PojokTIM – Tantangan terbesar dari teater anak adalah proses regenerasi yang sangat cepat. Jika mulai bergabung di usia 5 tahun, maka dia hanya bertahan selama 5-6 tahun. Selepas itu, dia tumbuh menjadi remaja sehingga secara alamiah bukan lagi menjadi anggota teater anak. Banyak teater anak yang hanya bertahan semusim karena gagal mengawal proses regenerasi tersebut.
Teater Tanah Air adalah salah satu, kalau tidak mau disebut satu-satunya, teater anak yang mampu melalui tiga zaman dengan proses regenerasi yang mulus. Sejak didirikan Jose Rizal Manua tanggal 14 September 1998, setiap tahun Teater Tanah Air selalu menggelar pementasan di berbagai tempat seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), bahkan keliling dunia.
Teater Tanah Air pernah tampil di Rusia, India, Maroko, Swiss, Kanada, Malaysia, Singapura, termasuk pentas di 9th World Festival of Children’s Theatre di Lingen (Ems), Jerman dan Toyamakenakaoka Bunka Hall, gedung teater di Kota Toyama, Jepang.
Teater Tanah Air telah beberapa kali memperoleh penghargaan sebagai yang terbaik pada Festival Teater Anak-Anak Se-DKI Jakarta, dan telah berhasil meraih prestasi Internasional dengan meraih The Best Performance pada Festival Teater Anak-anak se- Asia-Pasifik The Asia-Pacific Festival of Children’s Theatre di Toyama- Jepang, pada tanggal 1 – 6 Agustus 2004 dengan predikat Best Performance melalui naskar teater seni rupa Bumi di Tangan Anak-Anak karya Danarto.
Kembali meraih The Best Performance pada 9th World Festival of Children’s Theater di Lingen (Ems), Jerman. Tanggal 14 – 22 Juli 2006, dengan predikat Best Director dan Best Performance melalui naskah Spectacle WOW A Visual Theater Performance karya Putu Wijaya.
Teater Tanah Air mempertahankan gelar The Best Performance pada 10th World Festival of Children’s Theater di Moskow, Rusia . Pada tanggal 17 – 25 Juli 2008 dengan naskah Spectacle Peace A Visual Theater Performance karya Putu Wijaya. Karena prestasi yang telah diraih, Teater Tanah Air mendapat kehormatan untuk bergabung dalam International Amateur Theater Association (IATA) dan menjadi grup teater pertama yang mewakili Indonesia.
Atas segala prestasi internasional yang telah diraih, Teater Tanah Air kembali mendapat kehormatan diundang secara khusus untuk tampil di markas besar PBB di Eropa (United Nations Office in Geneva) pada tanggal 20-25 November 2008 yang lalu.
Kemudian pada tanggal 25 – 27 April 2013, Teater Tanah Air mendapat kehormatan, diundang untuk mewakili Indonesia dalam 14th Edition of International Festival of Young Theater in Taza-Marocco.
Tanggal 5 – 8 Desember 2013, Teater Tanah Air kembali meraih The Best Performance pada 13th International Children’s Festival of Performing Arts di New Delhi, India. Tanggal 5 – 14 Juni 2016, Teater Tanah Air diundang untuk mewakili Indonesia pada 14th Festival of Children’s Theater di Stratford, Ontario, Canada.
Tanggal 22-29 Juni 2018 , Teater Tanah Air berpartisipasi dalam 15th World Festival of Children’s Theatre di Lingen , Jerman. Dengan naskah karya Putu Wijaya berjudul Spectacle HELP ! A Visual Theater Performance, dan kembali meraih The Best Performance.
Terbaru, awal Juli 2025, Teater Tanah Air tampil di The 16th World Festival of Children, Lingen, Jerman membawakan naskah Spectacle Ha Iku: A Visual Theatre Performance.
Berikut wawancara Yon Bayu Wahyono dari PojokTIM dengan Jose Rizal Manua.
Bagaimana sambutan pementasan teater Tanah Air di Jerman?
Sambutan pementasan Ha Iku Tanar Air di Jerman sangat luar biasa. Padahal kita ada kendala tiket keberangkatan. Kita baru dapat tiket tanggal 27 Juni dan sampai di Jerman tanggal 28 Juni jam 12 malam. Padahal jadwal pentas jam 8 malam. Jadi kita tidak bisa pentas. Tidak ada slot karena semua sudah dijadwal secara ketat
Saya kemudian diberi kesempatan untuk menceritakan alasan mengapa datang terlambat di Forum Sutradara (Director Forum). Saya jelaskan persoalannya, dan saya presentasikan naskah Ha Iku. Respon para sutradara sangat baik dan meminta agar dipentaskan. Akhirnya dibuatkan jadwal namun tempatnya tidak di gedung teater karena jadwalnya sudah penuh.
Tanggal 2 Juli jam 2 siang kami pentas di Cine World. Para sutradara dan presiden teater ikut menonton. Mereka kagum dan memuji struktur dramatiknya. Mereka mendapatkan ide baru dari pementasan kita seperti layar hitam dengan kunang-kunang, robot, anak-anak main di atas layar. Di akhir pementasan kami mendapat standing applause dan naskah kita mendapat predikat terbaik dari forum sutradara.
Penundaan dari tanggal 28 Juni menjadi 2 Juli, apakah tidak mempengaruhi penampilan pemain?
Penampilan anak-anak tidak masalah. Justru menguntungkan tampil di gedung bioskop yang agak kecil, dibanding jika tetap main di gedung dengan kapasitas 700 penonton. Kita main dengan Plan B, karena pemain yang berangkat hanya 17 anak, dari rencana 30 anak lebih, akibat kesulitan dana dan mendapatkan tiket pesawat. Panggung tetap kelihatan padat meski tarian bulan yang harusnya dimainkan oleh 10-15 anak, hanya dimainkan 5 anak akibat sebagian pemain tidak dapat berangkat.
Berarti harus ada improvisasi?
Tiap latihan kita mengutamakan improvisasi dan spontanitas. Jika anak-anak dilatih 2 hal ini dengan intensif, maka hal itu akan muncul di panggung secara spontan. Bahkan tiba-tiba ada anak 7 tahun berbicara Bahasa Inggris. Itu murni improvisasi karena tidak ada dalam naskah dan juga saat latihan. Itu spontan. Benar-benar surprise dan penonton jadi mengerti apa yang dikatakan.
Apa rencana ke depan?
Tahun Ha Iku akan dimainkan di beberapa negara. Kita sudah dapat undangan pentas dari beberapa negara di Eropa, termasuk Swedia. Namun ada juga undangan main di Jepang. Kebetulan naskah Ha Iku memang tentang persahabatan Indonesia-Jepang. Hanya saja kita sudah 2 kali main di Jepang, sementara di Swedia belum pernah. Jadi masih saya pertimbangkan apakah di Swedia atau Jepang.
Saya juga ingin naskah Ha Iku dimainkan di Yogyakarta, Surabaya, Bali atau kota lain. Kalau kita main di dalam negeri, biayanya tidak besar.
Termasuk kembali mengadakan workshop teater?
Inginnya begitu, jika ada sponsor, supaya teater anak-anak merata. Apalagi jarang ada workshop teater anak-anak sehingga workshop yang diadakan Teater Tanah Air kemarin mendapat disambut luar biasa. Itu pun dibatasi 100 orang. jika tidak (pesertanya) membludak. Idealnya workshop teater anak diikuti 30 peserta sehingga semua mendapat perhatian yang memadai. Dengan 100 peserta, maka jika 1 anak mendapat perhatian 5 menit saja, butuh 500 menit. Terlalu lama bagi anak2, capek. Idealnya workshop teater anak antara 1-2 jam, jangan lebih.
Banyak yang mencoba membangun teatar anak-anak, namun gagal. Di Jakarta ada sekitar 50 grup teater anak-anak. Tetapi karena tidak punya metoda latihan, lama-lama menyusut, tidak bisa berlanjut. Anak-anak bosan. Sebab mereka memaksaka metoda latihan untuk dewasa, dipaksakan ke anak-anak. Tidak cocok. Mestinya didekati dari kacamata anak-anak, melalui game-game, permainan yang disukai, yang tanpa sadar sebenarnya mereka sudah (belajar) berakting.
Proses latihan yang ditawarkan teater Tanah Air adalah keluar dari rutin kebudayaan kemudian masuk ke dalam alam; melakukan penjelajahan terhadap ragam daya imajinasi, ragam daya fantasi, ragam daya asosiasi, ragam daya ekspresi wajah, suara, gerak, daya penghayatan (pikiran, perasaan, kesadaran), spontanitas dan sentuhan rasa seni. Dengan begitu, setiap individu akan mampu menangkap sesuatu ysng dapat membuat sesuatu itu menjadi otentik, unik, bebas dan indah.
Metoda latihan seperti itu membuat anak-anak lebur dalam semangat bermain yang penuh kejenakaan dan keceriaan. Sebagaimana persyaratan dari tontonan yang baik, yaitu harus menyenangkan dan tidak mudah terlupakan. Karena tontonan merupakan nilai yang paling nyata dari apa yang didapat ana-anak dalam menyaksikan suatu pertunjukan. Tontonan yang baik itu ‘mempesonakan’ dengan cara menghadirkan kesempatan bagi anak-anak untuk mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh yang ada, dalam situasi yang menarik, yang bisa dipahami, bermanfaat dan mengasyikkan.
Suatu kesempatan yang melibatkan indentifikasi anak-anak dengan sang protagonis, sang antagonis dan karakter-karakter yang lain dalam lakon tersebut. Dari mana simpati anak-anak tergugah dengan hal yang masuk akal karena dilibatkan dengan situasinya.
Lakon tidak perlu nyata-nyata mengkhotbahi. Anak-anak suka belajar tapi tidak suka digurui. Jadi yang baik adalah memberi kerangka sedemikian rupa di mana tidak dikatakan bagaimana seharusnya, tapi biarkanlah segalanya terjadi secara partisipasi aktif daripada anak-anak terhadap pola tindak-tanduk yang akan mereka ikuti.
*Tulisan ini sudah tayang di Majalah PojokTIM Vol. I





