Puisi-Puisi Bambang Widiatmoko
MUSIM YANG TERKUBUR
Selembar daun gugur dalam musim yang terkubur
Dalam jejak kaki membawaku pulang kembali
Dalam pandangan gadis kecil suku Baduy
Menatapku dengan menyimpan sejuta tanda tanya.
Seolah tak memahami kehidupan terbalut mimpi
Kutinggalkan jejak kaki menuruni jalanan setapak
Mungkin ada kerinduan untuk kembali ke sini
Sekaligus rasa nyeri berdenyar di hati.
Selembar daun gugur telah menjadi cermin
Pohon pohon berdiri tegak – juga jiwaku yang retak
Dan kuletakkan dalam pembaringan peradaban
Di balik jendela – seluruh tanya tak pernah terjawab.
RUMAH PANGGUNG
Di rumah panggung Baduy Luar
Cahaya tersembunyi di balik kabut
Hanya Leuit yang tampak berkerut
Menawarkan harapan yang tak pernah surut.
Kehidupan luar menyiratkan kehangatan
Tapi aku pilih pakaian berwarna hitam
Ditenun dengan kesungguhan
Dan hari terasa berjalan sangat lamban.
Di rumah panggung hidup terasa ditenung
Ribuan jarum menusuk-nusuk tubuh
Berlindung di balik sarung
Dalam gelap malam jiwa pun tersandung.
Terasa memasuki sebuah lorong panjang
Membenturkan diri terhadap peradaban
Penuh pertanyaan namun tak perlu jawaban
Di rumah panggung dingin angin gunung
Di manakah aku harus mencari cahaya
Dalam sunyi – dalam nyeri di dada
Atau biarlah gelap malam menjadi
Penanda sebuah zaman?
Makin asing kehidupan seolah berputar
Seperti gasing yang saling berbenturan
Kearifan telah terbukti menjadi pemenang
Dan yang kalah berkemas kembali ke kota.
PESAN DAMAI SEBA BADUY
Di pendapa yang telah berusia lebih dari dua abad
Sejatinya menjadi saksi bisu persaudaraan kawula dan junjungannya
Sejak zaman Raden Tumenggung Adipati Karta Natanagara
Ratusan warga baduy telah duduk bersila dengan rapi
Setelah puluhan kilometer berjalan dengan telanjang kaki
Turun dari desa Kanekes di pegunungan Kendeng
Memasuki Rangkasbitung dengan tatapan kesederhanaan.
Di pendapa ini seperti dilemparkan dalam kehidupan berabad lalu
Wangi asap kemenyan bercampur kembang kantil di sudut halaman
Angin malam pun terasa mati menjaga diri dalam keheningan
Saat Jaro Warega menyampaikan persembahan dan melafalkan mantra
Dalam acara Seba – tanda penghormatan masyarakat Baduy
Sebagai ritual untuk melaksanakan pikukuh karuhun
Kepada nu tapa di mandala dan nu tapa di nagara.
Di pendapa ini waktu seolah terpaku pada segala harap yang dituju
Angin terasa membawa perdamaian dan kesederhanaan
Mantra buhun yang dilafalkan dengan segenap jiwa
Terasa perlahan-lahan menyihir jagad dan seisinya
Amanat leluhur tentang kelestarian alam dan lingkungan
Gunung ulah dilebur, lebak ulak diruksak
Larangan ulah direumpak, buyut ulah dirobah.
2025
Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Republik Puitik (2025), Kariyau Hutan (2025), Share (2025), Kitab Omon Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025). Pernah menjadi koresponden harian Terbit di DIY., redaktur mjl. Sinergi Indonesia (Jakarta), redaktur pelaksana harian Momentum (Makassar), redaktur tabloid Alinea (Jakarta). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
WA 0821 1250 7979





