Perempuan Penggerak di Panggung TIM

PojokTIM – Suara mesin dan deru jalanan sejenak berganti dengan sorot lampu panggung di Taman Ismail Marzuki. Rabu (22/4/2026), para perempuan pekerja sektor transportasi yang sehari-hari luput dari sorotan media tampil dalam pementasan bertajuk Perempuan Penggerak: Kartini dalam Kekinian.

Mereka bukan aktor profesional. Keseharian mereka adalah rutinitas panjang di balik kemudi—menghadapi kemacetan, debu jalanan, hingga risiko keselamatan. Namun malam itu, di Teater Kecil, mereka menjelma menjadi penutur kisahnya sendiri, membawakan pertunjukan teater di bawah arahan David Karo-karo.

Pementasan ini diselenggarakan oleh Masyarakat Pekerja Seni Indonesia (MPSI) bekerja sama dengan Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta TIM serta komunitas pekerja sektor transportasi. Momentum Hari Kartini menjadi landasan untuk menghadirkan suara perempuan dalam konteks kekinian—bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pelaku yang bergulat langsung dengan realitas kerja.

Acara dibuka dengan pementasan teater yang mengangkat fragmen kehidupan para pekerja transportasi perempuan. Setelah itu, suasana bergeser menjadi lebih reflektif melalui pembacaan surat-surat Raden Ajeng Kartini kepada sahabat-sahabatnya, seperti Stella Zeehandelaar dan J.H. Abendanon. Surat-surat tersebut menjadi jembatan antara gagasan emansipasi masa lalu dengan kenyataan perempuan hari ini.

Bagian paling menggugah hadir dalam sesi testimoni. Para perempuan pekerja transportasi—mulai dari sopir truk fuso, pengemudi bus TransJakarta, hingga pengemudi ojek daring—berbagi pengalaman tentang kerasnya bekerja di jalan. Mereka menuturkan risiko kecelakaan, tekanan kerja, pelecehan seksual, hingga kelelahan yang jarang terlihat publik.

Di balik cerita-cerita itu, terselip pula tuntutan dan harapan. Para pengemudi ojek daring, misalnya, berharap adanya perlindungan kerja yang lebih memadai, termasuk jaminan sosial seperti BPJS yang ditanggung oleh perusahaan aplikator. Isu ini mengemuka sebagai bagian dari perjuangan yang masih terus berlangsung.

Penonton yang hadir berasal dari kalangan pekerja dan seniman. Interaksi keduanya menciptakan ruang temu yang tidak hanya artistik, tetapi juga politis, di mana panggung menjadi medium untuk menyuarakan pengalaman hidup yang selama ini tersembunyi.

Melalui pementasan ini, sosok Kartini tidak lagi hadir sebagai figur sejarah yang jauh, melainkan sebagai semangat yang hidup dalam tubuh para perempuan penggerak—yang setiap hari menembus jalanan, sekaligus kini, menembus batas panggung kesenian.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait