Menjaga Warisan, Menangkal Distorsi Informasi

Suasana diskusi Meja Panjang ke-25. Foto: PojokTIM

PojokTIM – Kebaya telah lama menjadi simbol identitas perempuan Indonesia yang kini diakui dunia. Namun, pemahaman publik masih kerap menyempit—menganggap kebaya hanya berasal dari Jawa dan identik dengan sosok Raden Ajeng Kartini. Padahal, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kebaya dengan ragam bentuk, nama, dan ciri khasnya masing-masing.

Hal tersebut disampaikan Rahmi Hidayat dalam diskusi Meja Panjang bertajuk Pentingnya Kecerdasan Literasi bagi Perempuan Indonesia yang digelar Dapur Sastra Jakarta (DSJ) di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026).

Rahmi, yang dikenal sebagai pegiat kebaya hingga mendapay pengakuan internasional, mengisahkan awal ketertarikannya pada busana tradisional tersebut. Hal itu terjadi saat kumpul dengan wartawan dengan pos liputan di istana, atau yang dikenal sebagai wartawan Istana. Saat sesi foto bersama, temannya menyeletuk agar mereka memakai kebaya,.

“Ternyata lebih cantik saat kita pakai kebaya,” ujarnya.

Sejak itu, ia aktif bergabung dalam komunitas kebaya dan melakukan penelusuran langsung ke berbagai daerah. Temuannya justru memunculkan keprihatinan.

“Di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, dan Pasar Klewer, Solo—yang dikenal sebagai pusat batik dan kebaya—saya hanya menemukan tiga perempuan sepuh yang masih mengenakannya,” ungkap Rahmi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Rahmi bersama jejaringnya semakin giat membangun komunitas kebaya, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka tidak hanya melakukan sosialisasi, tetapi juga memberi contoh penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya gowes sepeda, bahkan naik gunung pakai kebaya. Ternyata tetap nyaman,” katanya.

Menurut Rahmi, tantangan terbesar justru datang dari generasi muda yang menganggap penggunaan kain sebagai padanan kebaya itu rumit. Namun ia mengingatkan, pendekatan yang inklusif jauh lebih efektif daripada kritik.

“Kalau ada remaja pakai kebaya dengan jins, jangan disalahkan. Apresiasi dulu, lalu beri contoh cara memakai kain yang praktis dan nyaman,” ujarnya.

Sunu Wasono yang tampil sebagai pembicara dalam diskusi yang dipandu Ewith Bahar, menyoroti peran Kartini dalam perkembangan literasi di Indonesia. Menurut mantan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu, Kartini sejatinya telah menulis jauh sebelum munculnya sastrawan modern seperti Selasih.

“Memang dalam bentuk surat, tetapi jika dibaca dengan saksama, terasa kekuatan sastranya,” jelasnya.

Surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya—termasuk Estelle Zeehandelaar serta pasangan Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Abendanon—telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Gagasan Kartini pun dinilai tetap relevan hingga kini, terutama dalam isu pendidikan dan kesetaraan perempuan. Pemikirannya terdokumentasi dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1922.

Sunu menambahkan, pengaruh Kartini juga terasa dalam karya sastra Indonesia awal, seperti novel Belenggu dan Layar Terkembang, yang turut mengangkat isu perempuan dan modernitas.

“Seruan Kartini agar perempuan memperoleh pendidikan dan melek literasi masih bergema hingga hari ini,” tegasnya.

Benteng Disinformasi

Sementara itu, Weka Gunawan, dosen Universitas Esa Unggul, menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi komunikasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, kecakapan literasi memungkinkan seseorang memilah informasi secara kritis, sehingga tidak mudah terjebak dalam narasi yang dipelintir.

Ia mencontohkan polemik ceramah Jusuf Kalla di Universitas Gadjah Mada yang sempat viral.

“Seharusnya tidak menjadi heboh jika masyarakat memiliki literasi yang kuat. Kita bisa langsung mengecek sumber asli dan memahami konteksnya,” ujarnya.

Namun, upaya meluruskan informasi seringkali tidak mudah. Weka bahkan sempat dituduh sebagai buzzer saat membagikan versi utuh video ceramah JK.

Sebagai wartawan yang pernah meliput berbagai peristiwa konflik—mulai dari krisis 1998, kerusuhan Dili, Sampit, hingga konflik etnis di Kalimantan Barat—ia menegaskan pentingnya literasi untuk mencegah terulangnya tragedi seperti itu akibat dis-informasi dan provokasi.

“Saya mengalami langsung betapa dramatis dan traumatisnya konflik. Karena itu, saya tidak ingin hal serupa terjadi lagi,” katanya.

Di awal acara, Ketua DSJ Remmy Novaris DM menjelaskan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang dialog yang berkualitas di tengah kegiatan kesenian.

“Selain pentas seni, ruang seperti ini penting untuk memperkuat wacana dan pemikiran kebudayaan,” ujarnya.

Acara dengan MC Nuyang Jaimee tersebut merupakan kegiatan ke 25 dalam rangkaian kegiatan yang digagas DSJ—menggabungkan praktik seni, refleksi budaya, dan penguatan literasi dalam satu ruang bersama.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait