Hamzah Muhammad saat membaca Catatan Kebudayaan Arief Budiman. Foto: PojokTIM
PojokTIM – Pameran memperingati 60 tahun perjalanan Majalah Horison resmi dibuka di Lantai 3 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). Mengusung tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, pameran ini menjadi upaya menelusuri jejak panjang salah satu majalah sastra paling berpengaruh di Indonesia.
Didirikan pada 1966, Horison telah menjadi ruang penting bagi lahir dan tumbuhnya banyak sastrawan besar Indonesia. Meski berhenti terbit pada 2016, pengaruhnya masih terasa dalam lanskap kesusastraan nasional hingga kini.
Mantan Pemimpin Redaksi Horison, Jamal D Rahman, dalam sambutannya menyebut pameran ini sebagai bentuk pengakuan kolektif atas peran Horison dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Ia menegaskan bahwa Horison bukan sekadar majalah, melainkan institusi kebudayaan yang ikut membentuk arah pemikiran sastra selama puluhan tahun.
“Pameran ini adalah pengakuan bahwa Horison telah menjadi bagian dari sejarah kebudayaan kita. Namun sejarah itu belum selesai—ia masih bernapas,” ujarnya.
Menurut Jamal, tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam” tidak hanya merujuk pada karya-karya yang pernah dimuat, tetapi juga pada hal-hal yang kerap luput dari perhatian: proses editorial, perdebatan, hingga catatan kecil yang justru menjadi fondasi penting dalam kerja kesusastraan.
“Di balik yang terbit dan terlihat, ada yang tenggelam—yang tersembunyi, yang sering dianggap remeh, tetapi justru menentukan,” ujarnya serasa menambahkan Horison memiliki kedekatan historis dengan HB Jassin.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menekankan pentingnya dokumentasi dan pengarsipan dalam menjaga keberlanjutan sastra. Ia mengibaratkan Horison sebagai ruang sunyi tempat kata-kata tidak pernah benar-benar mati, melainkan menunggu untuk dibaca kembali oleh generasi baru.
“Yang hilang bukanlah sastranya, melainkan panggungnya. Dan hari ini, kita berupaya membangun kembali panggung itu,” ujarnya.
Nasruddin juga menyoroti tantangan di era digital, di mana ruang publikasi semakin terbuka, tetapi tidak selalu diiringi dengan proses kurasi yang memadai. Ia berharap, melalui penguatan arsip dan dokumentasi, ekosistem sastra Indonesia dapat terus berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Kurator pameran, Esa Tegar Putra, mengungkapkan bahwa persiapan pameran ini memakan waktu sekitar satu bulan. Ia semula merancang judul “Yang Timbul dan Yang Tenggelam”, namun kemudian mengubahnya setelah membaca catatan kebudayaan Arief Budiman di Horison.
“Judul akhirnya menjadi ‘Yang Terbit, Yang Tenggelam’ setelah saya membaca kembali catatan kebudayaan Arief Budiman,” ujar Esa.
Catatan tersebut turut dihadirkan dalam pembukaan dan dibacakan oleh Hamzah Muhammad, menambah dimensi reflektif atas perjalanan intelektual majalah ini. Sebagai majalah yang didirikan oleh sejumlah tokoh penting seperti Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, Arief Budiman, dan Taufiq Ismail, Horison telah melahirkan dan memuat karya-karya penting dalam sejarah sastra Indonesia.
Dalam rangkaian acara pembukaan, turut ditampilkan medley puisi karya para penyair besar yang pernah dimuat di Horison, seperti Taufiq Ismail, Danarto, W.S. Rendra, Umar Kayam, hingga Sutardji Calzoum Bachri.
Kesaksian juga datang dari Bambang Bujono yang pernah bekerja di Horison. Ia mengaku bangga pernah menjadi bagian dari majalah tersebut. Menurutnya, meski dikelola oleh tim kecil—sekitar enam orang—Horison memiliki dampak yang besar, tidak hanya dalam sastra, tetapi juga dalam ranah sosial dan politik.
“Organisasinya sederhana, tapi pengaruhnya kuat,” ujarnya.
Pameran yang akan berlangsung selama satu bulan ini tidak hanya menampilkan arsip terbitan, tetapi juga dokumen proses kreatif, catatan editorial, hingga jejak perdebatan yang pernah terjadi di ruang redaksi. Semua itu memperlihatkan bahwa sastra tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang kerap tak terlihat.
Dengan menghadirkan kembali Horison dalam bentuk pameran, penyelenggara berharap publik tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga melihat kemungkinan masa depan sastra Indonesia. Sebab, seperti yang ditegaskan dalam pembukaan, sastra tidak pernah benar-benar tenggelam—ia hanya menunggu waktu untuk ditemukan kembali.





