PojokTIM – Upaya para seniman, sastrawan, dan pemerhati sastra untuk memugar makam Chairil Anwar di TPU Karet Bivak, Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mendapat dukungan dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Dukungan tersebut disampaikan dalam acara ziarah yang bertepatan dengan peringatan hari wafat penyair yang dijuluki “Si Binatang Jalang” itu, Selasa (28/4/2026). Dalam sambutannya, Fadli Zon menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung dan merealisasikan pemugaran makam Chairil Anwar.
“Chairil Anwar merupakan tokoh yang mendobrak puisi Indonesia. Meski menulis kurang dari 100 puisi—ada yang menyebut 94 atau 96—sumbangsihnya bagi Indonesia sangat besar,” ujar Fadli Zon.
Acara yang digagas oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) tersebut turut dihadiri Ketua TISI Octavianus Masheka, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Nissa Renganis, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat Andri Ferdian, kritikus sastra Maman S. Mahayana, serta sejumlah tokoh sastra seperti Jose Rizal Manua, Ewith Bahar, Aloysius Slamet Widodo, Imam Ma’arif, Nanang R. Supriyatin, dan Kurnia Effendi. Hadir pula putri tunggal Chairil Anwar, Evawani Alissa.
Fadli Zon menambahkan, pemerintah juga berupaya menempatkan Chairil Anwar di panggung internasional, salah satunya melalui diplomasi budaya berupa pertukaran cenderamata.
“Saat delegasi kebudayaan dari Rusia memberikan patung Leo Tolstoy, kita membalas dengan memberikan patung Chairil Anwar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua TISI Octavianus Masheka mengatakan bahwa upaya pemugaran makam Chairil Anwar telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, desain kawasan makam telah disiapkan, termasuk rencana pembangunan museum dan ruang apresiasi.
“Ini merupakan tahun keenam TISI menggelar ziarah ke makam Chairil Anwar. Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah dan kontribusi beliau terhadap perkembangan bahasa dan puisi Indonesia,” kata Octavianus.
Selain tabur bunga dan doa bersama, kegiatan ziarah dengan MC Rissa Churria, juga diisi pembacaan puisi serta diskusi bertema “Apa Pentingnya Chairil Anwar bagi Indonesia”.

Dalam diskusi yang dimoderatori Remmy Novaris DM, Maman S. Mahayana menekankan pentingnya pemugaran makam bukan semata pada aspek fisik, melainkan nilai yang dikandungnya.
“Jika makam dipugar, ia bisa menjadi destinasi wisata intelektual dan edukatif. Bahasa memiliki peran penting dalam mengangkat martabat bangsa,” ujarnya, seraya mencontohkan peran penyair Persia Ferdowsi dalam membangun identitas kebangsaan Iran.
Senada dengan itu, Ewith Bahar menilai kondisi makam Chairil Anwar saat ini masih kurang layak, padahal Indonesia diakui dunia sebagai negara dengan kekuatan besar di bidang kebudayaan.
Ia mengutip pernyataan mantan pejabat UNESCO, Francesco Bandarin, yang menyebut Indonesia sebagai super power kebudayaan karena banyaknya warisan budaya takbenda yang diakui dunia.
“Ironis jika makam Chairil Anwar sebagai tokoh sastra besar justru terlihat kumuh dan sempit,” kata Ewith.
Ia menambahkan, pemugaran makam juga berpotensi mendorong pengembangan wisata budaya, termasuk tren dark tourism yang berkembang di berbagai negara. Sebagai contoh, kompleks pemakaman Westminster Abbey di Inggris menjadi destinasi populer karena nilai sejarah tokoh-tokoh yang dimakamkan di sana.
“Selain sebagai bentuk penghargaan, pemugaran makam Chairil Anwar juga dapat menjadi destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi,” ujar Ewith.





