Bengkel Sastra, Lahirnya Generasi Penyair Muda Lampung

PojokTIM – Kepenyairan Lampung kembali bangkit. Provinsi yang pernah disebut Nirwan Dewanto dalam Cakrawala Sastra Indonesia sebagai “Lumbung Penyair” ini sempat mengalami vakum regenerasi.

Kini, melalui kegiatan Kemah Sastra 2026 yang dilanjutkan dengan Bengkel Sastra—ditaja oleh Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS pada 25–28 Agustus—kebangkitan kepenyairan Lampung benar-benar terwujud. Acara yang diisi oleh pemateri Nanang R. Supriyatin (Jakarta), serta Ari Pahala Hutabarat dan Isbedy Stiawan ZS (Lampung) ini diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat sastra se-Lampung yang diinapkan di Villa Dangau Kedaung, Bandar Lampung.

Berikut adalah puisi-puisi dari 5 penyair muda Lampung. Selamat menikmati. (nrs)

 

Alvindo Saferli

PANGAN BALAK

 

Puyang menanam pusaka

Pangan Balak*)

Dua kata dibawa angin

Menebar rindu, meredam segala resah

 

Daun pisang digelar di atas tikar

Tawa tanpa perlu aba-aba

Kisah lawas diurai kembali

Hangat saudara melekat di hati

 

Bandar Lampung 2026

 

*) pangan balak dalam bahasa Lampung, artinya makan besar

Alvindo Saferli merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, FKIP, Universitas Lampung. Ia aktif sebagai Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan SEKUBAL FKIP Universitas Lampung serta anggota Komunitas Wikimedia Bandar Lampung. Alvindo memiliki ketertarikan terhadap sastra dan budaya Lampung serta berkomitmen untuk turut melestarikan dan mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Lampung.

 

 

Dzafirah Adeliaputri Isbedy

SENJA DAN BAYANGMU

 

Ombak di senja ini

angin selatan melambai

matahari mulai resah

meninggalkan bayangmu

 

Jingga lembut warnai lautan

angin mengusir sisa hangat

yang tertinggal sejuk

pelan mendekapku

 

Di tepi pantai aku sendiri

menatap senja yang larut

wajahmu kian hantu

pada raungan ombak

 

Aku kenang setiap langkahmu

lirih namamu dalam debur

abadi wajahmu dalam debar

 

sampai angin mengantar lagi rindu

kala senja dan bayangmu berenang

 

Pada senja ini aku seperti

memburu tiap bayangmu

dalam deru ombak

di jejak pantai ini, berulang

 

2026

Dzafirah Adeliaputri Isbedy, lahir di Bandar Lampung, 1 Juli 2011. Siswa kelas X SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan (MuAD) Metro ini lulusan SMP MuAD yang telah menggemblengnya sebagai pembaca puisi dan menulis karya puisi dan cerpen.

Karya puisinya bertema Kartini terpilih sebagai harapan Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional. Puisinya juga masuk antologi puisi terbitan SMP MuAD Metro, Segitiga Kota, Pantai, Kenangan dan antologi puisi nasional, Kembara, terbitan TBM Kembara di Sumatera Barat.

Pada peluncuran buku Puisi 68 karya Isbedy Stiawan ZS di PDS HB Jassin, 15 Juli 2026, Dzafirah turut membacakan puisi “Hanya” bersama para seniman senior Indonesia.*

 

 

Arifatul Mukaromah

BARA TAK BERNAMA

 

Pernah aku jadi langit tanpa biru

menelan gelap sampai cahaya

menjadi semu

 

Mimpi gugur tanpa suara

harapan patah tanpa nama

Sejak itu, langkahku kehilangan arah

duniaku memilih diam

jiwaku belajar pasrah

 

Namun fajar datang perlahan

membuka luka yang

kusembunyikan

Barangkali lara bukan akhir

hanya bara yang belum berakhir

 

Kini aku tak mencari cahaya

sebab nyala telah tumbuh di dada

Biar ia mengira aku pernah pekat

aku tahu—bara tak pernah

benar-benar padam

Arifatul Mukaromah (lahir 2006) merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Bandar Lampung. Ketertarikannya pada dunia seni tumbuh sejak 2019, kemudian berlanjut ke dunia teater pada 2021 dan sastra pada 2024. Baginya, menulis adalah cara mengabadikan rasa, menyampaikan cerita, dan menemukan makna dalam setiap perjalanan hidup. Setelah berkontribusi dalam buku antologi esai, kini ia kembali hadir melalui buku antologi puisi sebagai langkah keduanya dalam perjalanan berkarya melalui setiap tulisannya. Arifatul berharap setiap pembaca dapat menemukan sepotong cerita yang terasa dekat dengan dirinya.

Instagram: @arifatul

 

—-

 

Nazifa Ghassani

AKU INI PEREMPUAN

 

Sayang, aku ini perempuan

parasku elok

serupa mawar segar

yang baru mekar

 

Sayang, aku ini perempuan

menetapku di dapur

alat masak memekik

bumbu-bumbu merenung

 

Sayang, aku ini perempuan

tak lagi menetap di dapur

bersama alat masak patuh ucapanmu

aku tak lagi mawar penutup kaca

kau perlu tahu, kacanya telah pecah

 

Sayang, aku ini perempuan

ketenanganku tak lagi mengeluh;

perihal kau

tubuhku tak lagi memekik

menghardik tangan-tangan sialan itu

 

Nazifa Ghassani atau biasanya disapa Zizi lahir di Metro pada 22 Februari 2011, ia tumbuh dan berkembang di Metro. Zizi adalah siswi SMA yang berasal dari SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Sejak kecil, ia hobi membaca buku dari berbagai penulis dan berbagai genre. Ia juga hobi menulis, namun karyanya tak pernah ia publikasi, hanya sekedar hobi. Zizi juga pernah berpartisipasi dalam kekgiatan Bengkel Sastra yang diadakan oleh Lamban Sastra Lampung.

 

 

M. Ichsan Zulkarnain

SEPERTI CERMIN DILETAKKAN DI JALAN

 

Hujan turun sejak subuh

membasahi genting dan halaman

air mengalir dari atap

dan jatuh ke tanah

 

Angin menggoyangkan ranting pohon

Daun-daun mengangkat wajah

menampung air di lekuk hijau

menyimpan bening hujan

 

Jalanan basah memantulkan lampu

Seperti cermin yang diletakkan di jalan

membawa suara subuh yang belum reda.

Langit menutup sisa gelap perlahan

Ichsan Zulkarnain, yang akrab disapa Ichsan atau Ican, lahir di Bandar Lampung pada 10 Maret 2007. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Sejak kecil, tertarik untuk mencoba berbagai hal baru. Sebab, pengalaman tidak selalu datang dari sesuatu yang besar, tetapi juga dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan mengenal sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Salah satu hobi Ican adalah bermain bulu tangkis.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, ia terus berusaha mengembangkan kemampuan, memperluas pengalaman, serta menemukan banyak hal baru yang dapat membentuk dirinya. Ia percaya bahwa setiap proses memiliki cerita dan setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk terus bertumbuh.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait