PojokTIM – Dalam peta besar seni rupa Indonesia, nama-nama pelukis yang kerap muncul umumnya adalah mereka yang telah mapan dalam kanon nasional—tokoh-tokoh besar yang, meski berkarya di Jakarta, justru lahir di luar kota ini. Sementara itu, pelukis Betawi nyaris tak mendapat tempat yang layak dalam khazanah seni rupa Indonesia.
Situasi ini menjadi ironi tersendiri. Sebab, di tengah minimnya pengakuan itu, ada sosok Hasim—pelukis kelahiran Jakarta dari keluarga Betawi—yang justru memiliki rekam jejak jelas dan kontribusi penting, namun luput dari perhatian sejarah.
“Ini sangat ironis. Hasim lahir di Jakarta dari keluarga Betawi dan memiliki rekam jejak yang kuat, tetapi seolah tidak dianggap. Namanya tidak kita temukan dalam buku-buku tentang pelukis dan seni rupa Indonesia,” ujar Citra Smara Dewi dalam diskusi Kongkow Seni yang digelar Satarupa di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (29/4/2026).
Menurut Citra, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan historiografi seni rupa Indonesia yang masih mengabaikan sejarah lokal. Ketika sejarah ditulis, pelukis Betawi kerap tidak disebut, seolah-olah mereka berada di pinggiran narasi besar.
“Mereka termarjinalkan dalam historiografi Indonesia. Padahal Hasim memiliki posisi penting dalam perkembangan seni rupa Betawi,” tegas akademisi Institut Kesenian Jakarta itu.
Padahal, secara teknis, Hasim bukan pelukis sembarangan. Ia menguasai teknik melukis Barat, dan sejumlah karyanya bahkan tersimpan di Belanda. Fakta ini menunjukkan bahwa kiprahnya melampaui batas lokal, meski pengakuan terhadapnya justru tertinggal.
Ketertarikan untuk mengangkat kembali sosok Hasim mendorong Citra melakukan penelitian bersama Iwan Aswan dan Nunuk Damono. Penelusuran mereka tidak hanya berhenti pada arsip, tetapi juga menjangkau ruang-ruang geografis yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Hasim—dari tempat kelahirannya di Kebonjahe, Jakarta Pusat, hingga rumah terakhirnya di Sukabumi.
Dalam perjalanan hidupnya, Hasim juga sempat pergi ke Bali untuk belajar kepada pelukis Antonio Blanco, sosok yang ia kagumi. Pengaruh perjalanan ini turut memperkaya pendekatan artistiknya.
“Hasim memiliki teknik melukis yang unik, yakni teknik cocol menggunakan spons dari bekas BH untuk menciptakan gradasi warna yang khas,” ungkap Nunuk Damono.
Temuan-temuan tersebut kemudian dibukukan dalam karya berjudul Hasim (1920–1986), Pelukis Betawi Legendaris yang terbit pada 2024. Buku ini menjadi salah satu upaya penting untuk mengembalikan posisi Hasim dalam sejarah seni rupa Indonesia.
“Hasim merupakan representasi pelukis Betawi yang memiliki komitmen dan konsistensi sebagai pelukis hingga akhir hayatnya,” tambah Citra.

Ketua Satarupa Dyah Kencono Puspito Dewi
Diskusi Kongkow Seni yang mengangkat sosok Hasim ini, menurut Ketua Satarupa Dyah Kencono Puspito Dewi, bukan sekadar forum apresiasi, melainkan juga bentuk upaya penyadaran.
“Kami ingin mengangkat kembali sosok yang telah berkontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa Betawi, tetapi belum banyak dikenal,” ujarnya.
Menariknya, acara ini juga dikaitkan dengan peringatan Hari Kartini, sebagai refleksi atas peran perempuan dalam dunia seni yang kian berkembang.
“Saat ini banyak pekerja seni yang tidak hanya mengandalkan kecantikan fisik, tetapi juga kreatif, cerdas, dan membumi,” kata Dyah dalam acara yang dipandu Piet Yuliakhansa.
Selain diskusi, kegiatan ini turut diramaikan dengan pameran lukisan, pembacaan puisi, serta sesi melukis sketsa secara langsung oleh para pelukis yang hadir—menciptakan suasana yang hidup, sekaligus menjadi ruang pertemuan lintas generasi dalam merayakan seni.
Di tengah hiruk-pikuk narasi besar seni rupa Indonesia, upaya seperti ini menjadi penting: mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang telah tercatat, tetapi juga mereka yang sempat dilupakan. Hasim adalah salah satunya.





