Halal Bihalal WPI, Bundo Free Tegaskan Pentingnya Program Literasi

PojokTIM – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai acara halal bihalal Wanita Penulis Indonesia (WPI) yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini di Sekretariat WPI, kawasan Cempaka Putih, Sabtu (24/4/2026). Acara ini semakin meriah ketika Free Hearty, yang akrab disapa Bundo Free, memotong kue ulang tahunnya yang ke-74 di tengah para tamu undangan.

Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat pun mengiringi momen tersebut. Para sahabat dan kerabat yang hadir menyampaikan doa panjang umur serta harapan agar Bundo Free terus berkarya di dunia literasi.
“Semoga panjang umur dan terus berkarya,” ujar Nuyang Jaimee, salah satu pengurus WPI.

Kemeriahan acara berlanjut dengan penampilan bernyanyi dan pembacaan puisi dari para tamu. Sejumlah penulis dan jurnalis senior tampak hadir, di antaranya Kurniawan Junaedhie, Adri Darmadji Woko, Giwo Rubianto Wiyogo, Sari Narulita, Imam Ma’arif, Evan YS, Giyanto Subagio, dan Julia Utami.

Saat didaulat untuk memberikan sambutannya, Bundo Free menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin. “Saya berharap acara seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun dalam rangka mempererat tali silaturahmi,” ujarnya.

Lebih jauh, Bundo Free juga memaparkan arah dan rencana kerja WPI ke depan. Ia mengingatkan kembali sejarah berdirinya WPI yang digagas pada 3 Januari 1983 oleh sejumlah tokoh perempuan seperti La Rose, Titie Said, Titik WS, Irna Hadi, Sinta Soeharto, Herawati Diah, Titiek Puspa, dan Rae Sita Supit. Menurutnya, WPI sejak awal hadir sebagai wadah bagi perempuan kreatif yang aktif menulis, di tengah keterbatasan ruang berekspresi pada masa itu.

Kini, semangat tersebut terus dilanjutkan dengan memperluas fokus kegiatan, tidak hanya pada kemampuan menulis, tetapi juga pada keterampilan membaca secara kritis. Bundo Free menekankan pentingnya literasi yang utuh, yang mencakup kemampuan memahami dan memaknai teks secara mendalam.

“Perempuan tidak hanya perlu pandai menulis, tetapi juga harus mampu membaca dengan baik melalui pendekatan reader response. Literasi bukan hanya soal sastra, tetapi memiliki cakupan luas yang harus dipahami dengan benar,” jelasnya.

Bundo Free menilai, lemahnya pemahaman membaca kerap memicu perdebatan yang tidak terarah dan berpotensi melemahkan gerakan perempuan. Karena itu, WPI berencana menghidupkan kembali program “WPI Masuk Sekolah” seperti yang pernah dijalankan pada 1990-an.

Program tersebut akan diwujudkan dalam bentuk pelatihan dan lokakarya menulis serta membaca bagi perempuan, pelajar, hingga ibu rumah tangga. Tujuannya adalah membangun kesadaran akan pentingnya memahami bacaan secara tepat, sejalan dengan pesan “Iqra” sebagai dasar literasi.

“Sering kali orang merasa tulisannya paling baik, tetapi belum tentu mampu memahami tulisan orang lain dengan benar. Di sinilah pentingnya pelatihan reader response,” ujar Bundo Free.

Melalui berbagai program tersebut, WPI berharap dapat memperkuat peran perempuan dalam dunia literasi sekaligus membangun budaya membaca dan menulis yang lebih kritis dan berimbang di masyarakat.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait