Sihar Sukses Luncurkan Kesetiaan Rumero di Antara Anjing dan Mayat Membusuk

Sihar memaparkan proses kreatif di balik buku kumpulan cerpannya. Foto: PojokTIM

PojokTIM – Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin menjadi saksi lahirnya sebuah karya sastra yang tidak hanya menggugah estetika, tetapi juga menegaskan kembali fungsi sastra sebagai penyambung suara mereka yang terpinggirkan. Sastrawan dan jurnalis Sihar Ramses Sumatupang secara resmi meluncurkan buku kumpulan cerpen bertajuk Kesetiaan Rumero di Antara Anjing dan Mayat Membusuk.

Acara peluncuran yang berlangsung di Ruang Sastra PDS H.B. Jassin, Jumat (5/6/2026), berlangsung semarak dengan kehadiran sejumlah sastrawan senior. Selain pembacaan salah satu cerpen karya Sihar oleh Bambang Wahyudin dan Agus Firmansyah, acara juga diisi diskusi yang dipandu moderator Frans Ekodhanto dengan menghadirkan dua panelis, yakni jurnalis senior Fransisca Ria Susanti dan pengamat sastra Ariyani Isnamurti.

Dalam pemaparannya, Sihar menegaskan bahwa menulis cerpen, puisi, hingga anekdot pada dasarnya memiliki substansi yang sama meskipun berbeda secara teknis. Bagi Sihar, menulis adalah panggilan jiwa yang harus terus menyala dalam situasi apa pun. Lebih dari sekadar mengeksplorasi keindahan bahasa, ia mengingatkan para penulis agar tidak terjebak hanya pada persoalan teknis.

“Meskipun penting, kita tidak hanya perlu bicara diksi, tipologi, rima, atau kalau di cerpen tentang plot, penokohan, konflik, dan lain-lain. Lepas dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita suarakan, yakni orang-orang yang tidak mampu bersuara. Orang-orang seperti ini selalu ada dalam sejarah rezim mana pun,” ujar Sihar.

Ia menekankan bahwa tugas sastrawan adalah menyuarakan mereka yang menjadi korban kebatilan dan ketertindasan. Sihar menutup sesinya dengan pesan yang membangkitkan semangat.

“Karena banyak orang yang tidak mampu menyuarakan apa yang dapat kita suarakan. Biarlah ini menjadi beban tugas yang harus kita jalankan dengan bahagia meskipun harus menambah luka. Ada ungkapan, menulis mati, tidak menulis mati. Maka pesan saya, menulislah!” tegasnya.

Diskusi panel berhasil mengupas bagaimana latar belakang jurnalisme Sihar berpadu erat dengan kepekaan puitisnya. Menurut Fransisca, cerpen-cerpen Sihar menghadirkan sudut pandang yang tajam terhadap isu sosial dan hak asasi manusia. Latar belakang Fransisca yang kerap menulis buku nonfiksi bertema kaum marjinal, seperti korban tragedi 1965 (Kembang-kembang Genjer) dan buruh migran (Tentang Sedih di Victoria Park), membuatnya sangat relevan dalam mengulas karya-karya Sihar.

“Karya Sihar merefleksikan kedekatan dengan fakta-fakta lapangan yang diolah secara mendalam,” ujar Pemimpin Redaksi Jaring.id itu.

Fransisca menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan gerakan jurnalisme solusi yang selama ini ia dorong di Jaring.id dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), di mana karya sastra maupun berita tidak sekadar mengeksploitasi penderitaan, melainkan membuka ruang empati dan perenungan kritis terhadap ketimpangan sosial serta persoalan hak asasi manusia.

Sementara itu, Ariyani memberikan ulasan mendalam terhadap empat cerpen pilihan dalam buku ini. Cerpen Kesetiaan Rumero bertutur tentang hubungan manusia dan anjing yang menjadi simbol kemanusiaan itu sendiri.

“Di tengah dunia yang rapuh dan kehilangan empati, sosok anjing justru memperlihatkan loyalitas dan ketulusan yang murni,” ujarnya.

Dalam cerpen Bayi dan Anjing Liar dalam Sebuah Gerbong, Ariyani melihat adanya ajakan untuk memperluas cakrawala empati melampaui batas spesies. Cerpen ini menegaskan bahwa peradaban manusia tidak hanya diukur dari cara memperlakukan sesamanya, tetapi juga dari bagaimana memperlakukan makhluk yang paling lemah.

Sementara itu, cerpen Ribuan Anjing di Antara Mayat Membusuk, menurut Ariyani, menggunakan citraan horor kematian dan krisis kemanusiaan yang ekstrem untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan sedang terluka dan membusuk.

Orang Kaya Baru adalah kritik sosial yang jeli terhadap realitas masyarakat yang kerap menilai seseorang hanya berdasarkan harta dan penampilan, sekaligus membuktikan kepiawaian Sihar dalam menangkap sisi-sisi kehidupan yang luput dari perhatian banyak orang,” ujar Ariyani mengenai cerpen keempat yang diulas.

Buku ini merupakan buah ketekunan Sihar dalam mengumpulkan, memilah, dan menyusun kembali cerpen-cerpen lamanya yang pernah tersebar di berbagai media massa. Secara keseluruhan, Kesetiaan Rumero di Antara Anjing dan Mayat Membusuk bukan sekadar kumpulan cerita fiksi tentang keterasingan, kemiskinan, atau kekerasan. Melalui karakter-karakter rapuh yang dihadirkannya, Sihar berhasil menunjukkan bahwa kasih sayang, kesetiaan, dan martabat akan selalu menemukan ruang untuk hidup. Buku ini menjadi catatan jejak kreatif yang layak dibaca dan direnungkan maknanya oleh siapa saja yang peduli pada nasib kemanusiaan.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait