Malakah Sastra Tutup Rangkaian Pelataran Sastra Kaliwungu

PojokTIM  – Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan sastra dan teater kembali terlihat dalam gelaran Malakah Sastra 2026 yang diselenggarakan Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di Perpustakaan Daerah Kendal, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian program Pelataran Sastra setelah sehari sebelumnya menggelar lokakarya literasi bertema ekonomi kreatif.

Mengusung dua kelas utama, yakni Lokakarya Penulisan Naskah Lakon dan Malakah Keaktoran, kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore hari di Ruang Pertemuan dan Ruang Audio Visual Perpustakaan Kendal. Sekitar 60 peserta dari berbagai kalangan mengikuti pelatihan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga pekerja yang memiliki minat terhadap dunia sastra dan teater.

Lokakarya tersebut merupakan tahapan awal menuju Festival Teater Pelajar Piala Sri Murtono, sebuah agenda yang bertujuan memperkenalkan tokoh teater asal Kendal, Sri Murtono, sebagai pendiri Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta kepada masyarakat luas.

Ketua panitia sekaligus Sekretaris Jenderal Pelataran Sastra Kaliwungu, M. Lukluk Atsmara Anjaina, menjelaskan bahwa festival dirancang melalui proses pembinaan yang berjenjang.

“Festival ini tidak hanya menghadirkan pementasan. Kami memulai dengan lokakarya penulisan naskah lakon dan keaktoran, dilanjutkan kurasi karya berupa video yang dikirim peserta, kemudian ditutup dengan tahap apresiasi atau public exposure,” ujarnya.

Kegiatan menghadirkan dua praktisi teater sebagai narasumber, yakni Akhmad Sofyan Hadi (Iyan), pendiri dan sutradara Teater Atmosfer, serta Daniel Exaudi Gultum, sutradara teater yang telah lama berkarya di panggung nasional.

Menurut Iyan, tingginya minat peserta menjadi kejutan tersendiri bagi penyelenggara. Jumlah pendaftar bahkan melebihi kuota yang telah ditentukan sehingga panitia terpaksa membatasi peserta.

“Pesertanya sangat beragam. Ada yang masih sekolah, mahasiswa, sudah bekerja, bahkan beberapa di antaranya sudah terbiasa menulis dan mengajar. Latar belakang mereka berbeda sehingga penyampaian materi juga harus disesuaikan,” katanya.

Ia menilai antusiasme peserta terlihat hingga sesi diskusi penutup. Banyak peserta yang sudah mampu memahami dasar penyusunan premis dan menunjukkan minat untuk terus mengembangkan kemampuan menulis naskah drama.

“Di sesi tanya jawab saya melemparkan latihan membuat premis. Respons peserta luar biasa. Mereka sudah mulai memahami arah pengembangan penulisan naskah lakon ke depan,” ujar Iyan yang juga Direktur Artistik Jarak Dekat Art Production.

Tingginya minat masyarakat juga diakui panitia. Lukluk bersama Bendahara PSK, Chadori Ichsan, mengatakan masih banyak calon peserta yang ingin mengikuti pelatihan meski tidak memperoleh fasilitas karena keterbatasan kuota.

Sementara itu, di kelas keaktoran, Daniel Exaudi Gultum melihat potensi besar dari para peserta meski sebagian masih tampak malu-malu saat berlatih.

“Potensi mereka bagus. Tinggal menemukan ruang yang tepat untuk terus belajar dan berlatih agar kemampuan itu berkembang,” katanya.

Daniel juga mengapresiasi langkah Pelataran Sastra Kaliwungu yang mempertemukan dunia literasi dengan seni pertunjukan.

“Agenda ini menarik karena sastra dan keaktoran berjalan berdampingan. Keduanya saling mendukung dan menjadi ekosistem yang sehat bagi tumbuhnya kreativitas generasi muda,” terangnya.

Bagi peserta, pelatihan tersebut menjadi pengalaman berharga. Grenndy Satrio Aji mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai teknik penulisan naskah drama.

“Saya belajar bagaimana mencari ide, menyusun alur cerita, membangun dialog yang hidup hingga menciptakan konflik dalam naskah. Semua dijelaskan dengan sabar sehingga sangat membantu,” tuturnya.

Peserta kelas keaktoran, Udin dari Kendal Book Circle, menilai penyelenggaraan kegiatan di Perpustakaan Daerah Kendal memberikan pesan bahwa perpustakaan kini bukan hanya ruang membaca, tetapi juga ruang kolaborasi komunitas dan pengembangan kreativitas masyarakat.

“Kegiatan seperti ini membuat masyarakat melihat perpustakaan sebagai ruang hidup bagi komunitas untuk berkarya dan belajar bersama,” katanya.

Melalui Malakah Sastra 2026, Pelataran Sastra Kaliwungu tidak hanya menutup rangkaian lokakarya tahun ini, tetapi juga menegaskan komitmennya membangun regenerasi sastra dan teater di Kendal. Tingginya antusiasme peserta menjadi sinyal bahwa ruang-ruang kreatif berbasis komunitas masih sangat dibutuhkan sebagai tempat lahirnya penulis naskah dan aktor-aktor muda yang akan menghidupkan panggung teater di masa mendatang. (Haniek)

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait