Puisi dan Makna Sebuah Peradaban

Oleh Riri Satria

Sejak zaman Plato, pertanyaan tentang manfaat puisi telah menjadi bagian dari perdebatan panjang dalam sejarah pemikiran manusia. Pertanyaan itu terus bergema hingga hari ini, terutama ketika dunia semakin mengagungkan produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi.

Puisi tidak membangun jalan raya, tidak meningkatkan produksi pabrik, tidak menciptakan teknologi baru, tidak menemukan obat bagi penyakit yang mengancam kehidupan manusia, dan tidak menaikkan pendapatan nasional.

Puisi juga tidak akan menyebabkan harga minyak dunia turun, tidak akan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tidak akan mengatasi kelaparan di berbagai belahan dunia, tidak akan menambah stok pangan, serta tidak akan menyelesaikan persoalan pengangguran. Puisi tidak akan membuat teknologi menjadi semakin canggih atau mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Pertanyaan yang sama pun kembali muncul, untuk apa sebenarnya puisi jika manfaatnya tidak dapat diukur melalui berbagai indikator pembangunan?

Jawabannya justru terletak pada hakikat manusia itu sendiri. Manusia tidak hanya membutuhkan sandang, pangan, papan, teknologi, dan pekerjaan, tetapi juga membutuhkan makna, harapan, keindahan, dan ruang untuk memahami dirinya. Puisi hadir untuk mengisi ruang yang tidak dapat dijangkau oleh rumus, mesin, atau laporan statistik.

Puisi membantu manusia menemukan bahasa bagi kegelisahan, kehilangan, cinta, kerinduan, dan harapan yang sering kali tidak mampu diungkapkan melalui percakapan sehari-hari. Puisi mengingatkan manusia bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang dapat dihitung, tetapi juga tentang merasakan, memahami, dan memaknai pengalaman sebagai sesama manusia.

Peradaban yang besar tidak pernah dibangun hanya oleh ilmuwan, insinyur, ekonom, atau pengusaha. Peradaban juga tumbuh bersama para penyair, seniman, filsuf, dan budayawan yang menjaga nurani masyarakatnya. Teknologi memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengubah dunia, sedangkan puisi mengingatkan manusia tentang alasan mengapa perubahan itu harus dilakukan.

Ilmu pengetahuan memperluas batas kemampuan manusia, sementara puisi memperluas cakrawala empati, imajinasi, dan kebijaksanaan. Kemajuan material tanpa kepekaan hanya akan melahirkan masyarakat yang efisien, tetapi miskin makna.

Puisi mungkin tidak mampu mengenyangkan perut orang yang lapar, tetapi puisi dapat membangkitkan kepedulian yang mendorong manusia untuk memberi makan mereka yang lapar. Puisi mungkin tidak menciptakan lapangan kerja, tetapi puisi dapat menumbuhkan nurani yang melahirkan kebijakan dan tindakan yang lebih berkeadilan.

Puisi memang tidak dapat diukur dengan grafik pertumbuhan ekonomi atau laporan kinerja industri. Nilai puisi justru hadir dalam cara manusia memandang kehidupan, menghargai sesamanya, serta menemukan arti dari setiap pengalaman yang dijalani.

Bangsa yang hanya mengejar kemajuan material mungkin akan menjadi kuat, tetapi belum tentu menjadi bijaksana. Bangsa yang tetap memelihara sastra dan puisi sedang merawat jiwanya sendiri agar tidak hilang di tengah derasnya arus kemajuan zaman.

Peradaban yang sesungguhnya bukan hanya ditandai oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi atau teknologi yang semakin canggih, melainkan juga oleh kemampuan manusianya untuk tetap memiliki hati nurani, merasakan penderitaan sesamanya, serta memaknai kehidupan dengan lebih dalam.

Sains, teknologi, dan ekonomi membangun dunia yang kita tempati, sedangkan puisi membangun manusia yang akan menentukan seperti apa dunia itu dijalankan.

2 Agustus 2026

Riri Satria adalah penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi tunggal. Karyanya tersebar di berbagai media. Riri juga dikenal sebagai pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait