Puisi-Puisi Riri Satria

Puisi-Puisi Riri Satria

HARUSKAH AKU MASIH PERCAYA KEPADAMU, WAHAI PUISI?

Di layar kecil itu
kebenaran diperdagangkan
seperti diskon akhir musim
orang-orang menanam amarah
dengan jempol yang berlari
lebih cepat dari nurani.

Aku melihat fakta diganti filter
lalu sejarah dipoles
menjadi konten berdurasi semenit
seseorang bersumpah
atas nama cahaya
namun wajahnya
berpendar dari api algoritma.

Haruskah aku masih percaya kepadamu, wahai puisi?
ketika metafora pun dapat direkayasa mesin?

Di beranda media sosial
aku menemukan ribuan nabi
tanpa kesunyian
mereka membawa statistik
kutipan dan doa-doa digital
tetapi suara batin
terasa semakin sunyi dan artifisial.

Barangkali kebenaran sudah lelah
menjadi komoditas
di pasar perhatian manusia
atau mungkin kita sendiri
terlalu sering meminum gema
dari mulut sendiri.

Aku berdiri
di antara kabut data dan iklan
mencari satu kalimat
masih memiliki denyut jantung.

Haruskah aku masih percaya kepadamu, wahai puisi?
ketika kata-kata pun semakin tak berarti?

Jakarta, 10 Mei 2026

 

APAKAH PUISI SUDAH BERKHIANAT?

Apakah kata-kata telah meninggalkan rumah maknanya sendiri?
atau kita yang terlalu lama memenjarakannya di pasar tafsir?

Kini setiap kalimat
terasa seperti cermin retak
memantulkan wajah
berbeda pada tiap mata.

Aku membaca puisi
tetapi yang terdengar
justru dengung mesin dan statistik.

Dahulu kata lahir dari luka
dari hening dan doa
bergetar dalam dada
sekarang ia bergerak seperti program
dirancang rapi oleh rekayasa opini dan kebutuhan citra.

Apakah puisi masih suara hati?
atau hanya gema engineering yang disamarkan menjadi empati?

Aku melihat metafora dipakai sebagai kosmetik
sementara nurani
perlahan ditinggalkan
di ruang belakang
orang-orang memproduksi haru
seperti pabrik memproduksi barang musiman.

Aku mulai takut
jangan-jangan bahasa telah mengkhianati dirinya sendiri?

Lalu kepada siapa lagi
keheningan harus menitipkan kejujurannya?

 

Jakarta, 12 Mei 2026

 

LOH, PUISI KOK MINGGAT?

 Pagi ini aku mencari puisi
di sela notifikasi dan grafik
serta percakapan otomatis
tetapi ia tidak lagi duduk di beranda hati
ia pergi diam-diam
meninggalkan rumah manusia.Orang-orang kini berbicara
dengan senyum yang dihitung oleh kepentingan
pelukan terasa seperti kontrak
sapaan berubah menjadi strategi pemasaran
di kafe
di kantor
di jalanan
d taman
di media sosial
aku melihat banyak wajah
tetapi sedikit kehadiran.

Teknologi tumbuh seperti hutan cahaya
namun nurani mengecil
seperti lilin di tengah badai
kita menciptakan mesin
mampu meniru empati,
sementara manusia perlahan lupa
cara mendengarkan luka.Aku mulai khawatir
jangan-jangan puisi minggat
karena terlalu lama disakiti kepalsuan
barangkali ia lelah
melihat air mata
dipakai sebagai konten dan citra diri.

Padahal puisi dahulu lahir
dari denyut kemanusiaan
jujur dan rapuh.

Jika suatu hari puisi benar-benar pergi
mungkin itu tanda bahwa hati telah lama meninggalkan manusia.

 

Jakarta, 3 Mei 2026

 

Riri Satria adalah penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi tunggal. Karyanya tersebar di berbagai media. Riri juga dikenal sebagai pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait