Milad 68 Isbedy Stiawan ZS, Merayakan Kesetiaan pada Puisi

PojokTIM – Isbedy Stiawan ZS adalah salah satu pilar penting dalam lanskap sastra modern Indonesia. Puisi-puisinya bergerak di antara lokalitas Lampung yang hidup dan kental, serta perenungan batin yang intim. Isbedy piawai menghadirkan lanskap fisik dan kultural Lampung mulai dari pesisir, muara, ladang lada, benda-benda, potret sosial masyarakatnya, hingga kedekatannya dengan keluarga maupun sesama profesi.

“Lokalitas dalam puisi-puisinya bukan sekadar latar, melainkan ruh yang menggerakkan emosi,” ujar Nanang R Supriyatin saat menjadi pembicara dalam acara bertajuk Milad 68; Peluncuran Buku Puisi 68 Isbedy Stiawan ZS di Balai Sastra PDS HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Taman Ismail Marzuki, Rabu (15/7/2026).

Selain diskusi acara yang dipandu Rissa Churria juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Jose Rizal Manua, Helvy Tiana Rosa, Imam Ma’arif, Nia Samsihono, Humam S Chudori, Nurhayati, Iin Zakaria, Wig SM, Nunung El Niel, Syaifuddin Ghani, Lily Siti Multatuliana, Terry Lestari, Erika Novalia Sani Devi Matahari, serta Dzafira Adeliaputri Isbedy, siswi SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro yang menjadi pembaca puisi termuda.

Turut hadir sejumlah sastrawan beken seperti Sutardji Calzoum Bachri, Fikar W Eda, Remmy Novaris DM, Kuniawan Djunaedhie, Riri Satria, Fatin Hamama, Guntoro Sulung, dan lain-lain

Penyair Romantis

Nanang melanjutkan, Isbedy dikenal dengan lirik-liriknya yang romantis namun sering kali dibalut rasa sepi, kerinduan yang sunyi, atau kepedihan. Ia mampu memotret cinta, kehilangan, dan perpisahan dengan diksi yang menyentuh tanpa menjadi cengeng.

“Bahasanya cenderung mengalir dan tidak rumit, tetapi menyimpan daya pikat metafora yang kuat. Ia sering menggunakan elemen alam seperti air, angin, malam, laut, untuk mengumpamakan gejolak rasa atau kritik social,” kata Nanang.

Selain tema cinta dan kesunyian, Isbedy juga kerap merekam ketimpangan sosial, nasib rakyat kecil, dan kritik terhadap kekuasaan yang disajikan secara subtil (halus) namun tetap menusuk.

“Isbedy berhasil menjinakkan kesunyian menjadi energi kreatif. Di saat orang lain di usia senja memilih beristirahat, ia justru masuk ke kamar sunyi untuk terus memahat kata. Ini adalah bukti konkret dari kegairahan kreatif,” puji Nanang.

Dalam diskusi dengan moderator Fitri Angraini tersebut, Isbedy berkesempatan membocorkan tips di balik proses kreatifnya yang sangat produktif. Menurut penyair berjuluk Paus Sastra Lampung itu, ketrampilan menulis yang dimiliki merupakan anugerah.

“Menjadi penyair adalah panggilan jiwa. Saya merasa terhormat dengan menjadi penyair,” katanya

Isbedy mengaku lebih banyak menulis pada malam hari. Di saat sunyi, ide-idenya mengalir deras. Namun ide tersebut tidak langsung ditulis menjadi puisi.

“Saya menemukan kata-kata dulu, baru (diolah) menjadi puisi,” kata penyair yang telah menerbitkan lebih dari 60 buku puisi tunggal.

Bagi Isbedy, proses kreatif tidak pernah berhenti pada inspirasi semata. Kata-kata harus dibiarkan tumbuh, saling menemukan, lalu membentuk bangunan puisi yang utuh. Cara itulah yang membuatnya tetap produktif sekaligus mempertahankan ciri khas yang kuat selama puluhan tahun berkarya.

Peluncuran buku 68 sekaligus menjadi penanda perjalanan panjang Isbedy Stiawan ZS dalam dunia sastra Indonesia. Di usia kini ia menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia. Kesetiaannya pada puisi, kedekatannya dengan akar budaya Lampung, serta konsistensinya menulis telah menempatkan dirinya sebagai salah satu penyair Indonesia yang paling produktif dan berpengaruh hingga hari ini.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait