Perayaan Milad ke-72 Jose Rizal Manua Meriah dan Khidmat

PojokTIM – Haru bercampur gembira mewarnai perayaan milad ke-72 tokoh teater dan deklamasi Jose Rizal Manua. Kegiatan yang diselenggarakan PojokTIM bersama para seniman dan sastrawan sahabat Mas Jose – demikian sapaan akrabnya, berlangsung sejak pukul 15.00 WIB di pelataran Toko Buku Bengkel Deklamasi, Senin (14/9/2026). Kegiatan diisi dengan testimoni, pembacaan puisi, hingga penampilan grup musik.

Menariknya, penyair Nanang R. Supriyatin secara khusus memberikan hadiah berupa buku antologi berisi 20 puisi tentang Jose yang diberi judul Lelaki di Balik Naskah.

“Saya hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan Mas Jose,” ujar Nanang.

Menurut Yon Bayu dari PojokTIM, keinginan menggelar perayaan milad Mas Jose sebenarnya dilontarkan secara spontan oleh Nanang. Didorong keinginan agar perayaan tidak bersifat eksklusif mengingat Mas Jose milik semua seniman, maka PojokTIM menghubungi beberapa beberapa seniman untuk turut mendukung.

“Luar biasa. Teman-teman antusias memberikan sumbangan berupa tumpeng, kue ulang tahun, jajanan pasar, hingga gula dan kopi,” ujar Yon Bayu.

Testimoni

Ada banyak kenangan yang disampaikan dalam sesi testimoni singkat. Guntoro Sulung menceritakan bagaimana militannya seorang Jose.

“Pernah kami tampil di Jakarta Utara, dengan hanya membawa uang Rp1.000. Setelah pementasan yang sukses dan meriah, kami kebingungan saat mau pulang karena tidak ada lagi ongkos,” ujar Guntoro. Beruntung kemudian bertemu seorang pengacara yang bersedia mengantar kembali ke TIM.

Hal senada disampaikan Remmy Novaris DM. Satu hal yang membuatnya berkesan, Mas Jose seperti “orang tua” bagi banyak seniman. “Saya sering pinjam uang, dan ketika dikembalikan, ternyata Mas Jose lupa,” kata Ketua Dapur Sastra Jakarta (DSJ) itu.

Sementara Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) Riri Satria menuturkan kekagumannya pada daya ingat terhadap isi buku yang pernah dibaca.

“Saat awal-awal ke TIM, saya sering beli buku ke sini (Bengkel Deklamasi). Mas Jose, yang saat itu belum saya kenal, sering memberikan saran tentang buku yang ingin saya beli. Begitu banyak buku, Mas Jose hafal isinya,” tutur Riri.

Sri Kustiah yang akrab disapa Ncik, mengungkapkan kebanggaannya karena banyak mendapat ilmu dari Jose yang berguna bagi kariernya sebagai pendidik. Sementara Lily Siti Multatuliana justru mengenal Jose setelah diberitahu rekannya dari Malaysia.

Semangat Berkesenian

Dalam sesi refleksi, Jose Rizal Manua menuturkan perjalanan hidupnya yang panjang dan berliku di panggung pertunjukan.

Di hadapan para sahabat, Jose menuturkan bahwa mental dan ketahanan fisiknya dibentuk lewat gemblengan keras dua maestro teater Indonesia, Putu Wijaya dan WS Rendra. Bergabung dengan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya pada 1975, Jose harus menjalani latihan maraton dari jam 12 malam hingga 5 pagi, tujuh hari seminggu.

“Tidak jarang kami harus berjalan kaki dari Cikini menerobos perkampungan menuju Ancol hanya untuk berlatih, setiap hari,” ujar Jose.

Pengalaman tak kalah ekstrem ia dapatkan saat bergabung dengan Bengkel Teater Rendra pada 1977. Di bawah arahan Rendra, latihan digelar tiga kali sehari, dari sehabis Subuh hingga larut malam. Salah satu penggemblengan fisik yang paling membekas adalah saat para pemain diminta berjalan tanpa alas kaki dan bertelanjang mata terpejam sejauh 24 kilometer menuju Selarong pada tengah malam.

Gemblengan ketat itu membuahkan hasil manis. Jose mendominasi ajang lomba baca puisi tingkat nasional sejak 1981 hingga 1986, termasuk menyabet Piala Ibu Tien Soeharto di Monas. Saking seringnya menyapu bersih gelar juara pertama, senior-seniornya seperti Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri akhirnya meminta Jose berhenti bertanding dan beralih menjadi juri. Secara mengejutkan, setelah 34 tahun hiatus bertanding, Jose kembali menjajal Lomba Baca Puisi Berbusana Nusantara tingkat nasional pada era pandemi COVID-19 tahun 2020 dan kembali menyabet juara pertama di antara 1.500 peserta lebih.

Jose mengungkapkan, kunci keunggulannya terletak pada ingatan dan pemahaman estetika pembacaan. Berpegang pada nasihat Sutardji Calzoum Bachri, Jose selalu menghafal naskah di luar kepala. Bagi Jose, pembacaan puisi yang utuh tidak mengenal istilah “jeda”, melainkan “kesenyapan”, sebuah ruang hening yang menjadi bagian organik dari ekspresi puisi itu sendiri.

Memasuki usia 72 tahun, kiprah Jose di level internasional juga masih menyala. Saat ini, tim teaternya terpilih mewakili Asia dalam Festival Teater Anak Dunia di Spanyol yang diikuti oleh 8 negara lolos seleksi dari total 30 negara penderet/pendaftar. Meski menghadapi rintangan finansial dan keterbatasan sponsor jelang keberangkatan pada awal Oktober mendatang, Jose berkomitmen untuk tetap berangkat, bahkan jika harus berpatungan secara mandiri demi membawa nama baik Indonesia.

Perjalanan panjang tersebut ia rangkum dalam sebuah prinsip berkesenian yang membumi: tidak membenarkan yang salah tanpa memelihara kebencian, serta senantiasa merenung seperti gunung dan bergerak seperti ombak, terus mengolah daya cipta meski dalam diam, dan terus menerjang tuntas hingga cita-cita menyentuh tepi pencapaian.

\

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait