PojokTIM – Pengalaman pribadi merupakan sumber inspirasi bagi puisi. Sebab, puisi bukan hanya sekadar permainan atau mengindahkan kata. Puisi adalah cara penyair mengabarkan pengalaman dan kehidupan kepada khalayak.
Demikian dikatakan Nanang R Supriyatin saat menjadi pemateri Bengkel Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandarlampung, Rabu, 26 Agustus 2026. Selain Nanang, kegiatan yang didukung Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Balai Bahasa Provinsi Lampung juga menghadirkan Ari Pahala Hutabarat, Yinda Dwi Gustiara, serta Isbedy Stiawan ZS.
Menurut Nanang, puisi adalah cara penyair menyentuh kehidupan dengan kaya dan membangunkan jiwa yang tertidur. Oleh karena itu, ide puisi dapat berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan penulis.
“Pengalaman pribadi dapat diolah menjadi gagasan yang kemudian disampaikan melalui puisi,” ujar sastrawan yang telah mendapatkan penghargaan Apresiasi 40 Tahun Berkarya bidang Kesastraan dari Badan Bahasa.
Terlebih, demikian Nanang, bentuk puisi modern memberi kebebasan kepada penyair untuk mengembangkan gagasan dan bentuk. Puisi dibangun melalui kekuatan makna, kejujuran, keunikan metafora, serta pilihan kata atau diksi.
Dalam sesi tersebut, Nanang mengenalkan sejumlah unsur pembangun puisi, antara lain diksi, metafora, simile, dan berbagai perangkat bahasa lainnya.

Materi berbeda disampaikan Isbedy. Dengan tema “Puisi: Ide dan Proses” Paus Sastra Lampung itu mengajak peserta memahami proses kreatif penulisan puisi secara langsung, mulai dari menemukan ide, menentukan sudut pandang, hingga memilih dan mengolah kata.
Penyair yang dijuluki Paus Sastra Lampung itu memulai sesi dengan sebuah latihan. Ia meminta setiap peserta menyumbangkan dua kata yang berkaitan dengan lokalitas pantai, dengan suasana senja dan malam. Kata yang telah disebutkan peserta lain tidak boleh digunakan kembali.
Dari latihan tersebut terkumpul sekitar 40 kata, di antaranya sampan, layar, pantai, dan ombak. Kata-kata itu kemudian menjadi bahan bagi peserta untuk menyusun puisi sekurang-kurangnya satu bait.
“Hasilnya sangat membahagiakan, puisi-puisinya bagus!” ujar Isbedy.
Setelah bait awal selesai, Isbedy meminta peserta merapikan dan mengembangkan puisinya menjadi maksimal lima bait. Judul baru ditentukan setelah puisi selesai dikembangkan.
Para peserta diwajibkan menyerahkan dua atau tiga puisi bertema bebas sebagai hasil kegiatan Bengkel Sastra. Puisi tersebut selanjutnya akan dialihbahasakan ke bahasa Lampung dan diterbitkan dalam bentuk buku dwibahasa.
Diketahui, Bengkel Sastra diikuti 20 peserta yang lolos kurasi. Para peserta dinilai memiliki kekuatan estetik, lokalitas, serta refleksi remaja yang menjanjikan bagi masa depan regenerasi sastra di Lampung.
Menurut Ketua Pelaksana Bengkel Sastra 2026, Fitri Angraini, pemilihan peserta dilakukan melalui penjaringan secara terbuka.
“Naskah yang masuk diserahkan sepenuhnya kepada dewan kurator untuk dinilai, hingga akhirnya ditentukan siapa saja yang berhak mengikuti bengkel sastra ini,” ujar Fitri, yang juga Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.





