Zaid dan rencananya akan diluncurkan pada Januari atau Februari 2026 mendatang oleh Komunitas Sastra Jakarta Barat (Kosakata). Emi meminta saya sebagai salah satu narasumber pembahas nantinya, di samping Sofyan tentunya.

Dalam buku ini pula, ada dua puisi yang secara personal sangat berarti bagi saya karena memang secara eksplisit ditujukan buat saya, yaitu “Doa” (hal. 125) dan “Jendela Jakarta” (hal. 127). Terima kasih Emi untuk kedua puisi itu.

Menempatkan buku ini dalam lanskap perjalanan kepenyairan Emi Suy, kita melihat kesinambungan yang kuat. Sejak “Tirakat Padam Api” (2011), “Alarm Sunyi” (2017), “Ayat Sunyi” (2019), hingga “Api Sunyi”  (2020) serta “Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami” (2022), Emi konsisten menulis dari wilayah sunyi, dari celah antara doa dan luka. Sebagian dari tulisan dia dalam buku kumpulan esainya “Interval” (2023) pun juga demikian.

Buku ini mempertegas posisi itu. Ia juga berdialog dengan aktivitas Emi di luar sastra seperti kerja sosial kemanusiaan, keterlibatan komunitas, fotografi, seni rupa, serta pentas seni tradisional seperti Lenong Betawi. Semua itu membentuk satu tubuh kreatif yang utuh yaitu tubuh yang paham bahwa seni bukan pelarian, melainkan cara bertahan.

Pada akhirnya, menurut saya buku “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri” bukanlah buku tentang kemenangan. Ia adalah buku tentang keberanian untuk tidak menyerah. Ini tentang menjahit hidup dari dalam, ketika dunia terlalu bising atau terlalu abai. Ia adalah ruang kecil bukan klinik, bukan kuil, melainkan tempat benang-benang makna, sabar, air mata, dan keteguhan dirajut menjadi kemungkinan baru.

Sekali lagi, selamat Emi Suy.

 

Cibubur, 31 Desember 2025

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait