Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

MENERBANGKAN LAYANG-LAYANG

Bila angin datang dari timur
kami berlari ke lapangan kosong,
membawa benang gulung
dan kertas warna-warni.

Si naga merah terbang
seperti ekor komodo
yang pernah kami lihat di televisi
saat listrik belum sering padam.

Kadang seperti burung camar
yang tak pernah kami sentuh.

Si layang-layang pelangi terbang
seperti kain ibu yang dijemur
dengan suara gemerisik.

Tapi kadang seperti desah napas
kakek saat naik tangga,
meski ia kadang bersiul,
entah lagu apa.

Si wau bulan bersuara
seperti biola rusak
dan radio zaman dulu.

Ada juga si gapangan tinggi
yang terbangnya seperti elang,
dan ombak
yang memanjat langit.

Dan si layangan kertas koran
seperti memohon
agar jangan
dipotong benangnya
sebelum senja,
sebab kebebasan singkat ini
satu-satunya
yang kami punya.

2026

GEROBAK SODOR

Ketika tak ada yang bisa kumainkan,
kugambar garis
di tanah lapang
menjelang petang.

Cahaya jingga merendah,
menyapu petak petak panjang
yang berjajar seperti lorong,
terhampar rapi
menunggu tubuh tubuh datang
dan permainan dimulai.

Aku berdiri di garis awal,
lalu lintasi satu per satu,
meski penjaga menghadang
di setiap batas.

Bayang bayang memanjang di tanah,
kawan kawan membuka tangan
menjadi palang,
kaki meloncat cepat
menerobos koridor
yang dijaga ketat,
dan jantungku berdebar
di dalam dada.

Kini, dalam ingatan.

Garis kapur yang tegas
dan strategi yang kami susun
bergetar,
tubuh penyerang dan penjaga
bertarung senyap
di senja yang menebal.

Aku melompat,
mengelak sentuhan tangan mereka,
debu debu terhambur
ke udara jingga,
seperti cahaya terakhir
yang tak ingin padam.

Permainan usai
saat petang hampir gelap,
napas masih terengah,
dan kami berdiri
di atas garis garis itu,
menatap tanah yang hangat
di bawah kaki telanjang.

Tubuh tubuh yang tadi bergerak
kini diam,
menyisakan jejak
pada petak petak
yang perlahan pudar
bersama cahaya.

2025-2026

EGRANG

Kupilih ketinggian ini,
Bambu keras menancap di telapak kakiku,
Dan tanah menjauh
Seperti kenangan.

Tonggak tonggak menjulang
Menopang tubuhku,
Melangkah di ruang
Yang tidak pernah kukuasai,
Juga keberanian
Akan setiap ayunan yang mengambang,
Kakiku sebagai akar akar
Yang mencari udara,
Bukan tanah.

Keteguhan untuk selamanya berdiri
Dan bergerak,
Yang serba ragu
Namun pasti.

Kejamnya langkah
Yang menggantung,
Karena kutahu jatuh
Adalah bagian dari tinggi.

Di sini tubuh terguncang
Antara dua dunia,
Langit yang tak terjangkau
Dan tanah yang menunggu.

2025

Listio Wulan Nurmutaqin adalah penulis asal Brebes yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Puisinya telah dipublikasikan di berbagai media lokal, nasional, dan internasional, antara lain Jawa Pos, Bacapetra, Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Majalah Kandaga (Kantor Bahasa Banten), serta Suara Sarawak (Malaysia), di samping sejumlah media sastra daring dan cetak lainnya.

Karyanya tercantum dalam sejumlah antologi nasional dan regional, termasuk Antologi Hari Puisi Nasional 2025 serta Antologi Penyair se-ASEAN 2025 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kabupaten Tegal. Pada 2025, ia menjadi salah satu penulis terpilih dalam Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta, 11–14 September 2025.

Buku puisi tunggal perdananya, Tokoh Utama (Sastranomina, 2023), menandai kiprahnya di dunia kepenyairan. Selain menulis, ia aktif dalam berbagai komunitas sastra di Bekasi, Jakarta, dan sejumlah ruang sastra luring lainnya.

Media Sosial:  Instagram: @listio11 Facebook: Rahadian Tyo
 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait