Sutardji Hadirkan Magis Puisi di PPN XIV Aceh

PojokTIM – Suasana Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 semakin istimewa ketika Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, hadir membacakan puisi di hadapan para penyair, budayawan, akademisi, mahasiswa, dan peserta dari berbagai daerah serta negara.

Bertempat di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Rabu (24/6/2026), penampilan Sutardji menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perhelatan sastra yang mengusung semangat “Puisi untuk Kemanusiaan dari diksi menjadi aksi”.

Sebelum bait-bait puisi mengalir dari suara khas sang maestro, panggung terlebih dahulu dipenuhi suasana haru. Para musisi dan peserta memberikan kejutan dengan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuk Sutardji yang tepat pada hari itu genap berusia 85 tahun.

Dengan energi yang tetap kuat, Sutardji membacakan puisi di panggung utama. Suasana hening menyimak setiap kata yang ia lantunkan, seolah mengajak seluruh hadirin kembali merenungi kekuatan bahasa dan makna dalam puisi.

Sutardji Calzoum Bachri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perpuisian Indonesia. Melalui gagasan “Kredo Puisi”, ia memperkenalkan cara pandang baru bahwa kata bukan sekadar alat komunikasi, tetapi memiliki daya hidup dan kekuatan estetik tersendiri.

Lebih dari enam dekade berkarya, Sutardji telah menjadi inspirasi bagi banyak generasi penyair Indonesia. Kehadirannya di PPN XIV Aceh menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang sastra Indonesia sekaligus pengingat bahwa puisi terus tumbuh mengikuti zaman.

PPN XIV Aceh 2026 berlangsung pada 22–28 Juni 2026 di sejumlah lokasi di Aceh. Forum sastra internasional ini mempertemukan penyair dari berbagai wilayah Indonesia dan negara serumpun sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, serta penguatan diplomasi budaya melalui puisi.

Di tengah perubahan zaman dan kemajuan teknologi, panggung PPN XIV Aceh menunjukkan bahwa puisi tetap memiliki tempat: menjadi suara kemanusiaan, jembatan antarbudaya, dan rekaman perjalanan peradaban. (Rissa Churria)

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait