Pelabuhan yang Menyimpan Napas: Membaca Indonesia dari Laut, Dermaga dan Teknologi Digital

Oleh Emi Suy

Salam bagi kita semua yang datang membawa waktu, rasa ingin tahu, dan kesediaan untuk mendengar. Kalimat pembuka itu terdengar sederhana, tetapi pagi itu ia terasa seperti ketukan pelan di pintu ingatan. Museum Maritim Indonesia berdiri dengan ketenangan bangunan tua yang sudah lama bersahabat dengan angin laut. Dinding kayunya menyimpan bau garam, besi, dan debu sejarah, bau yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya mengendap seperti kenangan yang enggan pergi. Miniatur kapal berbaris di balik kaca, peta pelayaran tergantung seperti urat nadi yang bercabang ke segala arah, dan foto-foto hitam putih memandang kami dengan mata masa lalu yang panjang.

Cahaya matahari jatuh miring dari jendela tinggi dan merayap pelan di lantai kayu. Tak ada yang tergesa. Orang-orang berbicara setengah berbisik, kursi digeser hati-hati, seolah semua sepakat bahwa tempat ini bukan ruang untuk ribut, melainkan ruang untuk mengingat. Di sanalah Komunitas Membaca Raden Saleh (MRS) menggelar pertemuan ke-45, pertemuan yang selalu terasa lebih seperti pulang daripada menghadiri acara.

Nama-nama disebut satu per satu, bukan seperti daftar tamu resmi, melainkan seperti keluarga yang dipanggil kembali ke meja makan. Tidak ada jarak antara pembicara dan pendengar, tidak ada protokol yang kaku. MRS selalu begitu, ruang yang dirawat dengan kesabaran, tempat membaca tidak diburu kesimpulan dan berpikir diberi waktu untuk diam. Di zaman yang serba cepat dan serba bising, pelan terasa seperti kemewahan, dan pagi itu kemewahan itu kami miliki.

Namun ada sesuatu yang berbeda. Selain membaca sastra, kami akan mendengarkan paparan tentang pelabuhan, tentang Pelindo atau Pelabuhan Indoneia, tentang sejarah, transformasi, sistem, dan logistik. Topik itu terdengar teknis, bernuansa korporat, hampir seperti bahan rapat. Justru di situlah keanehannya. Mengapa pelabuhan dibicarakan di ruang literasi, mengapa infrastruktur dibaca seperti teks. Pertanyaan itu membuat saya duduk lebih tegak. Tadinya aaya kira akan mendengarkan sederetan angka-angka dan grafik, tetapi yang saya rasakan justru seperti membuka album kenangan bangsa sendiri.

Sosok yang sangat tidak asing lagi buat saya itu dengan penuh semangat memulai presentasinya, menjelaskan secara runtut mulai dari berbagai pelabuhan laut di Nusantara zaman dahulu, sampai dengan era pasca proklamasi kemerdekaan, serta impian masa depan menjadi pelabuhan kelas dunia atau smart digital seaport. Bang Riri Satria yang saya saksikan pagi itu jauh dari apa yang biasa saya lihat sebelum-sebelumnya. Biasanya saya melhat beliau bicara soal sastra atau kebudayaan. Namun kali ini, pertama kalinya saya menyaksikan Bang Riri dalam kapasitas sebagai Komisaris Utama ILCS Pelindo Solusi Digital yang fasih membawakan topik tentang pelabuhan di Indonesia serta berbagai hal yang mengiringinya seperti sejarah masa lalu, ekosistem logistik maritim, poros maritim dunia, budaya maritim, serta integrasi lebih dari 150 pelabuhan dari Sabang sampai Merauke dalam teknologi platform digital. Walaupun demikian, gaya presentasinya tetap sama, artikulasi suara yang jelas dan penuh antusias, urutan yang tertata rapi, serta pengulangan beberapa kali untuk topik yang dianggap penting. Jam terbangnya sebagai seorang public speaker dan dosen di Universitas Indonesia sangat menunjang.

Slide demi slide berjalan menampilkan peta wilayah operasi, garis waktu sejarah, struktur kelembagaan, grafik kinerja, serta istilah-istilah modern seperti digitalisasi, integrasi sistem, big data, dan satelit orbit rendah. Bahasanya tegas, to the point, efisien, seperti bahasa negara yang ingin memastikan semuanya terkendali.

Riri Satria

Namun setiap kali kata pelabuhan muncul, imajinasi saya berbelok. Saya tidak melihat derek kontainer atau tabel statistik. Saya melihat sendal basah di dermaga, mencium asin angin laut yang menempel di baju kerja, melihat buruh membuka bekal nasi dingin, dan mendengar seseorang memanggil nama anaknya di antara bunyi mesin kapal. Bagi saya, pelabuhan selalu hadir sebagai tubuh dan napas manusia, bukan sebagai sistem.

Ketika sejarah Sunda Kelapa, Batavia, Muaro Batang Arau, Tanjung Priok, Teluk Bayur, dan Tanjung Perak dipaparkan, nama-nama itu di layar tampak netral, sekadar titik geografis. Tetapi saya tahu tidak ada pelabuhan yang benar-benar netral. Dari sanalah rempah berangkat, dari sanalah kapal-kapal asing datang membawa dagang sekaligus kuasa.

Kolonialisme masuk bukan hanya lewat meriam atau senjata api lainnya, melainkan lewat dermaga. Pelabuhan menjadi pintu sejarah, dan sering kali sejarah datang dengan luka berupa kerja paksa, perampasan, dan orang-orang yang tak pernah kembali.

Kita sering meromantisasi laut sebagai biru yang indah, padahal laut juga menyimpan warna air mata. Di titik itu saya sadar bahwa pelabuhan selalu politis. Ia menentukan siapa yang berangkat, siapa yang tertinggal, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dilupakan. Ketika istilah logistik muncul, kata yang terdengar dingin seperti milik tabel Excel, saya justru membayangkannya berakhir di dapur. Ia menjelma beras, minyak goreng, gula, dan obat.

Jika distribusi tersendat, yang pertama kali sesak bukan perusahaan besar, melainkan ibu-ibu di pasar yang menawar lebih lama, menghitung receh lebih hati-hati, dan menarik napas panjang sebelum membeli. Selisih seribu dua ribu rupiah bisa terasa sepanjang laut Jawa.
Di negeri kepulauan seperti Indonesia, ketidakadilan sering lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari jarak yang tak pernah sungguh-sungguh dipendekkan. Laut yang seharusnya menghubungkan berubah menjadi batas yang menghukum. Di situlah saya mengerti bahwa pelabuhan bukan sekadar infrastruktur, melainkan simpul keadilan. Jika ia lancar, hidup orang sedikit lebih ringan. Jika ia macet, yang menanggung bukan angka statistik, melainkan perut manusia.

Ketika sejarah kelembagaan Pelindo dijelaskan, bagaimana ia pernah terpecah dan akhirnya dilebur kembali, saya membayangkannya seperti keluarga besar yang lama tercerai berai lalu dipanggil duduk satu meja. Masing-masing membawa kebiasaan, ego, dan lukanya sendiri, namun tetap berusaha percaya bahwa mereka satu rumah. Bukankah Indonesia memang demikian. Ribuan pulau, ratusan bahasa, sejarah yang tidak selalu ramah, tetapi terus berusaha menyebut diri satu. Air tak mengenal batas administrasi, ia selalu mencari jalan untuk mengalir, dan negeri kepulauan hanya hidup jika arusnya lancar.

Ketika istilah-istilah digital bermunculan, saya sempat cemas membayangkan manusia tersisih oleh layar-layar mesin. Namun saya sadar teknologi hanyalah alat. Ia bisa dingin, bisa juga hangat. Jika ia memangkas birokrasi, menurunkan biaya, mempercepat kapal, dan mengurangi antrean, maka ia bukan sekadar mesin, melainkan bentuk kepedulian yang sunyi. Barangkali di zaman ini kasih sayang memang tidak selalu berupa pelukan, kadang ia hadir sebagai sistem yang bekerja jujur, sebagai kapal yang datang tepat waktu, sebagai harga yang tidak mencekik. Cinta, mungkin, menjelma kerja yang rapi.

Di tengah semua itu, pelabuhan tetap terasa sebagai ruang paling puitik dalam kehidupan modern, sebab di sanalah orang-orang menunggu. Tak ada satelit yang mampu membaca rindu seorang ibu, tak ada big data yang bisa menghitung cemas seorang istri. Pelabuhan adalah tempat harapan singgah dan ketakutan dilepas, tempat koper dan doa berdiri berdampingan, tempat perpisahan dan kepulangan bertemu di satu garis horizon.

Ketika acara selesai, saya membayangkan senja di dermaga. Burung-burung melintas rendah, buruh menggulung tali, penjual kopi menutup termos, dan seorang anak memeluk tas sekolahnya menunggu ayahnya turun dari kapal terakhir. Tak ada istilah digital di sana, hanya hidup yang berjalan apa adanya. Justru di situlah semua gagasan besar menemukan maknanya. Semua transformasi, semua merger, semua teknologi akhirnya harus bermuara pada satu hal sederhana, orang bisa pulang dengan selamat.

Perlahan saya sadari, Indonesia tidak dibangun dari tanah semata, melainkan dari air. Dari perahu kecil yang berangkat subuh, dari jaring nelayan yang dilempar dengan doa, dari koper perantau yang diikat tali rafia, dari peti kemas yang membawa beras, obat, buku, dan mimpi.

Kita bangsa yang hidup di tepi, setengah berangkat dan setengah kembali. Maka pelabuhan adalah jantung. Selama ia berdetak pelan, setia, dan jujur, negeri ini akan tetap hidup. Dan membaca Pelindo melalui kata-kata Riri, saya tidak lagi melihatnya sebagai institusi, melainkan sebagai ikhtiar panjang menjaga detak itu, agar yang jauh tidak terasa terlalu jauh, agar setiap perjalanan masih memiliki kemungkinan pulang, dan agar negeri ini, dengan segala luka dan harapannya, tetap memiliki tempat untuk berlabuh.

Ketika kami melangkah keluar dari museum, angin laut menyentuh wajah seperti tangan tua yang akrab. Langit siang telah tinggi, tetapi perasaan saya masih tertinggal di dalam, di antara peta-peta pelayaran dan suara pelan orang membaca. Saya menyadari bahwa pagi itu kami bukan hanya belajar tentang pelabuhan. Kami sedang belajar cara memandang negeri ini dari tepi air, dari tempat segala sesuatu datang dan pergi, dari batas antara tinggal dan berangkat.

Barangkali begitulah Indonesia seharusnya dibaca, bukan hanya dari gedung-gedung tinggi atau ruang rapat yang dingin, melainkan dari dermaga, dari pasar kecil, dari tangan-tangan kasar yang memanggul karung, dari ibu yang menunggu kabar kiriman sembako, dari anak-anak yang menatap laut sambil membayangkan ayahnya pulang. Di sanalah negara benar-benar berdenyut.

Dan ketika kelak kita menyebut kata pelabuhan, semoga yang teringat bukan hanya beton, crane, atau angka pertumbuhan, melainkan wajah-wajah manusia yang menggantungkan harapannya di sana. Sebab pada akhirnya, yang kita jaga bukanlah sistem, melainkan napas. Napas yang sederhana, yang ingin hidup layak, yang ingin pulang utuh. Selama napas itu masih terdengar, pelabuhan akan selalu menjadi doa yang berdiri di tepi laut, menunggu setiap anak negeri kembali dengan selamat.

“Laut adalah halaman depan rumah kita, bukan halaman belakang. Laut adalah penghubung kita, bukan yang memisahkan kita. Laut adalah sumber pangan kita. Laut adalah masa depan kita. Dan pelabuhan adalah tempat napas awal kita untuk mengarungi dan bersahabat dengan laut”, demikian Bang Riri Satria menutup presentasinya yang tak terasa sudah hampir satu jam berlalu.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait