Seniman Segel Hotel di TIM, Desak Audit Jakpro

PojokTIM – Puluhan seniman yang tergabung dalam Jumat Aksi Seni (JAS) menyegel akses menuju Paviliun Raden Saleh Artotel Curated yang menempati lantai 8–12 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026). Aksi itu merupakan bentuk protes terhadap keberadaan hotel di kawasan TIM yang dinilai menyimpang dari fungsi kawasan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan.

Bagi para seniman, pengelolaan TIM di bawah PT Jakarta Propertindo (Jakpro) justru semakin menguatkan komersialisasi kawasan hingga menyisakan semakin sedikit ruang bagi aktivitas dan ekspresi seni.

Aksi penyegelan sempat diwarnai ketegangan ketika petugas keamanan internal berusaha menghalangi massa. Namun, para peserta aksi akhirnya berhasil memasang garis polisi (police line) sepanjang sekitar 10 meter sebagai segel simbolis pada pintu masuk menuju Paviliun Raden Saleh Artotel Curated.

“Keberadaan Hotel Artotel tidak sesuai dengan amanat Bang Ali (Ali Sadikin) yang membangun TIM sebagai ruang bagi para seniman,” ujar Koordinator Lapangan JAS, Ridho, dalam orasinya.

Ridho menilai Taman Ismail Marzuki perlahan kehilangan identitasnya sebagai pusat kebudayaan. Menurutnya, ruang yang sejak awal dipersembahkan bagi seniman dan budayawan kini semakin terdesak oleh kepentingan bisnis.

Ia menegaskan, keberadaan hotel di kawasan TIM bertentangan dengan cita-cita para pendiri TIM yang menginginkan kawasan tersebut menjadi pusat kreativitas, pertemuan, dan pengembangan kebudayaan. Penyegelan dilakukan sebagai simbol perlawanan sekaligus penegasan bahwa komunitas seni tidak menerima komersialisasi ruang budaya.

Ridho juga menyoroti proses pembangunan hotel yang dinilainya mengabaikan kesepakatan yang pernah dibangun bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Akademi Jakarta (AJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Menurutnya, bangunan yang kini menjadi Artotel Curated pada awalnya dirancang sebagai wisma bagi seniman dan budayawan dari berbagai daerah untuk tinggal, berkonsolidasi, dan mengembangkan jejaring kebudayaan.

“Penyegelan ini akan terus kami lakukan sampai tuntutan kami direalisasikan. TIM harus kembali menjadi rumah bagi seniman, bukan ruang yang dikuasai kepentingan komersial,” tegas Ridho.

JAS merupakan agenda Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) dan kelanjutan dari rangkaian aksi  yang digalang Masyarakat Pekerja Seni Indonesia (MPSI) bersama sejumlah komunitas seni dan budaya sejak munculnya kritik terhadap arah pengelolaan Taman Ismail Marzuki pascarevitalisasi. Aksi diawali dengan mengelilingi kawasan TIM sambil membawa keranda bertuliskan Taman Ismail Marzuki Telah Mati dan sejumlah spanduk berisi tuntutan mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris MPSI, David Karo-karo, mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan audit menyeluruh terhadap kebijakan dan aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan TIM.

Menurut David, audit tidak hanya harus menyasar PT Jakarta Propertindo (Jakpro), tetapi juga Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Akademi Jakarta yang selama ini terlibat dalam berbagai kebijakan pengelolaan kawasan.

“Kami mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaudit dan mengusut pihak-pihak yang memberikan izin pembangunan hotel di kawasan TIM, termasuk PT Jakpro dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masuknya bisnis komersial ke ruang kesenian,” kata David.

Ia menilai hasil audit penting untuk mengungkap proses pengambilan kebijakan yang mengubah fungsi sebagian kawasan TIM menjadi hotel, sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengembalikan kawasan tersebut kepada fungsi utamanya sebagai pusat kegiatan seni dan kebudayaan.

Aksi penyegelan ini menambah panjang daftar penolakan kalangan seniman terhadap arah revitalisasi Taman Ismail Marzuki. Sebelumnya, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri juga mengkritik wajah baru TIM yang dinilainya terlalu borjuis dan menjauh dari semangat awal pendiriannya. Megawati meminta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menata kembali TIM agar kembali menjadi rumah yang berpihak kepada seniman, bukan sekadar kawasan komersial.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait