MTs Nurul Azhar Luncurkan Antologi Puisi dan Pantun “Gema Suara Anak Bangsa”

Siswa-siswa dan guru pembimbing MTs Nurul Azhar. Foto: Ist

PojokTIM – Suasana MTs Nurul Azhar pagi itu terasa berbeda. Rabu (4/2/2026) pagi halaman madrasah dipenuhi siswa berseragam rapi, guru, orang tua, dan tamu undangan yang datang untuk satu peristiwa istimewa: peluncuran buku antologi puisi dan pantun Gema Suara Anak Bangsa. Setelah sempat tertunda dari jadwal awal 24 Januari, acara ini akhirnya terlaksana dengan khidmat, seolah menunggu waktu yang tepat agar suara para penulis mudanya benar-benar siap diperkenalkan.

Buku tersebut lahir dari kelas VII I MTs Nurul Azhar Tahun Ajaran 2025/2026. Di ruang kelas sederhana itulah, kata demi kata mulai disusun. Di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia, Alif Yuliatul Laela, S.Pd.I, para siswa diajak mengenal puisi dan pantun bukan sekadar sebagai tugas sekolah, melainkan sebagai ruang untuk berbicara tentang diri, tentang kemerdekaan, dan tentang harapan mereka sebagai generasi muda.

Tema kemerdekaan menjadi pintu masuk bagi para siswa untuk menafsirkan makna bangsa dari sudut pandang mereka sendiri. Ada yang menulis tentang bendera yang berkibar di halaman sekolah, ada yang merangkai pantun tentang pahlawan, ada pula yang menyelipkan kegelisahan tentang masa depan Indonesia. Dari proses itu, lahirlah kumpulan puisi dan pantun yang kemudian dibukukan menjadi satu antologi.

Dalam sambutannya, Kepala MTs Nurul Azhar, H. Dadang Jalaluddin As, S.Ag menegaskan bahwa buku ini bukan hanya kumpulan tulisan, tetapi juga cermin tumbuhnya keberanian siswa untuk bersuara.

“Buku ini adalah bukti nyata bahwa anak-anak kita mampu berkarya, menyuarakan harapan, dan menghargai sejarah bangsa melalui tulisan. Semoga ini menjadi awal lahirnya karya-karya lain yang lebih besar,” tuturnya.

Peluncuran buku terasa semakin hangat ketika beberapa siswa maju ke depan membacakan puisi dan pantun karya mereka sendiri. Dengan suara yang masih bergetar namun penuh keyakinan, mereka memperdengarkan baris-baris sederhana tentang tanah air, tentang guru, dan tentang mimpi. Tepuk tangan panjang mengiringi setiap pembacaan, seolah menjadi pengakuan bahwa suara mereka pantas didengar.

Tidak hanya itu, para siswa juga berbagi cerita tentang proses kreatif mereka—tentang sulitnya mencari rima, tentang kebingungan merangkai bait pertama, hingga kebanggaan saat melihat nama mereka tercetak di dalam buku. Momen ini menjadi penanda bahwa menulis bukan lagi sekadar tugas, melainkan pengalaman yang membentuk kepercayaan diri.

Rissa Churria, S.Ag, M.Pd, selaku penyunting sekaligus inspirator literasi di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Nurul Azhar, turut memberi penguatan. Ia mengajak para siswa memandang literasi sebagai jalan untuk mengenal diri dan dunia. Menurutnya, menulis adalah cara untuk merawat ingatan, menyusun identitas, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini.

Buku Gema Suara Anak Bangsa diterbitkan oleh MA Publishing dan telah dilindungi hak cipta. Kehadirannya bukan hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MTs Nurul Azhar, tetapi juga menjadi bukti bahwa dari ruang kelas, suara kecil bisa tumbuh menjadi gema. Sebuah penanda bahwa literasi, ketika dirawat dengan sabar, mampu melahirkan generasi yang berani berkata dan berkarya.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait