Penampilan Grup Mahagenta mengawali acara Hari Sastra. Foto: PojokTIM
PojokTIM – Aura Padepokan Seni Mahagenta di Citayam, Kabupaten Bogor, terasa berbeda pada Jumat (10/7/2026) malam. Jika biasanya ruang kesenian itu dipenuhi alunan world music, kali ini puisi menjadi pusat perhatian, baik dibacakan maupun dipadu dengan musik dalam bentuk musikalisasi puisi.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu merupakan kolaborasi antara Bidang Musik dan Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI). Perhelatan tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi para penyair dan pemusik, tetapi juga ajang silaturahmi para seniman lintas disiplin yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan seni dan sastra.
Sejak awal acara, para tamu yang memadati padepokan disuguhi pertunjukan yang mengalir tanpa sekat, sambil menikmati kudapan dan wedang jahe. Pembacaan puisi bergantian dengan penampilan musik, menunjukkan bahwa dua cabang seni tersebut dapat saling menguatkan. Kata-kata yang lahir dari pengalaman batin menemukan ruang baru ketika dipadukan dengan irama, sementara musik memperoleh kedalaman makna melalui puisi yang dibacakannya.
Ketua Bidang Musik HSBI sekaligus pemilik Padepokan Seni Mahagenta, Uyung Mahagenta, mengatakan kolaborasi antara bidang musik dan sastra sengaja dibangun untuk memperlihatkan bahwa seni pada hakikatnya tumbuh dari semangat yang sama, yakni menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan melalui berbagai medium ekspresi.
“Saya berharap, Hari Sastra yang kita rayakan dapat mempererat persaudaraan antarseniman tanpa dibatasi aliran atau genre. Musik bisa menyatu dengan puisi dan sebaliknya,” ujar Uyung.
Menurutnya, perbedaan medium berkesenian tidak semestinya menjadi batas bagi para pelaku seni untuk saling berkolaborasi. Justru melalui pertemuan berbagai disiplin seni, akan lahir karya-karya yang lebih kaya dan mampu menjangkau masyarakat lebih luas.
Hal senada disampaikan Ketua Bidang Sastra HSBI, Helvy Tiana Rosa. Ia menilai peringatan Hari Sastra merupakan bagian dari komitmen HSBI untuk terus merawat sastra sebagai salah satu pilar penting kebudayaan Indonesia.
“HSBI melalui Bidang Sastra berharap semangat berkarya di kalangan sastrawan dan seniman terus tumbuh, serta dapat merefleksikan persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat tanpa kehilangan keindahan dan napas keislamannya,” kata Helvy.
Ia menambahkan, sastra memiliki peran penting dalam membangun kepekaan sosial. Melalui puisi, cerpen, novel, maupun bentuk-bentuk karya sastra lainnya, masyarakat diajak melihat realitas dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Karena itu, keberadaan ruang-ruang apresiasi seperti peringatan Hari Sastra dinilai penting untuk terus dijaga.

Uyung Mahagenta memetik gitar mengiringi pembacaan puisi Helvy Tiana Rosa. Foto: PojokTIM
Malam itu Helvy tampil membacakan dua puisi karyanya dan disambut antusias penonton yang memenuhi area padepokan. Larik-larik yang dibacakannya mengalir dalam suasana yang hening, menghadirkan ruang kontemplasi di tengah perayaan seni yang berlangsung hingga larut malam.
Wakil Ketua Bidang Sastra HSBI, Putra Gara, juga turut membacakan puisi ciptaannya disusul Nike, Megawati Nurdin, dan lain-lain.
Di awal acara, Uyung terlebih dulu tampil bersama grup musik Mahagenta. Mereka membawakan sejumlah lagu yang memadukan unsur musik etnik dengan sentuhan kontemporer, menghadirkan warna khas yang selama ini menjadi identitas Padepokan Seni Mahagenta. Penampilan tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan pembacaan puisi dengan pertunjukan musik sehingga suasana malam berlangsung dinamis tanpa kehilangan nuansa perenungan.
Kemeriahan acara berlanjut dengan penampilan grup musik Mantra Samsara, Gong Merah Putih bersama Tora Kundera, Swarna Sakha, Betawi Ora, Tersajakkanlah, monolog Junaedi Junkumis serta penampilan seniman lainnya. Setiap penampil menghadirkan karakter artistiknya masing-masing sehingga malam perayaan Hari Sastra terasa sebagai perjumpaan berbagai ekspresi seni dalam satu panggung.





