Pameran Perupa se Bekasi Raya. Foto: PojokTIM
PojokTIM – Kegiatan sastra dan seni rupa di Bekasi Raya, Jawa Barat, terus menunjukkan geliat positif meski gaungnya belum semeriah Jakarta. Berbagai komunitas seni dan sastra pun terus berupaya menjaga ruang kreatif agar tetap hidup, salah satunya melalui kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan perupa dan penyair dalam satu panggung apresiasi.
Semangat itu tampak dalam kegiatan Pameran Drawing/Gambar dan Apresiasi Sastra 2026 yang digelar di Gedung Creative Center Bekasi, Kamis (28/5/2026). Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Rumah Seni dan Budaya (RSB) bersama Forum Sastrawan Indonesia (FSI), sekaligus menjadi bagian dari peringatan Bulan Menggambar Nasional yang digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia.
Ketua FSI, Wig SM, mengatakan kegiatan kolaboratif seperti ini penting untuk membuka ruang pertemuan antarpegiat seni, sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap sastra dan seni rupa.
“Salah satunya melalui kegiatan kolaborasi dengan penggiat seni rupa seperti sekarang ini. Sastra dan seni rupa sebenarnya memiliki kedekatan dalam cara menyampaikan gagasan dan perasaan,” ujar Wig saat ditemui di sela kegiatan.
Menurut Wig, selama menjadi pengurus Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Bekasi selama dua periode, dirinya cukup sering menghadirkan sastrawan dari berbagai daerah untuk berdiskusi maupun tampil dalam kegiatan sastra di Bekasi. Ia menilai antusiasme pegiat sastra lokal sebenarnya cukup besar dan masih memiliki peluang untuk terus berkembang.
“Saya optimistis sastra di Bekasi masih memiliki ruang untuk tumbuh, terutama dari kalangan pelajar dan generasi muda. Apalagi sekarang sastra sudah menjadi salah satu cabang lomba dalam FLS3N yang digelar setiap tahun,” ujarnya.
Wig yang tahun ini menerima penghargaan Apresiasi 40 Tahun Berkarya dari Badan Bahasa Kemendikdasmen itu juga berharap kegiatan sastra tidak hanya berlangsung sesekali, tetapi bisa menjadi agenda rutin yang melibatkan lebih banyak komunitas.

Wig SM saat memberikan sambutan didampingi Ridwan Marhid. Foto: PojokTIM
Sementara itu, penggiat seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, mengatakan Bulan Menggambar Nasional menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat berkesenian di daerah. Menurutnya, Bekasi menjadi salah satu kota yang cukup aktif menggelar kegiatan dalam rangkaian perayaan tersebut.
“Ini akan menjadi kehormatan tersendiri bagi para perupa di Bekasi karena diberi ruang untuk menampilkan karya dan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya saat membuka acara.
Ketua Dewan Kesenian Bekasi (DKB), Ridwan Marhid, juga mengaku senang karena Rumah Seni dan Budaya (RSB) yang sempat vakum kini kembali aktif. Menurutnya, RSB pernah menjadi ruang penting bagi para seniman dan pegiat budaya untuk berkumpul serta berdiskusi.
“Karena terlalu sibuk mengurus DKB, RSB sempat tidak terurus. Mudah-mudahan ke depan RSB bisa kembali menjadi rumah bersama bagi para perupa dan penggiat budaya Bekasi,” ujar Ridwan yang akrab disapa Kong Ridwan.
Ia juga mengungkapkan bahwa pembentukan Dewan Kesenian Bekasi dahulu tidak lepas dari dorongan seniman dan budayawan nasional, termasuk Ratna Sarumpaet yang saat itu menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 2002-2006.
Selain menghadirkan pameran drawing dan lukisan yang diikuti seniman, dosen, mahasiswa, hingga pelajar, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan pembacaan puisi dari sejumlah penyair seperti Dyah Kencono, Nanang R Supriyatin, Giyanto Subagio, Ragil Sarjono, Reli Erlinawati, Iman Kurniawan, dan lain-lain.
Suasana pameran berlangsung hangat dan akrab. Para pengunjung tampak menikmati karya-karya visual yang dipajang. Kolaborasi tersebut menjadi penanda bahwa seni rupa dan sastra masih memiliki tempat di tengah masyarakat Bekasi yang terus berkembang sebagai kota urban.





