Nglurug tilas sikil, oyot umur
Senajan yakin belih pan ketemu sumur
Gemiyen ana ayang-ayang rai
Kileng-kileng nang banyu
Sing sokan tak inung sawise rayahan
Layangan pedhot
PojokTIM – Puisi berbahasa Tegal berjudul Ngetan Maning dibacakan dengan sedikit jenaka oleh penciptanya, Kurnia Effendi, di depan pengunjung dari beragam suku bangsa di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Meski tidak memahami isinya, pengunjung acara peluncuran buku puisi dwibahasa berjudul Bahasa Ibu Bahasa Darahku terbitan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), tetap antusias menyimak setiap baitnya.
Bukan hanya bahasa Tegal, LK Ara dan Salman Yoga membacakan puisi dalam bahasa Gayo, Boy Sulaiman dalam bahasa Padang, dan lain-lain. Ada juga penyair yang tetap menggunakan bahasa Indonesia, seperti Jose Rizal Manua dan Imam Ma’arif.
“Buku Bahasa Ibu Bahasa Darahku merupakan antologi puisi seri kelima,” ujar Ketua TISI, Octavianus Masheka.
Menurutnya, penerbitan antologi puisi karya puluhan penyair ternama itu merupakan wujud keinginannya untuk mendokumentasikan bahasa dari berbagai daerah dalam satu buku. Nantinya, buku-buku tersebut akan dikirim ke Badan Bahasa Kemendikdasmen untuk diseleksi dan digandakan sehingga dapat dinikmati oleh pembaca yang lebih luas.
“Saya sedih karena saat ini banyak bahasa daerah yang hilang dan punah. Penerbitan ini merupakan bagian dari upaya melestarikan bahasa daerah yang masih ada penuturnya,” ujar Octa.
Sementara itu, Ketua Cakra Setya 08, Joe Marbun, mengungkapkan sudah ada 12 bahasa daerah dari wilayah timur Indonesia yang punah. Penyebab utamanya adalah bahasa tersebut tidak lagi dirawat dan dipraktikkan oleh masyarakat setempat.
“Bahasa bukan sekadar kata. Bahasa merupakan wadah yang menyimpan falsafah hidup, nilai budaya, dan memori kolektif suatu masyarakat,” ujar Marbun.
Ia menawarkan empat solusi agar bahasa daerah tetap lestari. Pertama, adanya kebijakan pemerintah yang memproteksi bahasa, misalnya dengan menjadikannya sebagai muatan lokal dalam pendidikan setempat dan menyediakan anggaran yang memadai.
Kedua, memberikan dukungan kepada kegiatan komunitas yang concern pada pengembangan dan pelestarian bahasa daerah, seperti yang dilakukan TISI. Ketiga, perusahaan mendukung melalui alokasi dana CSR dan partnership. Keempat, setiap keluarga mengajarkan bahasa daerah kepada generasi penerus.

Pen0yair Aceh Salman Yoga saat tampil membacakan puisi berbahasa Gayo. Foto: Ist
Teknologi Vs Bahasa Daerah
Punahnya bahasa ternyata juga bisa disebabkan oleh pengaruh teknologi. Hal itu dikatakan Saut Poltak Tambunan saat menjadi narasumber dalam diskusi yang dipandu Swary Utami Dewi.
“Teknologi turut membunuh bahasa daerah. Sebagai contoh, hadirnya rice cooker menghilangkan kata tungku, air tajin, dan lain-lain dalam bahasa Batak,” ujar Saut.
Bahasa Batak Toba, menurut Saut, juga berpotensi mengalami kepunahan karena semakin banyak anak-anak yang tidak lagi menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Faktor lain yang menyebabkan punahnya bahasa daerah antara lain perpindahan penduduk ke wilayah yang menggunakan bahasa berbeda, urbanisasi, akulturasi lingkungan sosial, modernisasi, serta sistem pendidikan yang lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia.
Panelis lain, Eva Yenita Syam dari Badan Bahasa, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai cara untuk melindungi bahasa daerah, seperti pemetaan terhadap bahasa daerah yang sudah punah dan melakukan revitalisasi.
“Kami juga melakukan pelatihan atau pewarisan bahasa kepada anak-anak sekolah selama enam bulan. Hasilnya direkomendasikan kepada pemda untuk dijadikan muatan lokal.”
“Bahasa ibu harus tetap ada dalam diri kita meski kita merantau jauh,” ujar Eva.
Acara peluncuran buku dihadiri sejumlah sastrawan dan penyair, termasuk sejarawan Taufik Abdullah.





