PojokTIM – Perjalanan puisi Indonesia mengalami banyak perubahan dalam rentang 30 tahun terakhir, tepatnya pasca gelaran akbar Mimbar Penyair Abad 21 (MPA 21) di Jakarta. Perubahan paling dramatis terjadi karena kondisi yang memaksa, yakni saat pandemi Covid-19 tahun 2020–2022.
“Seni, termasuk puisi, adalah saksi zaman. Ia mencatat peristiwa sesuai zamannya. Pada saat Covid-19 yang memaksa kita tinggal di rumah dan mengurangi interaksi, karya puisi yang lahir dan dibukukan umumnya bertema kesedihan, murung, pesimis, sekaligus harapan,” ujar Kurnia Effendi (Kef) saat membuka sesi diskusi yang dipandu Rintis Mulya dalam rangkaian acara reuni MPA 21 dan perayaan Hari Puisi Nasional (HPN) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM).
Pembicara lain, Dedi Tri Riyadi, mempertajam penjelasan Kef dengan mengurutkan kecenderungan puisi yang diciptakan berdasarkan kurun waktu tertentu. Ia menyinggung kemunculan beat generation di dunia Barat, khususnya Amerika Serikat, yang menolak kemapanan struktur puisi lama.
“Puisi-puisi karya Chairil Anwar sejalan dengan semangat zaman itu. Dalam perjalanannya, kita kemudian mengenal puisi mbeling, puisi mantra Sutardji Calzoum Bachri, dan sebagainya,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, munculnya berbagai jenis puisi saat ini, seperti spoken word, poetry slam, atau puisi media sosial di Twitter (kini X) dan Instagram, harus disikapi dengan bijak. “Pada awal kemunculannya, Haiku juga mendapat penolakan. Demikian juga puisi-puisi Chairil Anwar,” tegasnya.
Senada, Mustafa Ismail, redaktur sastra Tempo, mengakui munculnya semacam kasta dalam puisi. Seolah-olah puisi yang dimuat di media massa lebih baik dibanding yang diunggah di media sosial.
“Puisi yang dimuat di media mainstream telah melalui kurasi atau seleksi oleh tim redaksi sehingga kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Sementara puisi yang diunggah di media sosial oleh penulisnya tidak melalui proses itu. Tetapi mengatakan semua puisi di medsos tidak bagus, perlu kajian lebih mendalam. Saya sering membaca puisi anak-anak muda sekarang yang diposting di medsos, sudah cukup baik,” ujar Mustafa yang juga Ketua Panitia HPN.
Dalam sesi tanya jawab, penyair jebolan Forum Penyair 87, Nanang R. Supriyatin, mengkritik absennya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam kegiatan yang melibatkan sastrawan se-Indonesia seperti Forum Penyair 87 dan MPA 21.
“Saat ini juga tidak ada lagi polemik dan debat sastra yang intens,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Aquino Hayunta dari Simpul Seni DKJ mengatakan anggota DKJ periode 2023–2026 telah berusaha semaksimal mungkin meyakinkan pemerintah Jakarta tentang pentingnya sastra.
“Harus diakui, sastra memang masih terpinggirkan dari sisi penganggaran. Sembilan puluh persen lebih anggaran di Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta dihabiskan untuk mendukung kegiatan di luar sastra,” terangnya.
Kondisi tersebut, menurut Aquino, dapat dilihat dari minimnya perhatian gubernur terhadap acara sastra. “Terakhir kali gubernur Jakarta menghadiri acara sastra adalah saat membuka MPA 21. Artinya sudah tiga puluh tahun lampau. Dampak minimnya perhatian pemerintah terhadap sastra terlihat pada besaran anggaran untuk kegiatan sastra,” cetusnya.
Selain diskusi dan peluncuran buku antologi puisi, acara yang dimulai pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga malam dengan MC Rissa Churria itu, juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi. Banyak penyair dari luar Jakarta yang hadir, terutama mereka yang menjadi bagian dari MPA 21, seperti Anwar Putra Bayu (Palembang), Gunoto Saparie (Semarang), dan lain-lain.
“Saat ini sudah 10 penyair alumni MPA 21 yang meninggal dunia, termasuk Joko Pinurbo dan terakhir Iyut Fitra,” kata Kef di awal acara.





