Sutardji Ajak Sastrawan Kibarkam Bendera Baru

PojokTIM – Penyair senior Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, menegaskan pentingnya setiap sastrawan menciptakan bentuk pengucapan yang khas dan berbeda sebagai identitas kreatifnya. Menurutnya, tanpa ciri pengucapan yang unik, seorang sastrawan dan karya-karyanya akan mudah tenggelam di tengah luasnya dunia sastra yang terus berkembang.

Gagasan tersebut disampaikan Sutardji dalam diskusi kecil yang berlangsung di kantin Nusantarium, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Kamis (11/6/2026). Turut dalam diskusi itu penyair Remmy Novaris DM, Bambang Widiatmoko, Nanang R Supriyatin, Giyanto Subagio dan pakar sastra klasik DR Mu’jizah. Perbincangan dibuka dengan kemungkinan pengenalan bentuk penamaan terhadap karya sastra yang berada di antara eksistensialisme Barat dan falsafah Jawa yang oleh Yon Bayu Wahyono disebut sebagai eksistensialisme Jawa.

Presiden Penyair Indonesia itu mengajak para penulis untuk berani mencari suara kreatif mereka sendiri. Sejarah sastra selalu bergerak melalui kemunculan bentuk-bentuk pengucapan baru yang mampu menawarkan cara pandang segar terhadap kehidupan dan bahasa. Karena itu, seorang sastrawan tidak cukup hanya menulis dengan baik, melainkan harus menghadirkan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.

“Setiap sastrawan harus mengerek bendera baru, tentu melalui karya yang kuat dan berbeda. Tuhan Maha Kaya, tidak akan ada habisnya bentuk pengucapan,” ujar penulis antologi O, Amuk, Kapak itu.

Ia mengibaratkan keragaman ekspresi sastra seperti sidik jari manusia yang tidak pernah sama antara satu orang dengan orang lain. Keunikan itulah yang membuat setiap karya memiliki nilai dan daya hidup tersendiri.

“Seperti sidik jari tiap manusia yang berbeda-beda. Begitu pula pengucapan dalam sastra,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan panjang sastra Indonesia yang selalu ditandai oleh munculnya generasi-generasi baru dengan corak estetik dan bahasa yang khas. Dalam sejarah sastra modern Indonesia, nama Chairil Anwar sering dianggap sebagai simbol pembaruan paling menonjol. Melalui puisi-puisinya, Chairil menghadirkan semangat individualisme, kebebasan, dan keberanian berekspresi yang kemudian menjadi tonggak penting perkembangan sastra Indonesia.

Namun, Sutardji mengingatkan bahwa sejarah sastra tidak berhenti pada Chairil Anwar. Menurutnya, sejak masa Chairil hingga sekarang telah lahir banyak penyair dan sastrawan yang menghadirkan “bendera” atau identitas estetik baru, meskipun belum semuanya memperoleh pengakuan luas dari masyarakat.

“Masyarakat baru mengenal satu bendera yang dikibarkan Chairil Anwar. Padahal sejak era Chairil, sudah banyak bendera yang berkibar,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai kritik sekaligus ajakan untuk melihat sejarah sastra Indonesia secara lebih luas. Dalam pandangan Sutardji, perkembangan sastra tidak hanya ditentukan oleh tokoh-tokoh besar yang telah masuk ke dalam kanon, tetapi juga oleh berbagai eksperimen dan pencarian bentuk yang dilakukan para penulis dari generasi ke generasi.

Lebih jauh, penyair yang dikenal melalui kredo puisinya yang membebaskan kata dari beban makna konvensional itu menilai bahwa pembaruan sastra harus terus berlangsung. Sastra yang sehat adalah sastra yang memberi ruang bagi lahirnya berbagai kemungkinan baru, baik dalam bahasa, bentuk, maupun cara memandang realitas.

Bagi Sutardji, keberanian untuk menemukan bentuk pengucapan sendiri merupakan tantangan utama yang dihadapi para sastrawan masa kini. Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan reproduksi karya melalui media digital, risiko keseragaman menjadi semakin besar. Banyak karya lahir dengan pola dan gaya yang mirip satu sama lain sehingga sulit meninggalkan jejak yang kuat dalam ingatan pembaca.

Karena itu, ia mendorong para penulis muda untuk tidak sekadar mengikuti gaya yang sedang populer, melainkan melakukan pencarian kreatif yang sungguh-sungguh. Menurutnya, karya yang bertahan adalah karya yang lahir dari keberanian menjelajahi kemungkinan baru dalam bahasa dan pengalaman manusia.

Diskusi yang berlangsung di lingkungan TIM tersebut juga menunjukkan bahwa ruang-ruang percakapan sastra masih memainkan peran penting dalam menjaga dinamika kebudayaan Indonesia. Di tengah perubahan zaman, pertemuan informal antara sastrawan, penulis, dan pegiat sastra tetap menjadi wadah bagi pertukaran gagasan yang dapat memicu lahirnya perspektif-perspektif baru.

Pesan Sutardji pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada para penyair, melainkan kepada seluruh pelaku kesenian. Kebudayaan, menurut semangat yang ia sampaikan, akan terus hidup apabila para kreatornya berani mengibarkan “bendera-bendera baru” tanpa melupakan bendera-bendera lama yang telah lebih dahulu memberi arah.

Dengan demikian, sastra Indonesia tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga medan penciptaan yang terus-menerus melahirkan bentuk, suara, dan pengucapan baru bagi setiap generasinya.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait