Octavianus Masheka saat memberikan sambutan. Foto: PojokTIM
PojokTIM – Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) secara resmi mendeklarasikan dukungannya bagi sastrawan senior Taufiq Ismail untuk meraih penghargaan Nobel Sastra 2027. Langkah ini sejalan dengan gerakan yang sebelumnya telah digaungkan oleh Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI).
Deklarasi tersebut bertepatan dengan peluncuran antologi puisi karya 81 penyair berjudul Merdeka Katamu di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026). Suasana ikrar dukungan berlangsung khidmat ketika Ketua TISI, Octavianus Masheka (Octa), memimpin pembacaan deklarasi yang diikuti serentak oleh seluruh hadirin.
“TISI berharap Pak Taufiq menjadi penerima Hadiah Nobel pertama dari Indonesia,” tegas Octa.
Mengenai buku Merdeka Katamu, Octa menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat karena penyair senantiasa merespons berbagai dinamika zaman, mulai dari isu budaya, politik, hingga fenomena alam. Menurutnya, penyair adalah salah satu mata zaman dan buku ke-18 terbitan TISI ini hadir untuk merefleksikan hal tersebut.
Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono dalam sambutannya mengatakan saat ini alam sedang memberi tanda seperti babak Goro-goro dalam pewayangan.
Menariknya, di tengah kekacauan itulah muncul Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng Petruk, dan Bagoing, kehadirannya untuk mencairkan suasana. Menyampaikan kebijaksanaan dan keberanian yang terkadang untuk menertawakan diri sendiri.
“Itulah makna Punakawan. Apa penyair menjalankan peran yang sama? Sebab penyair selalu bisa menyuarakan kejernihan suara di tengah kebisingan, di tengah guncangan,” ujarnya.
Nasrudin yang hadir bersama istri, mengingatkan kemerdekaan bukan kata benda, melainkan kata kerja yang terus disuarakan untuk mencapai tujuan hakikinya.

Taufiq Ismail. Foto: PojokTIM
Dukungan terhadap pemajuan kebudayaan ini turut mendapat apresiasi dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui sambutan video. Politisi Partai Gerindra tersebut menyampaikan bahwa penerbitan antologi puisi karya 81 penyair ini merupakan langkah nyata dalam terus mendorong dan merawat ekosistem kebudayaan nasional.
Rangkaian acara dengan pewara Swary Utami Dewi, diisi sesi diskusi sastra yang dipandu moderator Ewith Bahar, menghadirkan panelis Helvy Tiana Rosa serta Esha Tegar Putra dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Suasana kian semarak dengan pembacaan puisi oleh Taufiq Ismail, Jose Rizal Manua, serta puluhan penyair lintas generasi.
Acara yang juga dihadiri oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri ini dipadati oleh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Banyaknya mahasiswa yang hadir membuat suasana terasa seperti ruang perkuliahan terbuka.
“Mata kuliah sastra pindah ke sini,” canda Helvy Tiana Rosa, yang juga merupakan dosen UNJ, disambut tawa hadirin sebelum ia membacakan puisinya.





